Seni Kentut dan Tuyul Industri Media

Dalam esai The Art of Writing karya Robert Louis Stevenson menulis, bahwa seluruh seni dan pencapaian kita tergolek di permukaan; di kulitnyalah kita kecap keindahan, kepantasan, dan signifikansinya. Bila kita mengintip apa yang ada di bawahnya, maka ngerilah kita akan kekosongannya, dan terkejutlah kita akan tali penggereknya....
Oleh: Ahmad Sufiatur R.
Di bulan Juli tahun 2015. Saya mendapat kiriman naskah antologi puisi yang cukup unik. Di halaman pertama naskah itu berjudul: Kentut. Ya, tidak salah judulnya memang itu. Ditulis oleh santri multi bakat dan cerdas dari pesantren dengan nama pena As-Syabani. Kabarnya As-Syabani sedang menjalani pendidikan di Al-Azhar, Mesir. Naskah antologi puisi itu dikirim untuk diterbitkan secara indie di penerbit lokal. Kebetulan, saya editornya. Awalnya saya heran, bingung, geli, sekaligus kagum. Apalagi naskah yang berjudul Kentut itu ternyata berisi berbagai tema, dari mulai tema pesantren, kritik sosial, agama, sampai tema cinta. Jadi, saya memutuskan membaginya dengan tema yang senapas. Dan judul relevan dengan tema puisi diambil dari isi judul puisinya. Setelah proses penyuntingan, naskah puisi berjudul Kentut itu menjadi dua buku. Buku pertama berjudul Negeri Abrakadabra yang bertema kritik sosial (32 puisi, 7 puisi di antaranya berjudul Kentut, ISBN 978-602-7923-3-8) dan buku kedua berjudul Seruling Pohon (68 judul puisi, ISBN 978-602-72923-2-1) yang bertema agama dan cinta.
Berikut contoh puisinya: 
Kentut (5)
Kentut-kentut bersemedi
Pada matahari-matahari dusta
Dalam bejana-bejana
Ia merobek peta gembira
Mendewakan fana dan menistakan mulia
Merangkul puing-puing nestapa
Bekas reruntuhan-reruntuhan luka
Kentut-kentut kebanggaan
Konsumsi Fir’aun-Fir’aun globalisasi
Lahapan Karun-Karun masa kini
Mengejawantahkan kader-kader Dajjal
Licik, penipu, mengusai dan merajai
Merotasi skema-skema rahmatan lil alamin
Menuju skema-skema laknatan lil alamin
Kentut 
Merajam kemesraan di antara kita 
18.10.14
Puisi berjudul Kentut itu sarat pesan moral. Menghentak kesadaran akan ketimpangan sosial di sekitar kita. Termasuk kesenian, kegiatan berkesenian sampai ke ranah industri.
Berkorelasi dengan kondisi sekarang. Di zaman serba digital pada generasi milenial. Ketika media cetak berada di perbatasan zaman. Ketika banyak lahir seniman dan kesenian yang serba instan dan sekejap. Ketika banyak bermunculan penerbit-penerbit indie, banyak lahir penulis-penulis baru, yang tidak sebanding dengan perkembangan toko buku. Apalagi perkembangan daya baca yang tidak didukung kurikulum sekolah yang hanya menitik beratkan kepada nilai, bukan kepada kemampuan dan keterampilan mandiri. Dan maraknya hiburan serba instan, cepat saji, canggih berbasis digital dan terutama bisa didapat secara relatif gratis.
Sementara, industri penerbitan berlomba-lomba menerbitkan buku. Sehingga buku-buku yang tidak laris dalam sebulan akan segera digudangkan atau masuk buku diskon. Rak-rak buku penuh dengan buku beraneka genre. Dengan berbagai macam kualitasnya, baik yang instan, pop, ringan, maupun yang bertema berat dan sensasional. Dari karya tulis yang dianggap picisan, vulgar, kontroversial, sampai yang mulia dan cemerlang melampaui zaman. Dari buku yang berlabel best seller, berlabel sastra, berlabel banyaknya pembaca, sampai yang berlabel halal. Sah-sah saja. Asalkan jangan ada lagi pembakaran buku seperti zaman primitif ketika manusia purba baru mengenal api. 
Di ranah intelektual, konsep dibalas konsep, ide dibalas ide, kreativitas dibalas kreativitas, kuantitas dibalas kuantitas, kualitas dibalas kualitas, buku dibalas dengan buku pula. Apalagi para seniman dan para intelektual, makin tinggi ilmunya makin tinggi pula super egonya. Karena itu, tidak mudah mengatur orang intelektual, apalagi mengatur masyarakat yang sudah cerdas dan tidak bisa ditipu atau digiring seperti romusha. Penjajahan dan perbudakan di zaman ini lebih kepada intelektual, uji kecerdasan, walau begitu masih ada sisa-sisa zaman purba dengan uji otot dan uji penampilan dan pencitraan yang kosong, rapuh dan sekejap daripada uji mental dan uji otak. 
Dalam kondisi yang serba cepat dan dengan kompetisi industri yang ketat dan menjadi mesin pencari uang. Para penulis lama dan baru pun harus berlomba-lomba melahirkan karya. Menurut Stephen King, sulit mengubah penulis buruk menjadi penulis baik, dan kebanyakan penulis buruk lebih banyak lagi jumlahnya. Ya, seperti piramida, makin ke puncak, makin sedikit penulis yang baik. Beraneka penulis pun tersedia, dari penulis instan yang mengutamakan kuantitas, penulis malas, penulis yang sedang-sedang saja, sampai penulis berdedikasi yang menulis satu buku saja butuh bertahun-tahun, yang relatif sebanding. Penerbit pun menyediakan peluang bagi penerbitan indie yang lebih bersifat personal atau kelompok yang berbasis komunitas atau fanbase. Mencari celah di antara pembaca sesuai selera dan menu yang khusus, bersifat personal dan spesifik. Apalagi ketika masuk ke ranah industri yang mengejar oplah. Dan ranah penulisan di web yang mengejar banyaknya pembaca dan iklan. Maka tidak heran jika bermunculan tuyul-tuyul penghasil royalti. Tidak salah, dalam kondisi zaman seperti ini, memang sudah sewajarnya. Apalagi jika mencari nafkah dari menulis dan memiliki banyak karyawan untuk dihidupi. Akibatnya adalah, pajak, tuyul yang lain pun akan ikut rajin. Apa yang tidak kena pajak? Dari zaman nabi sampai zaman Majapahit, upeti atau pajak selalu menindas rakyat, di sisi lain juga meneror kaum hartawan. Ya, hanya kentut yang tidak ada pajaknya.
Menurut Stephen King yang telah menghasilkan ratusan karya. Royalti bagi penulis adalah perbudakan di zaman modern. Maklum, karena Stephen King merupakan penulis yang sangat produktif. Bahkan konon, penerbit harus mencicil royaltinya karena dari saking besarnya royalti yang didapatnya. Begitulah ketika seni menjadi mesin uang dengan segala problematikanya. Makin besar dan kaya seorang penulis dan makin besar penerbit, makin banyak kendalanya, terutama pajak dan pembajakan. Belum lagi penerbit yang menipu dan mengeksploitasi jerih payah penulis tanpa kelayakan royalti dan tidak transparannya laporan penjualan dan jumlah sebenarnya buku yang dicetak. Belum lagi maraknya plagiat, copy paste, pencurian karya cipta, yang terus marak sehingga ratusan karya sastra, seni, dan film yang merupakan plagiat. 
Dalam esai berjudul The Art of Writing karya Robert Louis Stevenson menulis, bahwa seluruh seni dan pencapaian kita tergolek di permukaan; di kulitnyalah kita kecap keindahan, kepantasan, dan signifikansinya. Bila kita mengintip apa yang ada di bawahnya, maka ngerilah kita akan kekosongannya, dan terkejutlah kita akan tali penggereknya ... ketika digiring menuju semua hal yang baik-baik saja, akhirnya menemui ketumpulan yang menjijikkan ... Dan barangkali dalam estetika, alasannya pun sama: penyingkapan yang terlihat fatal bagi martabat seni.
Seniman dan penulis yang mengharap anggaran pemerintah, royalti, honor dan hadiah, sah-sah saja. Tidak salah. Karena sudah menjadi hak mereka. Asalkan dapat bersaing secara sehat, sportif, bebas plagiat dan tidak saling menjegal. Namun, menurut Andrea Hirata, ada sesuatu yang lebih mulia dan kekal daripada materi, yaitu pencapaian non materi. Tidak salah penulis mengharap royalti. Sudah haknya. Namun, ada yang lebih penting lagi, yaitu menulis sebagai riset atau penelitian. Bahan penelitian di segala bidang; sains, seni, budaya, filsafat, agama, ekonomi, politik, sosial, sejarah, yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memajukan peradaban demi masa depan yang lebih baik.
Hanya waktu yang bisa mengungkap kebenaran dan kenyataan. Ketika beberapa penerbit di dalam dan luar negeri mulai menurun oplahnya, surat kabar yang gulung tikar, majalah cetak satu per satu wafat setiap tahun, banyak yang berhenti terbit dan oplah cetak yang kian menurun, sesuai prediksi matematika komunikasi. Namun, buku-buku yang melampaui zamannya akan tetap diterbitkan, akan tetap dibaca, cetak maupun digital akan saling melengkapi terlepas dari label best seller, label sastra dan label halal. Karya-karya yang tidak gagap dan teruji di setiap generasi yang makin cerdas. Karya masterpiece yang relatif abadi, dan hidup seribu tahun lagi. Ya, seribu tahun lagi.
Kembali ke The Art of Writing karya Robert Louis Stevenson. Di sana diungkap sederhana tentang kesenian yang dibuat manusia dengan segala keterbatasan dan kelemahannya. Yaitu seperti seorang anak kecil yang mengagumi lukisan, lalu membalik kanvas lukisan itu kemudian menemukan kekosongan di balik kanvas lukisan itu. Seperti daun yang berwarna kemudian ketika dilihat melalui mikroskop elektron sampai ke atom-atomnya hanyalah kerangka. Bagai tirai-tirai teater yang tersingkap di baliknya, bagai layar-layar wayang yang dimainkan sang dalang. Ya, seperti kerangka yang tertutup kulit penampilan belaka, yang menandakan kita hidup di dunia mimpi, di alam impian, jauh dari kenyataan yang sebenarnya di dimensi lain. Seperti anak kecil yang tak terlalu paham dengan kesenian sehingga mencabik-cabik kesenian sampai tak berbentuk lagi dari asalnya. Karena itulah, dunia hanya permainan belaka. 
Ya, jangan sampai kesenian menjadi seperti kentut, hanya mencari sensasi sekejap, dengan aroma yang menyengat dan menyita perhatian, namun kemudian sirna di udara. Apalagi ketika kesenian masuk ke ranah industri, jangan sampai tuyul-tuyul memperkaya tuan-tuan tertentu, tapi bagaimana memberdayakan tuyul agar bisa memberi lapangan pekerjaan dan menghidupi seluruh karyawan. 
Situbondo, 8 September 2017
___
Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) lahir di Situbondo. Suka berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama kawan-kawannya. 
Sumber foto: Salvador Dali - The persistence of memory

Seni Kentut dan Tuyul Industri Media Seni Kentut dan Tuyul Industri Media Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on September 08, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar