Dawuh Mbah dan Mencari Arah Best Situbondo Carnival

Oleh: Ahmad Sufiatur R.
Dawuh Mbah di kampung. "Orang diam akan mendapat kritik, orang berjalan pun akan mendapat kritik. Lumrah, namanya juga manusia tak ada yang sempurna."
Udara di dalam ruang aula Dinas Pariwisata di jalan PB. Sudirman di Situbondo, terasa pengap. Langit di luar jendela cukup cerah. Bunyi dari kipas angin besar terdengar di antara suara-suara dari panitia persiapan Best Situbondo Carnival yang bergema di dalam ruangan. 
Ini kedua kalinya saya dihubungi untuk terlibat dalam even BSC. Berbagai argumen dan wacana pun mengalir tumpang tindih dari konsep-konsep yang dilemparkan pada rapat itu. Mengingat BSC tahun lalu berhasil menarik animo masyarakat dan mendapat tanggapan cukup positif. Namun, tentu saja kritik dan suara-suara sumbang pasti ada.
Entah kenapa pikiran saya menerawang kemana-mana, demi mencari ide dan menyumbang konsep untuk BSC tahun ini. Entah kenapa, saya teringat kepada dawuh Mbah di kampung. "Orang diam akan mendapat kritik, orang berjalan pun akan mendapat kritik. Lumrah, namanya juga manusia tak ada yang sempurna."
Mengingat hal itu, maka saya tak heran jika BSC pun akan mendapat respon positif dan negatif, sesuatu yang lumrah adanya. Listrik pun dapat terjadi karena adanya arus negatif dan positif, karena itu terjadi energi yang dapat digunakan untuk menghasilkan sebuah gerakan. Begitu pula dengan nafsu, ambisi, hasrat, impian, cita-cita, dan prestise, dengan nafsu yang negatif dan positif tentu haruslah dapat diarahkan ke jalan yang benar. Nafsu mutmainah (damai), nafsu yang damai dan dapat dikendalikan.
Dengan tidak bermaksud menggurui, karena sesungguhnya manusia diberi bakat untuk menjadi guru, setidaknya bagi dirinya sendiri. Intinya saya orang baru di BSC, baru terlibat satu kali dan yang kedua kalinya masih proses. Tentu konsep sebenarnya dari BSC juga belum bisa saya tangkap seluruhnya. Hal pertama yang saya pahami adalah BSC berusaha mengenalkan potensi yang ada di Situbondo, termasuk bahan kerang, nilai religi, potensi wisata dan slogan kotanya. Karena itulah, kemarin diskusi pemilihan tema BSC tahun ini cukup memeras pikiran. Beberapa kali mengubah konsep tema. Dengan mendengar saran, komentar, dan tanggapan masyarakat, maka pemilihan tema tahun ini lebih mengangkat tema lokal sekaligus tema universal. Maka dipilihlah konsep Baluran sebagai tema besarnya. Sesuai saran dan arahan dari seseorang yang dipercaya dan diutus oleh pemimpin daerah, maka berbagai pertimbangan pun disampaikan. Dengan poin-poin penekanan pada BSC yaitu sebagai berikut:
  1. BSC diharapkan mengangkat tema-tema lokal yang dapat memperkenalkan potensi yang ada di Situbondo.
  2. BSC diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat kecil dan menengah. Menarik investor dan meningkatkan produk lokalnya.
  3. BSC diharapkan dapat membantu meningkatkan potensi wisata di Situbondo.
  4. BSC diharapkan dapat menjadi media bagi pemuda-pemuda kreatif di bidang desain, fashion, seni rupa, koreografi, dan musik etnik yang lokal.
  5. BSC diharapkan dapat mencerminkan bahwa Situbondo sesuai dengan slogannya yaitu sebagai kota religi karena itu slogannya SANTRI (Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapi, dan Indah), dan sebagai bumi shawalat nariyah.
Dari poin-poin yang digulirkan pada rapat panitia persiapan BSC tersebut, tentu saya sangat setuju jika BSC lebih mengangkat tema lokal yang cukup kuat menggambarkan jati diri Situbondo.
Diharapkan di tahun depan, tema-tema lain juga dieksplorasi. Misalnya, tema pesantren, tema pahlawan revolusi, dan tema-tema lain yang mengangkat potensi wisata, tradisi dan budaya yang dikemas dengan lebih kreatif. Jika potensi alam, potensi wisata, dan potensi budaya tidak dikelola dengan baik maka niscaya akan diambil alih oleh pihak luar, para kreatifnya akan lari ke luar kota karena tidak mendapat apreasiasi, dan kota pun akan mengalami kemunduran tanpa orang-orang kreatifnya.
Maka akhir dari rapat panitia BSC menghasilkan buah pemikiran tema tahun ini yaitu The Sacredness of Baluran, dengan berakar pada nilai kearifan lokal dan nilai Islami yaitu surah Al-Hajj ayat 18 yang terjemahannya berbunyi: Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan  barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. 
Maka potensi wisata di Baluran berusaha diangkat dalam tema BSC tahun ini. Baluran sebagai potensi wisata yang sudah dikenal nasional sebagai hutan lindung dengan julukan Africa Van Java memiliki banyak keanekaragaman flora dan fauna yang khas dan nilai sejarahnya. Saya tidak membahas lebih jauh tentang Baluran karena tulisan ini akan lebih panjang lagi.
Kesimpulannya, sebagai orang baru di BSC, tentu saya berharap besar bahwa BSC dapat mengangkat Situbondo agar dapat meningkatkan taraf hidup warganya agar lebih baik lagi.
Seperti dawuh Mbah di kampung. "Kalau semua orang mau bekerja sama dan saling mendukung untuk kemajuan daerahnya, maka jika sudah maju, kita-kita juga yang akan mendapat berkahnya."
Situbondo 28 Agustus 2017
___
Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) lahir di Situbondo. Suka berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama kawan-kawannya.
Sumber foto: Dokumen panitia BSC 2017 ketika acara sosialisasi tema BSC: The Sacredness of Baluran di Pendopo, Situbondo.
Dawuh Mbah dan Mencari Arah Best Situbondo Carnival Dawuh Mbah dan Mencari Arah Best Situbondo Carnival Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on Agustus 28, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar