Pameran: Menjalin Persahabatan dan Meniadakan Kecemburuan Soksial (Bagian Dua Setengah)

Oleh: Ahmad Sufiatur R.
Sepulang dari pameran di hari ketiga, saya masih sulit tidur, dan menulis yang lain jadi kurang fokus. Selain akibat dari kopi yang dapat dibayar seikhlasnya, berbagai kenangan masih berkelebat. Tentu saja terkenang akan canda dan tawa kawan-kawan. Berbagai kejadian unik pun terjadi di stand Perpustakaan dan Arsip Daerah. Saya yakin setiap stand punya kisahnya masing-masing. Sebelum lupa dan terarsip di alam bawah sadar, saya akan menceritakannya. Dan praktis fokus saya untuk menulis beberapa naskah buyar karena kejadian unik ketika berkumpul dengan kawan-kawan.
Dimulai dari sahabat saya bernama Imam Sofyan. Imam besar dari Gerakan Situbondo Membaca yang rajin mengadakan bedah buku dan merupakan bandar buku paling banyak dan dari berbagai penerbit nasional, seakan kembali muda di acara pameran. Bahkan lebih agresif daripada yang masih lajang. Bagaimana tidak, setiap ada cewek cantik yang kebetulan lewat di depan stand selalu dihampiri demi berfoto-foto bersama buku. Para polwan yang kebetulan standnya berada di depan tidak luput dari objek foto bersama buku. Dari buku anak-anak sampai buku remaja dewasa pun tidak luput dari objek berfoto ria. Yah, walau hanya sekadar berfoto dengan buku tanpa membelinya, nampaknya Mas Sofyan sudah cukup senang. Kami seperti sebuah keluarga besar. Sahabat yang biasa dipanggil Mas Sofyan ini, juga masih mencari duta baca. Kriterianya cukup mudah, yang penting cantik, katanya, soal suka membaca katanya nomer dua. Hehe. Ya, saya yakin dia sedang ketawa-ketiwi sendiri ketika membaca tulisan ini. Di komunitas kami biasa saling sindir, asalkan jangan bawa perasaan alias baper. Mas Sofyan yang berkacamata dan nampak kalem ini, ternyata masih agresif. Beberapa kali menawarkan untuk mencari model yang cantik. Saya pun sering disindir karena masih melajang. “Sampeyan mau saya carikan model ya Mas?” katanya dengan ekspresi wajah setengah serius setengan bercanda.
“Kalau model tentu butuh modal Mas,” timpal saya. Yang bisa tertawa dengan hanya melihat wajah Mas Sofyan yang bersahabat itu.
Dan beberapa kali Mas Sofyan bilang. “Makanya sampeyan itu cepetan nikah!”
Saya hanya tertawa saja dan bilang. “Jangan asal nyuruh, tapi modalin juga!”
Oke. Kita lanjutkan kisah bersama Mas Sofyan lain kali. Karena masih banyak yang unik dan masih misterius tentangnya.
Lalu sahabat yang bernama Moh. Imron. Pemuda yang masih ikhlas melajang ini memilikitrademark 'mantan' biasanya selalu nampak kalem. Sahabat yang pertama kali mengajak saya masuk di KPMS (Komunitas Penulis Muda Situbondo) ini punya energi yang luar biasa. Moh. Imron sering blusukan dan aktif di beberapa komunitas seperti Backpaker, Breakdance, Slankers, dan biasanya menginap di rumah baca Damar Aksara, dan aktif di karang taruna di daerahnya. Karena Moh. Imron, saya dapat ikut ke dalam berbagai komunitas dan mengenal banyak orang. Jika saya selalu bertapa di dalam kamar, maka Moh. Imron sering mengembara di alam bebas. Dedikasinya di berbagai komunitas tidak diragukan lagi. Ia bisa berada di mana saja hanya dengan modal bensin, kopi dan rokok. Juga pengelola blog komunitas penulis yang menjadi takanta.id ini. Kami pun memiliki impian yang sama bahwa kelak komunitas dapat mandiri dan lebih banyak merangkul berbagai kalangan.
Ya. Kita lanjutkan kisah tentang Moh. Imron lain kali. Mungkin ada gebrakan baru darinya.
Kemudian sahabat yang bernama Baiq Chyntia. Biasa dipanggil Baiq. Sesuai dengan orangnya yang baik hati dan senyumnya yang manis itu. Awal perkenalan, saya tak terlalu akrab dengan Baiq, karena sama-sama sungkan. Hehe. Akhirnya saya saling sharing tentang menulis dan akhirnya akrab. Baiq merupakan anak kesayangan, jadi tidak bisa berlama-lama berada di luar rumah. Jarang bisa berkumpul ketika sudah malam kecuali mendapat izin dari orang tuanya. Jam delapan malam, Baiq sudah pamit pulang. Biasanya ia bersama dua orang temannya yang disebut Si Kembar (yang namanya belum saya ketahui). Karena ketiga bidadari ini stand Perpustakaan di pameran lebih hidup, lebih meriah dan lebih ramai pengunjung. Bagaimana tidak, setiap kali ada kenalan selalu mereka ajak ke stand, untuk sekadar berfoto ria dan menawarkan buku. Baiq dan teman-temannya bisa dengan mudah berbaur dengan pengunjung, menawarkan buku dengan ramah. Maklum cewek lebih mudah berbaur daripada cowok. Mereka bahkan membawa barang dagangan berupa parsel dan asyik berdagang. Bakat pengusaha rupanya memang melekat pada para perempuan hebat ini. Ketiga bidadari-yang-mungkin-datang-dari-surga ini pun sering pergi ke perpustakaan, dan kadang membawa kue-kue, sehingga bisa disebut piknik bersama buku.
Baik. Kita lanjutkan kisah tentang Baiq dan Si Kembar, lain kali. Mungkin ada kisah unik lagi tentang mereka.
Lanjut sahabat yang biasanya dipanggil Fajri. Yang ternyata tetangga saya ini. Pertama kali bertemu di acara Tadarus Puisi di Jangkar. Guru muda yang baru lulus dari Universitas Negeri Jember ini memiliki energi yang luar biasa. Biasanya Fajri sering mengunjungi stand dengan keramahan yang luar biasa pula. Pemuda dengan multi bakat bermusik ini sedang semangat-semangatnya menggerakkan literasi di sekolahnya. Dengan kemampuannya yang mudah berbaur, banyak muridnya yang betah bersamanya. Bahkan ia sering curhat pernah ‘ditembak’ siswanya. Maklum, siswa sekarang banyak yang cerdas, tidak seperti dulu. Bersama Fajri inilah saya sering ‘diculik’ baik siang, sore atau bahkan malam, untuk mengikuti berbagai kegiatan. Dari kegiatan baca puisi di monumen relief di alun-alun, musikalisasi puisi di dermaga, sampai riset teater hingga ke pedalaman daerah suku Pariopo di Asembagus. Saya yang merupakan orang rumahan kadang didatangi guru muda ini bersama murid-muridnya. Saya pun senang dan saling berbagai ilmu dan pengalaman. Maka tidak heran, dengan semangatnya yang tinggi itu Fajri sering mendapat kepercayaan untuk mengelola beberapa eskul di sekolahnya. Dari mulai eskul majalah, paduan suara, teater, digiatkan olehnya.
Oke. Kita lanjutkan kisah perjuangan Fajri menghidupkan literasi di sekolahnya lain kali. Masih banyak kegiatannya yang unik dan menarik untuk ditulis.
Sahabat selanjutnya biasanya dipanggil Zaidi. Penampilannya yang sederhana dan kalem dapat mudah berbaur dengan siapa saja. Awalnya saya tak mudah menebak pikiran Zaidi. Dan memang sulit ditebak termasuk Moh. Imron dan kawan-kawan lain. Maklum bakat seniman memang tak mudah ditebak. Haha. Bersama Zaidi ini pula saya pernah terseret petualangan dengan sepeda motor mogok di tengah jalan, dari Besuki ke Situbondo, namun akhirnya dapat diatasi dengan tabah.
Masih banyak lagi kisah kawan-kawan yang saya temui di dalam komunitas. Di antaranya ada yang kalem, ada yang aktif, ada yang hiperaktif, ada yang jaim, ada yang pendiam, ada yang … ah, kadang sulit diungkapkan dari saking uniknya.
Karena saya merupakan orang rumahan, yang jarang blusukan, jarang jalan-jalan, jarang punya banyak kenalan, dan jarang nongkrong. Kadang hanya ingat wajah tapi tidak ingat namanya, dan sering kesasar jika blusukan. Tak seperti dulu ketika masih sekolah, saya sering blusukan, nginap di rumah kawan sampai dicari orang tua, sampai menjaga trotoar tanpa tujuan, dan pulang pagi dari bermain game pun pernah. Rupanya, sekarang titik baliknya. Apalagi lebih mudah berteman karena memiliki hobi yang sama; membaca dan menulis, atau tentang game, animasi, komik, sastra, seni rupa, dan hal spesifik lain jika kebetulan saya sedang meneliti untuk bahan tulisan.
Masih banyak lagi kawan-kawan yang unik di dalam komunitas. Mungkin jika ada waktu danmood untuk menulis tentang mereka, akan saya ungkapkan. Termasuk kawan-kawan baru yang ditemui dalam acara pameran.
Bagi kawan-kawan lain yang masih belum tersebutkan namanya, jangan galau. Bukannya kisah mereka tak unik dan menarik, justru karena dari saking menariknya sampai saya kehabisan kata-kata untuk menulis. Semoga lain waktu bisa menulis tentang kawan-kawan yang lain. Saya juga masih menyelidiki tentang kisah menarik mereka. Apalagi tidak ada rahasia dan dusta di antara kawan-kawan yang tanpa pamrih dan senang berkawan.
Karena itu, datang dan ramaikan stand Perpustakaan di pameran di alun-alun kota Situbondo sampai tanggal 12 September 2017. Gratis tanpa tiket, kalau beli buku dapat diskon spesial. Dapatkan berbagai buku murah meriah, Novel Kesatria Kuda Putih (Rp. 40.000), Dangdut Situbondoan dan buku Mamaca. Dan biarkan saya menerawang tentang kisah unik kawan-kawan yang datang.
 Situbondo, 10 September 2017
Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) lahir di Situbondo. Senang berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama kawan-kawannya.

Dokumentasi Komunitas Penulis Muda Situbondo

Pameran: Menjalin Persahabatan dan Meniadakan Kecemburuan Soksial (Bagian Dua Setengah) Pameran: Menjalin Persahabatan dan Meniadakan Kecemburuan Soksial (Bagian Dua Setengah) Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on September 10, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar