Seberkas Kenangan dari Putra Daerah

Oleh: Ahmad Sufiatur R.
Bunyi roda sepeda ayah terdengar ketika memasuki pelataran rumah mewah itu. Rumah besar yang nampak pongah itu nampak sepi, tidak sebanding dengan besarnya. Sangat kontras dengan rumah-rumah di sekitarnya yang kecil, namun dihuni banyak anggota keluarga. Itu pertama kalinya, saya mendatangi seorang pemimpin sebuah daerah, dalam hati terbersit pertanyaan tanpa jawaban: inikah gambaran dari seorang pemimpin manusia? Jadi segalanya harus nampak besar dan mewah? Apakah ini gaya hidup yang dicontohkan pemimpin yang benar-benar memimpin rakyatnya? Apakah dibangun dari uang rakyatnya? Sampai sekarang saya tak menemukan jawabannya.
Waktu itu, saya menyadari, butuh waktu agak lama untuk bertemu dengan pemimpin rakyat. Saya dan ayah saya harus melapor kepada sekuriti dan menunggu.
Ketika akhirnya kami bertemu dengan pemimpin daerah, hanya pertemuan singkat saja.
"Anak saya memenangkan lomba di Jakarta, dan mendapat undangan untuk kepala daerah agar hadir untuk menerima piala di Jakarta. Semua biaya akomodasi sudah ditanggung dari panitia lomba di Jakarta," ujar ayah dengan wajah yang berseri-seri.
Tanpa basa-basi, kepala daerah itu menjawab. "Oh, jadi mau meminta sumbangan?"
"Semua biaya sudah ditanggung panitia di Jakarta," ulang ayah. " Kami ke sini hanya menyampaikan undangan. Bukan meminta sumbangan." Ayah masih nampak santun. Beliau mengangsurkan surat undangan itu.
"Wakil saya nanti yang ke Jakarta," pungkas pemimpin daerah itu, lalu mengakhiri pertemuan singkat itu.
Kami pun pamit. 
Saya melangkah keluar dari pelataran rumah mewah itu dengan perasaan yang campur aduk. Waktu itu, saya masih SMA. Belum banyak paham tentang situasi dan kondisi di daerah saya sendiri.
Dengan susah payah, saya pun dapat berangkat ke Jakarta memakai biaya pribadi. Saya berangkat sendirian dengan kereta dari Surabaya. Sedangkan, wakil pemimpin daerah itu juga berangkat di hari yang sama.
Ketika penyerahan piala dan piagam di hotel Bidakara, Jakarta, saya hanya bertemu satu kali dengan wakil pemimpin daerah itu, yaitu ketika naik ke atas podium. Wakil pemimpin daerah itu juga mendapat piala dan piagam. Hanya ketika itu saja, setelah itu, saya tidak pernah bertemu lagi dengan wakil ataupun pemimpin daerah itu.
Rasa kecewa saya sedikit terobati karena masih menginap di hotel Bidakara untuk beberapa hari. Mengikuti acara yang dikemas apik dari rangkaian agenda acara. Bertemu dengan kenalan baru; para komikus, penikmat seni, pegiat budaya, di Jakarta.
Berat hati rasanya ketika berpisah dengan teman-teman baru.
Dalam perjalanan pulang dari Jakarta, kenangan itu terus membekas. Sampai sekarang. 
Sesampai di kota Situbondo, saya kembali merasa terasing. Ya, terasing di kota sendiri. Prestasi lomba di Jakarta seakan menjadi angin lalu di kota saya sendiri. Tidak ada kelanjutan apapun. 
Piala yang juga diberikan kepada pemimpin daerah, entah ada di mana, mungkin berada di sudut berdebu di gedung besar itu.
Namun, yang jelas, saya masih menyimpan piala dan piagam dari prestasi seorang putra daerah. Putra daerah yang pernah diabaikan pada tahun 2004, ketika saya masih SMA. 
Waktu pun berlalu. Dan kabarnya, sampai hari ini, masih saja ada kabar dari putra daerah yang berprestasi, namun makin dipersulit, dan masih harus mencari biaya sendiri, atau dibantu sekolah demi mengharumkan nama daerahnya sendiri. Saya yakin kisah ini juga terjadi di daerah lain di Indonesia. Mengingat bahwa bangsa ini mudah lupa dan mudah mengabaikan prestasi dan potensinya sendiri.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat sejarahnya.
Kota yang besar adalah kota yang mengingat jasa pahlawannya.
Manusia yang berjiwa besar adalah manusia yang mengingat sejarahnya. 
Jika mudah melupakan dan mengabaikan, sengaja atau tidak disengaja, pertanda bahwa masih memiliki jiwa dan pemikiran yang kerdil.
Masih ditemui sikap mental yang mengecilkan bangsa sendiri walau berada di daerah yang berpotensi kaya akan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia.
Saya mulai percaya, akhir-akhir ini, generasi muda dari kota saya, terus berproses dan makin berprestasi demi kemajuan daerahnya di segala bidang. Dengan atau tanpa dukungan dari pemerintah daerah, para pemuda yang berprestasi terus maju dan terus berkarya.
Situbondo 28 Agustus 2017
___
Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) lahir di Situbondo. Suka berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama kawan-kawannya.

Seberkas Kenangan dari Putra Daerah Seberkas Kenangan dari Putra Daerah Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on Agustus 28, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar