Film Animasi 'Your Name' : Ketika Berbagai Seni dan Industri Bersinergi (Sebuah Nostalgia)

Oleh: Ahmad Sufiatur R.

Ketika masih kuliah di kota Malang, saya dan kawan-kawan mendirikan studio komik dan animasi kecil-kecilan versi anak kosan. Walau serba terbatas, namun peralatan cukup memadai, dari mulai alat menggambar, komputer, scanner, sampai printer dan pentab, dibawa masing-masing ke dalam kamar kosan yang disulap menjadi studio kecil itu. Bahkan sampai kawan yang menjadi pengisi suara pun ada. Semua berawal dari hobi dan kecintaan. Di dalam studio itu, berbagai komik dan animasi pun dibuat. Berbagai kegiatan dari mulai acara budaya, pameran sampai festival animasi di kampus pun pernah kami ikut berpartisipasi. Cita-cita meneruskan membuat komik dan animasi dalam satu tim pun vakum seiring waktu. Apalagi ketika satu per satu kawan mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Setiap menonton animasi atau membaca komik. Kenangan akan studio kecil di kamar kosan itu selalu membayangi. Apalagi jika mendapati komik dan animasi yang digemari.

Untuk memahami seni rupa dalam komik dan animasi, bisa membaca buku Understanding Comic karya Scott Mccloud. Singkatnya, komik telah ada sejak zaman pra aksara atau pra sejarah, ketika manusia yang haus akan komunikasi melalui kisah melukis dinding gua, batu, dan akhirnya membuat hiroglif sampai tulisan simbolik dari Timur Tengah sampai Tiongkok, dari Mesir, Yunani sampai Barat, dan dimulailah era sejarah dari karya tulis.

Begitu mendengar tentang adanya animasi terbaru, baik 2D atau 3D, atau gabungan keduanya, selalu menggugah hati dan membuat terharu. Bagaimana tidak, berbagai seni rupa bersinergi dalam karya animasi itu. Dari mulai seni lukis, seni sastra, seni musik, sampai seni sinematografi, berdansa dengan apik dalam satu kesatuan adegan yang memukau. 

Dari banyaknya genre, tema dan judul animasi yang diproduksi, termasuk musik opening dan ending, belum lagi merchandise dan komiknya, maka tak heran jika industri animasi bisa setara dengan industri lainnya di dunia. Dari mulai Walt Disney sampai perkembangan animasi di berbagai negara, baik negara maju atau yang masih berkembang, yang memenuhi stasiun-stasiun TV, yang menjadi trend dan digemari dari anak-anak sampai orang tua mereka, maka animasi dengan sinergi seni di dalamnya mampu 'menyihir' masyarakat.

Berbagai level animasi pun berbagai macam. Dari yang mulai kejar tayang sampai yang idealis dan dibuat dengan ketelitian juga kesabaran yang sangat luar biasa. Khususnya animasi 2D (dua dimensi) yang masih digambar manual dan dilukis di setiap gambarnya. Belum lagi efek suara dan berbagai hal lain yang menguji kesabaran, ketelitian dan kreativitas seniman.

Dari awal dari perkembangan animasi, saya dibuat kagum oleh animasi buatan Walt Disney yang legendaris. Kemudian, dari Walt Disney menginspirasi Studio Ghibli dan berbagai industri animasi lainnya. Dapat dilihat kerajinan dan dedikasi tinggi para kreator melalui perpaduan gerak gambar animasi, lukisan latar, sinematografi dan ditambah musiknya yang ikut menjadi trend. Maka tidak heran jika aktor dan komposer dari musisi dunia pun ikut serta mengisi suara dan musiknya.

Di zaman digital ini, saya dibuat terkagum-kagum dengan berbagai perpaduan teknik animasi 2D dan 3D yang mengalami kemajuan. Termasuk efek prespektif tiga dimensi ketika dipadukan dengan lukisan dua dimensi. Teknik yang sebenarnya sudah dimulai sejak era keemasan Walt Disney. Kemudian diikuti berbagai animasi dari berbagai negara di dunia, dari Timur Tengah, Asia, Eropa, sampai Amerika yang memiliki teknik dan style animasi berbagai rupa.

Dalam perkembangan animasi di negara maju seperti Jepang. Memberikan sudut pandang baru sebagai negeri unik yang (ternyata) dapat 'menjajah' melalui seni dan budaya. Apalagi setelah bangkit dari berbagai musibah bencana alam maupun akibat dari perang dunia kedua itu. Perkembangan animasi dapat sejajar dengan industri lainnya. Dengan segala efek baik dan buruknya, ya, sama seperti efek baik dan buruk dari berbagai hal jika berlebihan dan di luar kendali. Dari berbagai sederet animasi, dalam film animasi Your Name (dirilis tahun 2016), saya kembali dibuat kagum. Sebelumnya, saya sudah dibuat terharu dengan film animasi yang dilukis dengan teknik ala Makoto Shinkai dibantu kawan-kawannya. Seperti anime (istilah animasi di Jepang) garapan sebelumnya, misalnya berjudul 5 cm per second, The Garden of Words, sampai animasi yang sukses skala dunia berjudul Your Name. Ketika menyaksikan alam pedesaan yang dilukis dengan teknik apik, saya teringat dengan karya-karya animasi dari Studio Ghibli, misalnya Spirited Away, My Neighbour Totoro, Ponyo, From Up on Poppy Hill, Princess Mononoke, Grave of The Fireflies, dan segudang animasi kelas dunia lainnya yang digarap Hayao Mizaki dan kawan-kawannya. Tingkat kesulitan pembuatan animasi 2D dan 3D memang berbeda, memiliki tantangan dan tingkat kesulitannya masing-masing. Pembuatan animasi 2D membutuhkan banyak sumber daya manusia, begitu pula animasi 3D jika menggunakan model manusia aslinya pun membutuhkan banyak sumber daya manusia.

Dalam film animasi Your Name, kita dapat melihat perpaduan berbagai kesenian di sana. Kisah cerita yang ditulis memiliki alur yang cukup rumit, namun berhasil dibuat sederhana karena memang ditargetkan untuk remaja. Kisah yang enak untuk diikuti, tidak terburu-buru, alurnya dapat mudah diikuti sekaligus tidak terlalu sederhana. Sebuah kisah yang bagus dapat menyederhanakan sesuatu yang rumit sehingga mudah dicerna oleh pembaca atau penonton. Mengenai teknik seni lukis, seni animasi, seni sinematografi, dan seni musik, berpadu dengan mengagumkan di film animasi ini. Setiap momen, setiap adegan, setiap alurnya, dapat diisi dengan efek suara (suara alam, dll) dan musik yang menggugah perasaan, sehingga penonton dapat larut di dalamnya. Teknik momen, adegan simbolis, dan kekuatan karakter sudah menjadi teknik standar di berbagai anime, misalnya anime Memories (yang terdiri dari tiga animasi berbeda termasuk judul Magnetic Rose), Bungaku Shoujo, Paprika (menginspirasi film Inception), Tokyo Godfathers, Ghost in The Shell, Witch Hunter Robin, Moribito Guardian of Spirit, Le Potrait de Petit Cossette dan segudang anime lainnya. Ditambah lagi jika dijadikan serial animasi, maka musik opening dan ending-nya menjadi puluhan banyaknya. Maka tidak heran, ada grup musik yang makin terkenal karena mengisi musik untuk anime yang sudah menjadi trend. Belum lagi jika anime diangkat menjadi film live action dan game. Tidak heran jika begitu komik laris, maka akan dibuat animasinya, musiknya, dan filmnya kemudian gamenya juga banyak bermunculan. Dan itu hanya terjadi di negara (yang sudah) maju saja. Sebutlah Iran dan bahkan Arab Saudi juga pernah membuat film animasi.

Mengenai cerita anime Your Name termasuk genre roman remaja dan fantasi. Walau konsep tentang tukar tubuh sudah banyak sebelumnya, namun anime ini mampu menyuguhkan kisah unik dua remaja yang bertukar tubuh setiap beberapa waktu ini dengan lebih menarik, dapat menyederhanakan kerumitan konsep tukar tubuhnya, dan orisinil. Kisahnya cukup akrab bagi pasangan yang lagi mengalami hubungan jarak jauh alias LDR (Long Distance Relationship). Bagi pecinta anime, tentu akan brebes mili alias nangis kalau nonton ini. Dari adegan awal, sudah disuguhi kisah yang membuat penasaran dan dapat mengalir tanpa tergesa-gesa sehingga nyaman untuk diikuti. Teknik lukis anime ala Makoto Shinkai di era digital painting, menginspirasi banyak seniman lukis digital. Untuk desain karakternya saya jadi teringat kepada style karakter dari Studio Ghibli. Bagi penonton yang menyukai drama, suasana, momen dan pembangunan penggambaran karakter, maka tidak akan membosankan mengikuti ceritanya. Memang, untuk mengikuti animasi yang minim aksi (berbeda dengan genre penuh aksi seperti Naruto, One Piece, dll) kita harus bersabar menikmati setiap momennya. Mengikuti lanskap, adegan, filosofis simbolik, dan kehidupan karakternya yang ditata sedemikian rapi dan teliti. Maka tak heran, jika animasi berkelas selalu dapat dikagumi, sepanjang waktu, bahkan seribu tahun lagi, animasi yang digarap dengan dedikasi tinggi akan tetap mengagumkan. Lalu, apa kekurangannya? tentu saja tergantung selera, jika drama maka akan lebih banyak momen membosankan jika penonton tidak bisa menikmatinya. Apalagi bagi yang tidak terlalu menyukai animasi dan memilih menonton tokoh 'asli' daripada yang sekadar gambar. Kalau saya, baik 2D, 3D, atau pun tokoh yang nyata pun sama-sama suka, asalkan ceritanya juga bagus dan digarap dengan dedikasi tinggi. Maka penggemar anime pun tak kalah fanatik dengan penggemar film barat ataupun film dari latin sampai film India, dari drama ala seribu satu malam sampai J-Pop (Japan pop) dan K-pop atau drakor (drama Korea).

Saya makin terharu, kapan Indonesia bisa membuat animasi yang menggambarkan keindahan alam dan khazanah budaya di Indonesia yang bahkan lebih banyak dari negara maju lainnya di dunia. Bahkan sumber daya manusia di Indonesia sudah terlibat berbagai pembuatan animasi di luar negeri, ikut bagian terlibat dalam melukis dan membuat karakternya, juga komik dan animasi luar negeri sering menggunakan Indonesia sebagai latarnya. Dan perkembangan animasi di Indonesia cukup baik, terutama komik dan game karya anak bangsa yang mendapat cukup apresiasi di dalam atau pun di luar negeri.

Sebaiknya kita menjawabnya dengan karya, ya, terus berproses untuk Indonesia :)

Situbondo, 19 September 2017

Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) senang berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama kawan-kawannya.


 Sumber foto: pinterest.com







Film Animasi 'Your Name' : Ketika Berbagai Seni dan Industri Bersinergi (Sebuah Nostalgia) Film Animasi 'Your Name' : Ketika Berbagai Seni dan Industri Bersinergi (Sebuah Nostalgia) Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on September 19, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar