Pameran: Perpisahan yang Bikin Kangen (Hampir Habis)

Oleh: Ahmad Sufiatur R.
Bukan hanya satu kali saya merasakan perpisahan yang berkesan. Ya, perpisahan yang bikin terharu, bahkan dapat membuat seorang laki-laki tangguh pun bisa berurai air mata. Tapi, ini hanya rahasia antara kita saja. Cukup kita saja yang mengetahuinya. Padahal kami sama-sama tak menginginkan perpisahan itu. Apalagi, pernah perpisahan itu selalu dihiasi dengan huja
n, dan sayup-sayup simfoni nyanyian yang terasa di dalam hati, kala itu.
Ada pertemuan pasti ada perpisahan. 
Ada perpisahan, semoga akan ada lagi pertemuan.
Baiklah, akan saya flashback. Kembali ke kejadian tadi, beberapa pertemuan yang berkesan, kemudian diakhiri dengan perpisahan….
Dimulai dari … oke, lebih baik kita lewati saja. Biarlah saya simpan di hati saja sebagai kenangan. Kadang, tak semua kisah bisa dituliskan. Kadang hanya bisa dikenang sendiri dan disimpan sendiri saja. Saya tak ingin pembaca menangis dan bersedih. Itu saja. Biarlah langit, udara, cahaya, musik, rerumputan, awan, matahari, aroma kopi, keteduhan matamu, dan langkah-langkah yang berarti yang menjadi saksinya.
Kembali ke acara pameran. Kawan-kawan yang baru hadir di pameran pun bermunculan. Seorang sahabat yang pertama kali bertemu di biro surat kabar lokal itu bernama pena Irwan Rakhday. Ketika pertama kali bertemu, Mas Irwan, panggilan akrabnya sudah tertarik untuk menulis sebuah novel yang diinspirasi kisah hidupnya. Pemuda yang nampak seperti pendekar ini pun memiliki kisah yang unik dan inspiratif. Saya pun mendukungnya agar bisa menyelesaikan novelnya itu. Begitu pula tadi ketika bertemu di acara pameran, Mas Irwan Rakhday nampak bersemangat bercerita. Dari mulai kisah Letnan Nidin sampai kepada kisah-kisah misteri dari masa kanak-kanak. Masih banyak kisah tentang Mas Irwan yang menarik untuk dibukukan. Oke, semoga kita bisa membaca karya-karya sastranya dalam sebuah buku. Masih banyak kisah hidupnya yang inspiratif untuk memberikan semangat hidup.
Kemudian, saya bertemu dengan seniman senior yang biasa dipanggil Mbah Kutunuk. Dari beliau banyak hal yang bisa diceritakan tentang budaya di Situbondo. Kita tunggu saja buku-buku karyanya tentang kuliner khas Situbondo, tentang tarian, tentang pakaian khas dan berbagai khasanah budaya lainnya di Situbondo. 
Sahabat berikutnya masih SMA, namanya Siti Mutiara. Saya mengenalnya ketika ia membeli buku novel Kesatria Kuda Putih. Gadis ceria yang tertarik kepada berbagai tema sejarah. Berbagai topik sejarah dibahasnya, sehingga awalnya saya mengira ia sudah mahasiswa. Maklum, generasi mendatang akan lebih canggih lagi. Kita tunggu saja, karya tulis apa saja yang dihasilkannya dari karyanya. 
Kemudian kawan yang berikutnya, Urwan, tak perlu banyak bercerita tentang dirinya. Karena anak hits mudah dicari di berbagai media online. Apalagi Urwan juga merupakan kontributor dari takanta.id dan aktif di berbagai media jejaring sosial demi mempromosikan nama Situbondo. Salut. Kita tunggu saja apa lagi karya tulisnya yang akan mengangkat nama Situbondo ke depannya.
Masih banyak lagi kawan-kawan yang tidak bisa disebut satu per satu namanya. Apalagi kisah mereka yang juga menarik sehingga esai ini bisa menjadi novel jika ditulis semuanya.
Maaf. Saya masih agak sedih dengan berbagai perpisahan di hari ini. Jadi, tulisan ini tak begitu panjang karena saya tak tega menulisnya. Apalagi besok hari terakhir pameran di alun-alun. Agar lebih berkesan, silakan datang ke stand Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah di alun-alun. Dari petang sampai malam.
Besok hari terakhir. Dan bersiap-siaplah untuk berpisah. Tolong jangan menangis walau terasa berat untuk berpisah. Dan bersiaplah untuk bertemu kembali di lain waktu dan di lain kesempatan. Semoga kita masih diberi kesempatan; waktu dan kesehatan. Amin. Dan biarlah saya menikmati kenangan dan kesunyian yang membahagiakan karena pernah memiliki kenangan bersamamu dan kesedihan yang berkesan.
Situbondo, 11 September 2017
Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) lahir di Situbondo. Senang berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama teman-temannya.

Dokumentasi KPMS


Pameran: Perpisahan yang Bikin Kangen (Hampir Habis) Pameran: Perpisahan yang Bikin Kangen (Hampir Habis) Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on September 12, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar