Pameran: Ajang Pamer, Berjualan atau Sekadar Tontonan? (bagian pertama)

Oleh: Ahmad Sufiatur R.
Warna-warni stand nampak berjejalan di dalam satu tenda besar semi permanen. Hiruk pikuk suara tumpang tindih, diselingi bunyi musik yang berdentam-dentam. Sekat yang terbuat dari triplek nampak bergetar terkena resonansi musik. Aroma manusia campur aduk di dalam sana; aroma keringat, parfum dan aroma barang yang dipamerkan. Panas dan gerah, namun nampaknya tidak masalah. Apalagi para pengunjung lebih senang berswa foto ria dan minum kopi. Instalasi stand yang dihias sesuai identitas dinas atau instansi, nampak meriah dan wah. Dekorasi mahal sepertinya tidak masalah asalkan dapat menjadi kebanggaan mereka. Penjaga stand dengan kostum atau seragam berusaha ramah meladeni pengunjung. Ya, bermacam-macam pengunjung pun ikut memeriahkan suasana pameran. Berbagai barang jualan, produk lokal ekonomi kecil menengah, kerajinan tangan sampai barang industri besar pun hadir meramaikan. Berbagai produk lokal, makanan khas, kuliner, hasil industri, kerajinan tangan, diselingi promosi, sosialisasi, sampai kepada pin dan hiasan perabot rumah tangga pun tumpah ruah di dalam stand. Atau bahkan sekadar eksis dan tebar pesona pun ikut memeriahkan.
Kadang apa yang disebut pamer, diperlukan. Manusia memang butuh pameran, butuh pencitraan, butuh diapresiasi, butuh bersosialisasi, butuh dihargai, butuh jadi tontonan, butuh tontonan, butuh perhatian dan sharing pemikiran. Pameran yang merupakan perwujudan dari super ego itu nampak sangat manusiawi. Manusia butuh meyakinkan identitasnya sendiri, di tengah-tengah masyarakat yang sangat kesepian. Maka ajang pameran, seharusnya menjadi tontonan yang inspiratif dan juga tuntunan yang dapat menjadi teladan.
Kebetulan Komunitas Penulis Muda Situbondo dan Gerakan Situbondo Membaca diundang untuk mengisi stand milik Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah. Kebetulan pula, saya ikut berpartisipasi di antara dua komunitas itu. Di pameran acara Hari Jadi Kabupaten Situbondo yang diadakan tiap tahun itu, kami (saya dan kawan-kawan) dapat saling belajar dengan pengunjung. Stand perpustakaan didominasi oleh hiasan buku dan poster. Cukup minimalis dengan stand ukuran tiga kali tiga itu.
Berbagai pengunjung pun berdatangan. Ada pengunjung yang malu-malu kucing, menonton dengan menjaga jarak, seakan kami adalah truk yang bisa melindas mereka. Ada pengunjung yang hanya melihat-lihat saja. Ada pengunjung yang hanya lewat saja seakan stand kami berada di dimensi lain. Apalagi kami berada di stand perpustakaan yang memamerkan buku. Ya, buku masih menjadi kebutuhan mewah, dipandang mahal, membosankan, dan setidaknya, butuh orang yang cukup cerdas untuk bisa bergaul dengan buku. Padahal buku yang menjadi kebutuhan tersier itu, relatif tidak lebih mahal daripada pulsa, kuota internet, ponsel pintar merek baru, bahkan kaos, atau pakaian yang bisa sering bergonta-ganti.
Kami pun senang jika ada pengunjung yang datang dan bertanya-tanya. Di antara pengunjung di hari pertama pameran, ada beberapa yang menarik. Ada pengunjung yang merupakan aktivis lingkungan yang mengisahkan tentang perjuangan mengatasi abrasi di pesisir pantai. Ada pengunjung yang pernah terlibat pembuatan kartun animasi. Ada pengunjung yang membawa anak-anaknya untuk belajar membaca. Ada pengunjung yang juga mengenal Agatha Christie. Ada pengunjung yang juga bersemangat membantu kami berjualan buku. Syukurlah beberapa pengunjung dapat membeli beberapa buku. Dan yang terpenting kami betah berbagi pengalaman dengan kawan-kawan yang datang dan para pengunjung stand.
Saya berhadap pameran yang diadakan ini bukan sekadar pameran, namun juga dapat membantu mengembangkan produk lokal, kearifan lokal, wisata lokal, dan sehingga dapat membantu perekonomian masyarakat yang implikasinya dapat memajukan kabupaten.
Saya jadi teringat kepada acara pameran budaya di kota Malang. Pernah ikut dalam pameran di perpustakaan kota Malang dan pameran komik dan seni rupa di Universitas Negeri Malang. Dan entah kenapa pikiran saya melantur kepada acara pameran komik terbesar di dunia yang ada di Jepang, Comic Market, yang didatangi lebih dari setengah juta pengunjung dan diadakan di gedung Tokyo Big Sight. Dari mulai game, animasi, komik, action figurecosplay dan pernak-pernik akseroris dijual di sana. Maklum, karena komik di Jepang setara dengan industri lainnya. Dan penjualan buku komik mencakup hampir empat puluh persen dari hasil perdagangan di Jepang. Pikiran saya tetap menerawang dan akhirnya melantur. Agar tidak melantur ke mana-mana lebih baik esai ini disambung lagi ke bagian kedua nanti. Di bagian akhir acara pameran.
Situbondo, 8 September 2017

Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) lahir di Situbondo. Suka berpetualang di dunia lain. Suka bermain dan saling belajar dengan kawan-kawannya.

Sumber foto: Dokumentasi Komunitas Penulis Muda Situbondo dan Gerakan Situbondo Membaca, dan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Situbondo.

Pameran: Ajang Pamer, Berjualan atau Sekadar Tontonan? (bagian pertama) Pameran: Ajang Pamer, Berjualan atau Sekadar Tontonan? (bagian pertama) Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on September 09, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar