Sejarah Situbondo yang Nyaris Dilupakan (Bagian Pertama)

Ketika saya memeriksa foto-foto di pameran arsip, ternyata fotonya masih buram, alias diperoleh secara gratis dari website KITLV Leiden, Belanda.  
Udara terasa gerah di pelataran gedung Bhayangkara di jalan PB. Sudirman, Situbondo. Mendung nampak menggelayut di atas langit. Namun, tidak menyurutkan semangat para staf dari kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Situbondo. Mereka tengah sibuk mempersiapkan acara pameran bazar buku yang bekerja sama dengan toko Gramedia dari Jember. Apalagi tahun ini ada tambahan berupa pameran yang bertema situbondo tempo dulu. Hari minggu itu, tanggal 24 September, bazar buku Gramedia sudah buka dan ditata rapi di dalam gedung. Bazar buku yang diadakan dari tanggal 24 September sampai 8 Oktober 2017 itu bukan pertama kalinya diadakan.
Saya sebagai wakil penulis dari Komunitas Penulis Muda Situbondo (KPMS) turut diundang bersama wakil dari Gerakan Situbondo Membaca (GSM). Maka hari minggu itu, saya sudah penasaran dan datang untuk menengok langsung persiapan acaranya.
"Masih banyak yang belum dipasang, Mbak?" tanya saya kepada seorang staf arsip. 
"Iya, Mas. Saya kemarin sampai lembur sampai tengah malam," timpal staf arsip itu. Ia nampak sibuk menata album foto dari dokumen yang diminta dari arsip di perpustakaan provinsi di Surabaya.
Kemudian, saya mulai memeriksa foto-foto arsip dari sejarah Situbondo yang sudah berada di dalam pigura yang masih belum dipasang. Saya merasa sudah akrab karena sebagian foto sudah pernah saya lihat. Kebanyakan foto arsip berasal dari website KITLV Leiden, yaitu sebuah lembaga penelitian Belanda di bidang bahasa dan antropologi yang perpustakaannya memiliki dokumentasi, manuskrip, buku-buku, termasuk foto-foto dari sejarah di Indonesia. Berbagai foto sejarah yang lengkap dapat dengan mudah diakses di media-kitlv.nl itu. Foto dengan resolusi atau ketajaman rendah yang buram dapat dengan mudah dilihat, namun jika ingin mendapat foto yang bagus, jelas dan tajam, ya, harus beli.
Ketika saya memeriksa foto-foto di pameran arsip, ternyata fotonya masih buram, alias diperoleh secara gratis dari website KITLV Leiden, Belanda. Dengan resolusi yang rendah, tentu mengganggu penglihatan dan kurang dapat menampakkan detail foto. Jika pengunjung tidak memiliki wawasan, ya, mereka akan menikmatinya dan memotretnya, walau fotonya nampak buram.
Berbeda dengan foto-foto berukuran lebih kecil yang asli diperoleh langsung dari perpustakaan provinsi. Harusnya foto-foto arsip ini sudah berada di gedung arsip Situbondo, jadi tidak lagi mengumpulkan dari provinsi atau masih mencari di website gratis seperti KITLV. Apalagi ada watermark KITLV Leiden di salah satu foto. Tentu saja untuk mendapatkan arsip foto, dokumen bersejarah, dan peta, yang benar-benar asli dan kualitanya bagus, butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Apalagi jika harus pergi ke tempat-tempat bersejarah dan menelusuri jejak sejarah Indonesia yang banyak berada di luar negeri (dijual, dicuri ataupun digelapkan ke luar negeri). Bahkan Museum Gajah yang sudah skala nasional pun tidak luput dari aksi pencurian yang melibatkan orang dalam. Miris. Terjadi juga di banyak situs sejarah dan museum sejarah yang diabaikan, dijarah dan dijual di seluruh Indonesia. Salah satu faktor yang menyebabkan kita masih belum menjadi bangsa dan negara yang maju. Indikasi rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya daya baca dan masih banyak yang buta huruf 
Tahun lalu, teman-teman dari komunitas penulis Situbondo pernah memeriksa ke gedung arsip dan isinya cukup mengecewakan karena belum menjadi pusat arsip di Kabupaten Situbondo. Maka dari itulah, tahun lalu teman-teman mengusulkan untuk mengumpulkan arsip; termasuk foto sejarah, dokumen, dan naskah bersejarah dari setiap instansi yang ada di kabupaten. Namun, ternyata tidak ada respon dari pemerintah daerah.
Padahal banyak bangunan bersejarah, tradisi, budaya dan sejarah yang Situbondo yang masih belum diungkapkan seluruhnya. Termasuk masa kejayaan Panarukan sampai masa kejayaan pabrik gula di Situbondo. Belanda tentu melalui riset dan penelitian sebelum membangun belasan pabrik gula di Situbondo yang merupakan yang terbanyak di Indonesia.
Namun, masa kejayaan itu seakan sengaja dihilangkan, sengaja diabaikan, dan sengaja dilupakan. Sehingga akibatnya generasi mudanya mengalami amnesia sejarah. 
Beruntung tahun ini perhatian pemerintah daerah mulai ada walau masih bertahap. Sudah lama isu perda perlindungan cagar budaya terdengar gaungnya. Sudah lama ide dan konsep untuk melestarikan sejarah diungkapkan walau akhirnya dicuri konsepnya atau ujung-ujungnya diabaikan begitu saja. Para pegiat sejarah juga terus gencar mendorong pemerintah daerah untuk mengingat lagi sejarahnya agar memiliki jati diri dan mengenal kearifan lokalnya.
Pameran arsip yang diadakan di gedung Bhayangkara juga sudah lama direncanakan, termasuk oleh teman-teman penulis. Saya tidak tahu berapa anggaran dari APBD yang dikeluarkan untuk pameran tahun ini. Yang pastinya anggaran itu dari pajak, dan pajak dari uang rakyat juga, ya, dari usaha kita juga sebagai rakyat dan masyarakat sipil. Beruntung tahun ini dapat terlaksana walau terkesan dadakan, terkesan apa adanya dan masih belum banyak deskripsi teks, penjelasan, dan minim buku-buku sejarah lokal. Kita mengharap sejarah tidak ditunggangi kepentingan lainnya; bukan politik dan hanya mengejar proyek belaka. Bukan hanya foto-foto belaka tanpa didukung informasi yang memadai. Apalagi dari kantor arsip daerah yang seharusnya dapat lebih jelas memberikan penjelasan tentang foto yang dipamerkan. Beruntung masih ada satu dua orang staf perpustakaan dan arsip yang dapat menjelaskan foto-foto yang dipamerkan. Masih ada yang peduli dan memiliki konsep brilian tentang pelestarian sejarah, walau harus melalui proses bertahap dan tidak sebentar. 
Beruntung tahun ini, sejarah Situbondo mulai diangkat lagi, khususnya kepada generasi muda. Diharapkan kelak dapat menjadi agenda rutin dan menjadi muatan lokal sehingga tidak lagi dengan mudah dilupakan. 
Pameran arsip pun mulai dihias dengan tempat berswafoto. Hiasan sepeda onthel dan pagar ala rumah asli Situbondo atau Tabing Tongkok pun menghiasi instalasi pameran Situbondo Tempo Dulu itu.
Jika ingin mengenal sejarah Situbondo, maka sempatkan datang ke gedung Bhayangkara. Di sana ada foto-foto bersejarah dari mulai foto agresi Belanda tahun 1947 yang sudah dikisahkan dalam novel Kesatria Kuda Putih: Santri Pejuang, juga ada foto sejarah pabrik gula, kantor pos, festival ulang tahun Ratu Wilhelmina di alun-alun, dan bangunan bersejarah lain dari berbagai daerah di Situbondo walau masih belum semua mewakili dari setiap daerah mengingat minimnya ukuran tempat pameran dan masih banyak foto bersejarah yang masih belum dipajang. Pameran sejarah Situbondo akan diramaikan anak-anak sekolah yang turut diundang. Bazar buku Gramedia dan pameran sejarah Situbondo dibuka selama lima belas hari, dari tanggal 24 September sampai tanggal 8 Oktober 2017. Buka dari pagi jam 08:00 sampai malam jam 21:00 WIB.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat mengingat sejarahnya.
Kota yang besar adalah kota yang dapat mengingat sejarahnya.
Manusia yang kerdil adalah manusia yang (sengaja) mengabaikan dan melupakan sejarahnya sendiri. 
Semoga kita, khususnya generasi muda terhindar dari amnesia sejarah! Dan kisah-kisah dari generasi tua tidak begitu saja hilang dari sejarah tanpa diwariskan kepada generasi mudanya. 
Jika bukan kita, siapa lagi yang peduli?
Situbondo, 26 September 2017
Tulisan lanjutan (bagian dua)
___
Ahmad Sufiatur R. (Sufi) lahir di Situbondo. Senang berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama kawan-kawannya.


Sumber foto: dokumen penulis

Sejarah Situbondo yang Nyaris Dilupakan (Bagian Pertama) Sejarah Situbondo yang Nyaris Dilupakan (Bagian Pertama) Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on September 26, 2017 Rating: 5

3 komentar

  1. teruslah berkarya demi kemajuan kota tercinta "Situbondo"

    BalasHapus
  2. teruslah berkarya demi kemajuan kota tercinta "Situbondo"

    BalasHapus
  3. Terima kasih sudah membaca :) sama-sama terus berkarya

    BalasHapus