Pameran: Menyisakan Residu Rindu dan Pesan yang Tak Dibaca (Habis dan Menjadi Kenangan)

Oleh: Ahmad Sufiatur R.
Awalnya saya ragu untuk menulis kisah penutup ini. Selain karena banyak pikiran, juga karena saya tak yakin tulisan ini akan (benar-benar) dibaca. Jika ada orang atau makhluk ekstraterestrial yang membacanya pun, saya tak yakin akan membaca pesan balasan, atau status atau artikel atau esai atau kode morse, atas tanggapan terhadap tulisan ini. Jadi, pesan ini seperti surat dalam botol, yang dilarung di laut lepas, entah siapa yang membacanya. Namun, yang jelas, saya percaya bahwa tulisan ini ada yang membacanya. Kamu, ya, kamu yang membaca tulisan ini. Jadi, tulisan ini untukmu yang entah siapa dan entah berada di mana, yang dengan setia menunggu tulisan ini, walau hanya seorang diri di dalam kegelapan dan hanya berteman dengan cahaya ponsel. Ya, diam-diam kamu membacanya, walau hanya diam dan tak berkomentar apapun, mungkin malu, sedang dalam penyamaran, tak ingin menggangguku atau benar-benar tak peduli selain kepada dirimu sendiri.
Tulisan ini tidak fokus. Bahkan Asma Nadia pun pernah mengaku kalau dirinya sering tidak fokus dengan alur cerita yang ditulisnya, melompat antar plot, karena ide-ide cerita datang dan pergi. Bahkan Stephen King pernah mengakui seringkali hanya terdiam di depan mesin ketiknya, tanpa melakukan apapun, tanpa satupun cerita yang ditulis. Dan bila pun menulis cerita, maka seperti menyelam tanpa tujuan yang jelas.
Kembali ke topik. Pameran di alun-alun sudah selesai untuk tahun ini. Baner, poster, hiasan, sudah dibongkar. Dari mulai tukang sampah, tukang listrik, sampai tukang dekorasi mulai membersihkan dan membongkar stand mereka. Begitu pula di stand Dinas Perpustakaan Daerah, buku-buku sudah ditaruh dalam dus, kursi dan rak sudah dikembalikan, poster sudah dilepas, dan sampah sudah dibersihkan. Termasuk kenangan. Ya, termasuk kenangan bersamamu, jika pernah berada di sana bersamaku.
Pameran kali ini menyisakan residu rindu dan pesan yang tak dibaca. Residu rindu dari kenangan bersama kawan-kawan. Dan pesan dari buku-buku yang masih menumpuk dan belum laris manis. Setelah membersihkan sampah dan membereskan kursi dan rak, kami masih duduk-duduk di stand yang sudah hampir kosong. Seakan masih betah berada di sana dan masih belum mau beranjak pulang. Sementara, di sekitar kami, para tukang dekorasi terus membongkar kenangan yang pernah mereka bangun dengan susah payah itu. Diselingi bunyi hembusan angin kencang di luar yang menggedor-gedor tenda. Saya hanya bertanya-tanya, kenapa kenangan yang susah payah dibangun itu, pada akhirnya harus dibongkar dan ditinggalkan? Pertanyaan tanpa jawaban. Mungkin begitulah adanya.
Dari pameran kali ini, saya mendapat banyak pelajaran berharga. Termasuk jenis-jenis buku yang diminati pengunjung. Dari judul-judul itu, saya mengetahui bahwa pembaca kebanyakan lebih memilih buku anak-anak, tentu saja, para orang tua membeli untuk anak mereka. Selain terjangkau dan dipenuhi ilustrasi bergambar warna-warni, buku anak dengan isi yang ringan di kantong dan ringan di pikiran, tentu terjangkau. Mungkin bahkan para orang tua itu berharap, bahwa kelak anak mereka akan gemar membaca. Sedangkan buku-buku yang dianggap berbobot, bertema berat, dengan isi dari hasil riset, memiliki peminat yang juga khusus, setidaknya juga peneliti atau ilmuwan. Buku-buku yang ringan di kantong dan ringan di pikiran itulah yang kebanyakan dibeli oleh masyarakat. Tentu saja, karena masyarakat awam bukan kumpulan dari para ilmuwan. Saya jadi teringat kepada kata-kata bijak dari hadis Rasul yang berbunyi, “Dakwailah umatmu sesuai daya pemikiran mereka.” Ya, tentu saja, karena masyarakat biasa kebanyakan bukan para ilmuwan, para profesor apalagi para jenius. Di sinilah keunikan dan tantangannya. Bahkan Albert Einsten yang jenius pernah berkata, “Semua hal yang rumit seharusnya bisa lebih disederhanakan. Namun, tidak asal sederhana.”
Ya, begitulah sebuah karya yang bisa diterima masyarakat. Tidak rumit, juga tidak terlalu sederhana. Sedang-sedang saja. Jika terlalu sederhana akan menumpulkan pemikiran masyarakat dan akan dianggap picisan atau murahan. Jika terlalu rumit, maka akan lebih sulit untuk dicerna oleh kebanyakan masyarakat awam. Saya yakin tidak banyak profesor yang bisa membuat gambar komik, misalnya, di sanalah bakat dan sekaligus kerumitannya. Kisah komik dan novel yang nampaknya sederhana, namun membutuhkan kejeniusan dan bakat untuk merancangnya agar menarik minat pembaca, khususnya pembaca awam.
Esai ini pun mulai melantur ke arah teknis menulis. Padahal sebenarnya saya ingin menuliskan tentang selesainya pameran yang menyisakan banyak residu rindu, kenangan yang menjadi sisa, layak dimusiumkan atau dilarung saja ke laut, atau diterbangkan saja oleh angin.
Berbagai pertemuan dan perpisahan pun dirasakan seusai pameran. Berbagai kisah dari kawan-kawan yang unik pun masih tersimpan dalam ingatan. Termasuk kenangan yang tak ingin cepat dilupakan, atau lebih baik dilupakan. Meskipun sekeras apa kita melupakannya, atau kita tanpa sengaja melupakannya, diam-diam kenangan itu masih berdiam dalam alam bawah sadar kita. Ya, kenangan itu, suatu ketika tanpa kita sadari akan kembali muncul menjadi ingatan yang sejelas hari yang kembali cerah ketika selesai hujan.
Namun, tak selamanya kenangan mendatangkan kedamaian. Sering, kenangan yang disimpan menjadi sembilu yang malah makin menyesakkan dada.
Karena itulah, orang lebih banyak tidur atau uring-uringan ketika mengenang sesuatu.
Karena dalam tidur, bebeberapa ingatan dan kenangan sedikit demi sedikit akan sirna. Walau, masih tersimpan dalam catatan ingatan di alam bawah sadar.
Ya, walau sekeras apapun kita menjadi putri tidur, namun, tak akan benar-benar dapat menghapus kenangan.
Jadi, saya sarankan bagi yang masih menyimpan kenangan, namun tak ingin mengingatnya karena berbagai alasan pribadi, lebih baik kamu tidur dan melupakannya dengan mengalihkan fokus kepada hal yang lain. Walaupun demikian, kamu harus bersiap-siap jika residu rindu dari sisa-sisa kenangan itu, suatu hari, tanpa kamu sadari akan kembali kamu ingat. Dan ketika itu, kamu serasa kembali ke masa lalu, dalam kincir angin waktu.
Selamat tidur. Dan selamat menyimpan kenangan lebih dalam di alam bawah sadar ketika tidur.
Di suatu hari, ketika kamu terdiam sendirian. Adegan kenangan itu akan bermunculan, tanpa disangka. Serasa kamu masih berada di sana. Entah, kamu akan kembali membaca kenangan itu, atau kembali menyimpannya di alam bawah sadar, melupakannya. Seperti menemukan pesan dalam botol yang dilarung di laut lepas. Dibaca atau dibiarkan saja berada di sana.
(Berharap Masih Bersambung)
Situbondo, 14 September 2017

Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) senang berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama kawan-kawannya.
Sumber foto: kenangan dalam hatimu

Pameran: Menyisakan Residu Rindu dan Pesan yang Tak Dibaca (Habis dan Menjadi Kenangan) Pameran: Menyisakan Residu Rindu dan Pesan yang Tak Dibaca (Habis dan Menjadi Kenangan) Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on September 13, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar