Jember; Antara Literasi dan Kenangan

Setiap kali ingin singgah di Kota Jember, saya harus menarik napas dalam-dalam, ada kenangan yang siap-siap membuat sesak.
Oleh : Moh. Imron
Malam telah usai, suasana masih samar-samar. Saya melaju dari terminal Situbondo-Jember. Dalam perjalanan pagi itu, saya ingin sekali menuntaskan buku bacaan “Sekolah itu Candu”. Tapi mata terasa berat, semalam saya menyimak ketoprak Rukun Sejati, sekaligus panitia dalam serangkaian acara gebyar kemerdekaan. Saya masih beruntung terlelap sejenak kisaran pukul 02.00-03.00 WIB, setelah itu membersihkan sampah yang berserakan bersama sahabat-sahabat karang taruna.
Di sepanjang perjalanan, saya sempat tertidur lagi. Setiba di terminal Arjasa dijemput Gusti Trisno, sahabat saya. Hari sebelumnya memang sudah janjian. Ia telah menjadi ustaz di salah satu pesantren di Kota Jember, tapi masih jomblo. Sepertinya sahabat saya ini ingin menikah tanpa pacaran.
Hari itu, Minggu, 27 Agustus 2017. Adalah acara Blog Coaching Clinic; design, seo, analytics, cotent, monetize. Diselenggarakan oleh Blogger Jember Sueger dengan narasumber Mbak Shintaries dan Almazia dari Perempuan Blogger Network dan bertempat di Hotel Greenhill, Jember.
Saya bersama Trisno sudah tiba di lokasi, Trisno langsung berubah seperti power ranger; ia menggunakan jurus dari bersarung berubah menjadi bercelana, hiat.  
Sebuah ruangan yang begitu sejuk, tak lupa pula saya mengisi daftar hadir. Kemudian salah satu panitia memberikan stiker komunitasnya; Blogger Jember Sueger dan selebaran info ojek online di Jember.
Di ruangan itu, saya berjumpa Faisol, sebelumnya saya sering chating di facebook. Bahkan berencana bertemu tapi selalu terbengkalai. Meskipun satu kota, kami baru pertama bersua, maklum, Faisol sedang menimba ilmu di Jember.  Setahu saya, Faisol juga pernah menerbitkan buku kumpulan puisi. Ia juga menyerahkan kartu nama pada saya.
Saya memilih duduk di kursi deretan nomer dua; dari depan, sebelah kiri. Trisno dan Faisol duduk di belakang saya. Untungnya ada seorang lelaki yang mengajak saya berbicara, kalau tidak bisa jadi saya akan berdiam diri dan menghabiskan melamun, menelusuri kenangan di Kota Jember. Lelaki itu juga menyerahkan sebuah kartu nama, Ahmad Danial.
Tak lama kemudian di sebelah kanan saya duduk dua orang perempuan, entah siapa namanya. Bukan tak mau berinteraksi, hanya saja tubuh saya masih letih, mata terasa berat, terlebih dengan padatnya aktivitas. Saya memilih diam sembari menunggu acara dimulai. Saya pun larut pada dunia entah di mana.
Acara dimulai...
Saya menyimak pemaparan dari Mbak Shintaries. Saya suka tampilan materi di layar monitor, begitu juga cara penyampaiannya. Simpel dan tidak bertele-tele. Ini pengalaman pertama saya dalam mengikuti kegiatan diskusi blog terutama dalam sebuah forum yang serius. Sebelum-sebelumnya saya hanya belajar menulis konten; baik fiksi maupun non fiksi. Sementara untuk kelola sebuah blog, saya belajar otodidak. Hari itu menjadi momen yang berharga. Sebelumnya memang banyak materi yang sudah saya kuasai, tapi ada rahasia-rahasia dan tips penting tentang mengelola blog. Ini menarik.
Tiba giliran Mbak Almazia yang juga berbagi pengalamannya,bisa dikatakan melengkapi dari apa yang disampaikan Mbak Shintaries. Sempat juga disindir ketika jaman alay. Saya teringat ketika blog didesain turun salju, daun berguguran, teks mengikuti kursor, ganti kursor, animasi pojok, memelihara ikan, burung twitter terbang dst. Konyol.
Memang bermacam-macam alasan kenapa harus menulis. Ketika saya ingat sosok yang sangat menginspirasi, Titho Adi Soerjo seperti yang jelaskan dalam buku Sang Pemula karya Pramoedya Ananta Toer, menjadikan media yang pertamakali ia gagas di Indonesia sebagai alat untuk melawan penjajah. Mungkin kondisi zaman sekarang sudah berbeda dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknlogi yang semakin pesat dan menuntut untuk selalu kreatif. Terlebih dengan maraknya berita hoax dan kriminal memang perlu adanya penyeimbang dengan konten bagaimana rasanya ditinggalkan kekasih eh maksudnya konten yang bisa menginspirasi meskipun baper. Jadi apapun motivasi dan medianya yang terpenting adalah bermafaat bagi pembaca. Setidaknya di acara itu bisa membangkitkan semangat saya dalam menulis. Apa yang saya peroleh, pasti saya tularkan dengan pegiat-pegiat blog di Situbondo.
Waktu berlalu begitu cepat, sesi berikutnnya acara santai; penerimaan hadiah kuis, foto-foto dan makan-makan dan tentunya ngobrol-ngobrol santai. Dari pada banyak melamun, saya berusaha ngobrol-ngobrol dengan peserta yang hadir di sana. Yah menarik. Saya berusaha menyapa dengan perempuan di samping saya, usai makan. Dia cantik juga loh. Kepo. Semoga aja jomblo. Memang tidak banyak waktu, tapi saya sempat minta nama akun instagram. Nanti tak ceritakan lagi. Oh ya, Mbak Prita juga ngobrol-ngobrol dengan saya perihal agenda-agenda, durasi dan trsnaportasi yang digunakan dari Situbondo-Jember. Saya hanya bercerita kalau naik bus. Tanggapan Mbak Prita saya sama saja naik odong-odong, hahaha.
Acara sudah usai. Saya tidak banyak waktu, untuk berlama-lama di sana sebab sore hari di Situbondo masih ada kegiatan kunjungan wisata sejarah dan sastra. Sebenarnya saya ingin menginap di pondoknya Gusti Trisno tapi harus diurungkan niat itu, padahal esoknya saya harus mengikuti acara lagi di Jember.
Esok harinya, pukul sembilan lebih beberapa menit.
Saya kembali lagi ke Jember dengan mengendarai sepeda motor, saya boncengan dengan Bapak Pemuda Situbondo, Marlutfi Yoandinas. Pendiri rumah baca Damar Aksara.
Cuaca cukup panas, saya tiba di basecamp Tegalboto. Pandangan saya tertuju pada sebuah tempat di mana menjadi pertemuan terakhir dengan kekasih saya. Saya harus diingatkan kembali oleh kenangan tentang sosok yang pernah mengisi lubuk hati sejak akhir tahun 2012. Di pertengahan 2016 saya berjumpa di sana. Ia terlihat semakin dewasa. Dia perempuan yang selalu saya sayangi walau bagaimanapun kondisinya. Saya selalu berusaha bertahan. Setahun setelah pertemuan itu, saya LDR dengan dia berbagai pertimbangan. Dan pertemuan itu adalah pertemuan terakhir. Saya tak mampu lagi menguras ingatan terlalu dalam. Itu menyakitkan.
Saya pun melanjutkan ke salah satu ruangan. Sebuah banner bertuliskan Fokus Group Discussion "Sastra Pesantren dan Potensinya Menjadi Media Anti Radikalisme di Indonesia. Aula Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Senin, 28 Agustus 2017.
Saya bersua dengan Yongki. Kemudian ada Mbak Hat dan Irana yang menulis buku Spiritual sebagai Localpoeic dari Komunitas Sastra di Daerah Tapal Kuda, dan saya duduk di barisan kedua dari depan. Di ruangan itu penuh dengan para mahasiswa dan siswa SMA sederajat. Saya pun menyimak dari pemaparan para pemateri.
Rupanya pikiran saya tidak bisa fokus. Kenangan memaksa saya untuk mengingat tentang kekasih saya. Sebenarnya saya berusaha memberontak. Saya berusaha mengingat kejadian-kejadian lainnya. Ketika saya menghadiri event battle dance; bboy dan allstyle di berbagai tempat di Kota Jember. Ketika mengunjungi wisata. Ketika menghadiri kawan yang wisuda. Ketika berjumpa dengan sahabat-sahabat. Ketika nongkrong di cafe. Ketika singgah di kampoeng baca. Ketika menonton seni pertunjukan. Ketika berdiskusi dengan penggiat sastra timur Jawa. Tapi saya kalah. Saya tetap teringat kebersamaan bersama kekasih saya. Tapi terkadang mengingat kisah masa lalu adalah  upaya membangun kembali harapan-harapan yang pernah tumbang. Oh Tuhan. Semoga semuanya akan baik-baik saja.
Gak terasa acara telah usai. Barangkali hari ini saya belum ngopi. Saya langsung menuju kantin. Mas Lutfi sedari tadi memilih nongkrong. Ada Mas Panakajaya, Mas Tata, Mas Yongki juga ke sana dan Saddam Hussein. Melalui Saddam saya banyak diskusi soal literasi termasuk media-media online.  Sekilah pertemuan itu saya sempat membaca tulisan Saddam di majalah Ideas tentang teman saya sendiri, seniman dari Situbondo Tak terasa hari sudah sore. Dan saya berpindah tempat.
Sebuah dinding bertuliskan Samastha. Di sebelah kirinya bergambar vector Pramoedya Ananta Toer, di sebelahnya lagi ada tulisan “It's the will not the skill.” Di sebelahnya lagi WPAP Tan Malaka. Di tengah-tengah ruangan ada meja dan buku-buku untuk dibaca pelanggan. Sebuah cafe di Jember yang asik buat nongkrong dan pacaran. Di lantai dua, juga ada ruangan yang pas untuk berkesenian dan diskusi buku.
Saya kembali menikmati kopi. Kali ini adalah arabica, rupanya mampu menyelesaikan beban-beban pikiran dan kebuntuan padatnya aktivitas. Melaui kopi, saya dapat belajar pahit manis kehidupan. Tentang kebahagian dan kesedihan punya cara tersendiri untuk singgah di benak siapa saja. Melau kopi, bahwa segala perih dan tawa tetap harus dinikmati. Saya menyalakan rokok. Rupanya tak ada lagi yang membuat saya sesak.
Bintang-bintang bertamasya di langit malam. Saya beranjak pulang sekitar pukul sembilan malam. Berselimutkan angin. Ada sesosok yang mencoba mengejar saya.
***
Suatu waktu saya membuka instagram dan DM seseorang perempuan.
“Dik.”

“Iya.”
___
Tulisan ini saya persembahkan untuk Ahmad Zaidi, yang minta oleh-oleh cerita selama dua hari saya ke Jember.

Jember; Antara Literasi dan Kenangan Jember; Antara Literasi dan Kenangan Reviewed by Redaksi on September 18, 2017 Rating: 5

4 komentar

  1. wah, rupanya kenangan ttg Jember ada banyak rupa dan warna ya, Imron, haha. Semoga kl ke Jember lagi, udah ga sesak lagi ya, harus ganti warna :)

    Smg bermanfaat juga ilmu pas kopdar dgn Blogger Jember dan BP Network ya :)

    BalasHapus
  2. Aminnnn. Semoga. Terima kasih, banyak. Di lain waktu semoga bisa bersua lagi.

    BalasHapus
  3. Kenapa namaku dicatut seperti itu? Huuah.

    BalasHapus