Surat dari Akhirat

Oleh : Sainur Rasyid
Sore itu, Mat Sandal sambil memungut sampah plastik kemasan yang sedang berserakan di pinggir jalan. Ketika sedang jongkok, telinga Mat Sandal sedang menangkap sesuatu dari kejauhan di tumpukan daun kering
Kreks, kresss...sskk
“Mbah Yayan melihat sesuatu?” Mat Sandal berujar pada Mbah Yayan yang sedang bersamanya. Mat Sandal tetap pada posisi jongkok, sembari menunjuk pada sumber bunyi tadi.
"Saya tidak melihat apapun, Mat. Keculi gerombolan tikus sedang memakan sampah," dengan mata melolotot dan wajah agak mengkerut, Mbah Yayan menimpali pertanyaan Mat Sandal.
Tanpa mempedulikan tikus tadi, Mat Sandal dan Mbah Yayan kembali memungut sampah plastik dan memasuk kedalam kantong plastik merah yang dibawanya.
Entah kemana tujuannya Mat Sandal dan Mbah Yayan, Sesekali Mat Sandal mengusap keringat di pelipis kepalanya. Tak terasa kresek merah yang Mbah Yayan bawa sudah mulai terasa agak berat karena sampah sudah penuh.
Di sebuah tanjakan jalan berbukit, terlihat orang sedang menyabit rumput di samping kiri jalan. Melihat tempat yang cukup teduh, Mbah Yayan berinisiatif untuk berhenti.
“Mat, ayo duduk dulu!”
“Iya, Mbah.”
Dengan sigap, Mat Sandal pun duduk di atas batu. Sementara Mbah Yayan duduk bersandar ke batu di bawah Mat Sandal.
Dengan memandang kejauhan tampak asap membumbung tinggi dari cerobong besar.
“Mbah tahu gak, sejak kapan pabrik gula itu beroperasi?”
“Saya juga tidak tahu, Mat. Sejak kecil, dulu pabrik itu sudah ada. Dan banyak tetangga yang kerja di sana.”
“Katanya yang bangun itu penjajah ya, Mbah? Kalau penjajah kok masih memberikan banyak pekerjaan?”
“Kadang Mbah mikirnya juga begitu, Mat. Itu kamu lihat sendiri,” dengan agak bersemangat Mbah Yayan menunjuk di kejauhan luasnya ladang tebu berjejer kotak-kota yang berbeda dengan beberapa kotak lainnya.
Mat Sandal dengan muka manyun menatap kosong.
"Mereka pintar melihat peluang, Mat. Coba kamu pikir, sampai hari ini petani kita masih banyak yang menanam tebu."
“Kalau seandainya dulu penjajah tidak membangun pabrik gula, kira-kira kita bisa punya pabrik gak ya, mbah? Saya pernah dengar juga, katanya yang membangun pengairan sawah juga mereka ya, Mbah? Sampai rel, pelabuhan dan jalan mereka juga yang membangun?”
“Terlalu banyak yang kamu tanyakan, Mat. Terus Mbah mau jawab yang mana dulu ini, Mat?”
Tak sempat dijawab, tiba-tiba mereka dikagetkan suara ban sepeda yang cukup kencang dari turunan jalan, suara sandal bergesekan dengan ban sebagai rem.
Sssttt....ssssttttt... prĂ k...bhuuuhk.
Mereka berdua langsung melompat, terlihatlah orang separuh tua sambil meringis kesakitan, “Duh...duh....”
"Kamu sudah tahu jalannya rusak begini masih saja ngebut, Pak," tegur Mat Sandal pada lelaki separuh tua yang terjatuh.
Berbeda dengan Mbah Yayan, tanpa ngomong ia sigap membantu lelaki tadi untuk berdiri.
Mat Sandal masih nyerocos, “Pak, Pak, lain kali hati-hati kalau naik sepeda! Apalagi Bapak membawa rumput seeeee....,” tanpa melanjutkan omongannya, Mat Sandal merasa ada suara sepeda dari atas jalan yang menikung. Dengan sigap Mat Sandal lari-lari ringan dan memberi aba-aba kepada seseorang yang baru mau melintas untuk pelan-pelan.
“Pelan-pelan, Buuuk! Ada orang yang jatuh.”
Wanita yang tidak terlalu tua menarik rem sepedanya untuk berhenti dan turun dari sepeda.
Assstagfirullah, Paaak kok sampai jatuh begitu?” Sambil menyandarkan sepedanya di sebuah pohon yang tak jauh dari tempat kejadian, ternyata yang jatuh itu adalah suaminya.
Mbah Yayan memberikan sehelai kain dan meminta bapak yang jatuh tadi untuk membersihkan luka di sikunya yang masih meneteskan darah. Sontak Mat Sandal memalingkan muka karena tidak bisa melihat darah.
“Tadi rem sepeda saya putus, Buuuuk!”
“Lain kali hati-hati, Pak. Sudah tahu jalannya rusak begini,” timpal istrinya sambil memegang tangan suaminya yang dituntun kepinggir jalan.
Mbah Yayan mengambil sandal dan topi yang dipakai lelaki tadi,
“Maaaat.... sini bantu saya untuk ngangkat sepeda!”
Mbah Yayan memegang setir sepeda. Sementara Mat Sandal mengambil posisi di belakang langsung mengangkat rumput yang masih cekat diboncengan sepada tadi. Mat Sandal memperbaiki posisi rumput sambil mendorong dan memegangi rumput. Dan Mat Yayan menunjukkan pohon untuk menyandarkan sepeda yang dibawanya.
Wanita tadi mengambil barang kecil dari sakunya, “Biar dah, Pak! Saya telefon anak kita untuk menjemput Bapak dan rumputnya itu, nanti Bapak langsung bonceng saja.”
Selang beberapa menit ada suara motor dari kejauhan dan anak separuh baya dengan penampilan agak necis menghampiri wanita tadi dan langsung membonceng lelaki yang jatuh tadi.
Dengan membawa kain penuh darah, wanita tadi menghampiri Mbah Yayan.
“Terima kasih banyak ya, Pak, sudah membantu suami saya.”
“Iya, Buk. Lain kali hati-hati di jalan!” Kata Mbah Yayan.
Wanita dan bapak yang dibonceng anaknya pun berlalu dengan meninggalkan sepeda dan rumput di sana.
“Ayo, Mat. Kita jalan lagi!”
Tanpa bicara Mat Sandal pun mengangguk untuk melanjutkan perjalanan, sesekali Mat Sandal melirik ke aspal yang menyisakan tetesan darah tadi.
“Kamu takut sama darah ya, Mat?”
Mat Sandal hanya mengangguk lagi.
Sekitar 100 meter mereka berjalan tanpa ada omongan. Mbah Yayan hanya melihat keindahan pemandangan sore itu.
“Kamu kenapa, Mat?”
“Nggak apa-apa, Mbah.”
Mat Sandal yang awalnya lebih banyak berbicara tiba-tiba dia menjadi pendiam.
“Padahal enam kali purnama kita melihat alat berat sedang parkir di sini dengan tumpukan pasir dan batu pecah kecil menumpuk di sisi kiri jalan, ada pengaspalan jalan di sini, kok sekarang jalannya sudah rusak ya, Mat?”
Mat Sandal pun masih diam tanpa bahasa. Diamnya Mat Sandal merupakan ekspresi yang menyisakan belasan tafsir bagi Mbah Yayan.
Menjelang petang, Mat Sandal semakin mempercepat langkahnya. Mbah Yayan pun mengikuti irama langkah Mat Sandal. Dari balik bukit yang mereka lalui nampak jalan menurun dan terlihatlah beberapa genteng rumah di kejauhan.
“Itu, Mat.” Sambil menunjuk dan menghentikan langkahnya, tempat yang kita tuju sudah terlihat.”
Mat Sandal pun masih tanpa kata berjalan meninggalkan Mbah Yayan.
“Tunggu, Mat!” Dengan nada sedikit kesal dan menggelengkan kepala. Mbah Yayan mengejar Mat Sandal.
"Kita kan sudah hampir sampai, Mat. Kita tidak usah buru-buru."
Seperti orang yang sedang terbakar emosi dengan napas tersengal-sengal dilihatnya Mat Sandal ingin segera sampai ke tempat yang ia tuju.
Mereka baru saja melewati turunan yang panjang kembali melewati jalan datar.
“Tunggu Mat!” Mbah Yayan kembali membujuk Mat Sandal untuk pelan.
Mat Sandal masih berjalan terus. Namun, secara tiba-tiba Mat Sandal menghentikan langkahnya sekitar 10 meter di depan jembatan. Mat Sandal menatap sesuatu di depannya, kresek plastik putih yang diikat pada sebatang kayu ditancapkan di tengah jembatan sebagai tanda bagi orang yang melintas kalau jembatan itu berlobang.
Sambil berjalan pelan Mat Sandal tanpa melepaskan pandangnya.
“Kenapa, Mat?” Tanya Mbah Yayan yang membuntuti Mat Sandal di belakangnya.
Cukup lama Mat Sandal memandang, menatap dengan tajam lobang di tengah jembatan. Sesekali Mat Sandal menarik napas panjang sambil menggelengkan kepala
Mat Sandal masih menatap dan menelisik kresek tadi.
“Kalau mau jalan terus sana duluan, saya masih mau mencuci muka dan kaki dulu, soalnya kotor, Mat," begitu kata Mbah Yayan sambil mengibas-ngibaskan celana panjangnya dan mencari jalan menuju kebawah jembatan yang sedang dialiri air.
Yang awalnya Mat Sandal terburu-buru ingin segera sampai tiba-tiba dia mengikuti Mbah Yayan menyusuri jalan setapak.
Setelah celana Mbah Yayan dilipat ke atas, dengan hati-hati Mbah Yayan langsung turun di sisi pinggir sungai setengah di bawah lutut, gemercik, byur, byur, sambil mengusap wajahnya berkali-kali. Mat Sandal pun melakukan hal yang sama.
Mbah Yayan melihat aliran air di belakang.
“Mat, ayooo sini!” Panggil Mbah Yayan menyuruh Mat Sandal segera naik ketepian sungai. “Coba kamu perhatikan itu!” Mbah Yayan Menunjuk aliran sungai di belakang, "Tentunya kamu tahu, Mat, bahwa betapa indahnya air yang tenang itu dari pada deburan ombak yang menggebu-gebu di lautan sana." Seakan Mat Sandal di ajak pada kesunyian kemericik aliran sungai yang cukup tenang.
“Kamu tahu tidak, Mat. Wajahmu tadi seperti apa?”
Mat Sandal masih terbawa oleh aliran sungai yang tenang.
“Kamu tahu banjir bandang, Mat? Yaa Mat.....? haaaaa...? Kamu tahu banjir bandang ngak?”
Dengan sedikit senyum Mat Sandal menoleh ke arah Mbah Yayan,” persis mukamu tadi itu, Mat.”
“Hahahaha, hahahaha,” akhirnya Mat Sandal pun tertawa setelah sekian menit dia diam semenjak ada orang terjatuh di jalan beraspal.
“Ayo kita jalan lagi, Mat!”
Matahari sudah tak terlihat, benda yang jauh sudah tak nampak mata. Mereka terus menyusuri jalan aspal yang rusak, belasan rumah sudah mereka lalui, suasana perkampungan sudah terasa, di sepanjang jalan masuk kampung mereka berpapasan dengan anak kecil yang hendak pergi untuk mengaji di surau.
Ahirnya Mat Sandal berhenti di depan sebuah rumah yang terang mencolok, dipenuhi lampu di berbagai sudut halaman rumahnya. Sebelum memasuki halaman rumah yang dituju, Mbah Yayan sepintas membaca tulisan yang terbuat dari papan kayu bertulisakan "Rumah Kepala Desa".
Nampak seorang lelaki, umurnya kisaran 47 tahun sedang santai bermain gawai di teras rumahnya.
“Assalamu Alaikuummm.”
Dengan tatapan tajam pemilik rumah melihat kedua tamunya.
“Booohhhh, kamu, Dek, sama Mbah Yayan. Waalaikum Salam. Ayo masuk, ayo sini!”
Mereka berjabatan tangan.
"Kok nggak telefon dulu kalau mau ke sini, Dek. Kalau kamu telefon dulu kan nanti bisa saya jemput ke jalan raya,” lanjutnya sambil mempersilahkan duduk. Mbah Yayan dan Mat Sandal pun langsung duduk.
“Gimana kabar keluarga, Dek?”
“Sehat semua, Kak.”
Sambil membuka dompet Mat Sandal mengambil sesuatu dari selipan kertas di dompetnya.
“Saya sengaja tidak memberitahu terlebih dahulu untuk datang ke sini. Dari rumah saya sama Eppak hanya dititipkan ini, Kak.”
Mat Sandal menyodorkan selembar kertas. “Ini, Kak.”
Maka di ambillah kertas tadi oleh kakaknya mat Sandal.
“Apa ini, Dek? Saya juga tidak tahu, Kak.”
Dibukalah lipatan kertas itu oleh kakak Mat Sandal, sontak setelah kakak Mat Sandal membuka sebentar. Tiba-tiba wajahnya membeku, tatapannya kosong seakan dadanya sesak.
Seketika suasana hening di ruangan itu. Lama sekali mereka bertiga diam. Hanya sesekali Mat Sandal dan kakaknya saling memandang.
Mbah Yayan bingung melihat wajah mereka berdua ketika membuka selembar kertas dari ayahnya. Mbah Yayan penasaran.
“Heemmm...hemmmm,” Mbah Yayan menderehem dan memberanikan diri untuk bertanya.
“Apa itu, Cong?”
Diperlihatkanlah kertas itu kepada Mbah Yayan. Dengan suara pelan Mbah Yayan mengejanya,..
A-K-H-I-R-A-T

Kemudian wajah Mbah Yayan mengkerut seperti orang yang berusaha memahami sesuatu, Mbah Yayan menunduk. Mereka bertiga terdiam seperti teringat sesuatu. []
___
saatchiart.com
Surat dari Akhirat Surat dari Akhirat Reviewed by Redaksi on September 12, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar