TIPS: Menulis Status Anti-Galau di Medsos

Status-Status yang Berseliweran
Puluhan status beredar di beranda media jejaring. Begitu mudah menerbitkan gagasan kepada ribuan orang di generasi milenial ini. Tak seperti zaman mesin ketik, merpati pos atau menunggu siaran radio. Inilah era penerbit digital, siapa saja kapan saja mudah menerbitkan gagasan. Setiap detik terbit pemikiran baru, ide-ide baru, gagasan dadakan. Dari status bernada ramah, santun, inspiratif, sampai status yang provokatif, dan alay bin lebay. Dari status dengan tata bahasa rapi dan mudah dibaca sampai yang mirip sandi kriptografi. Jika status bernada ramah dan inspiratif, maka sah saja ditujukan kepada semua orang. Pembaca mendapat manfaat dan penulisnya mendapat pahala karena menyebar ilmu dan inspirasi. Namun, bagaimana dengan status yang provokatif? Yang ujung-ujungnya mengakibatkan konflik horisontal, vertikal sampai diagonal.
Atau sharing berita yang (ternyata) palsu alias hoax, tanpa kroscek. Atau status yang alay dan lebay ala remaja puber yang baru jatuh cinta atau baru diputus pacar? Atau lagi jengkel dengan si anonim dan gagal move on. Ditujukan kepada siapa statusnya? Seperti melempar batu sembunyi tangan, seperti aksi vandalisme yang merusak fasilitas publik. Alangkah baiknya jika yang dilempar adalah kembang yang mewangi aromanya. Alangkah baiknya jika status yang disebarkan berguna untuk umat. Alangkah bijaknya, jika ditujukan kepada orang-orang tertentu maka kirimlah pesan langsung kepada yang dituju. Jika tidak bernyali mengatakan kepada orangnya langsung atau sekadar curhat, bikinlah pesawat kertas atau menaruh pesan dalam botol lalu larung ke laut, siapa tau, kelak, pesan itu akan sampai juga, setidaknya ditemukan putri duyung atau dibaca lumba-lumba. Siapa tahu....
Kata-kata memang bisa mengubah sesuatu, namun penulis dan pembaca harus turun ke jalan dan turut menyingsingkan lengan, bekerja dan mengawal untuk membangun negeri ini. Atau setidaknya membikin damai penduduk bumi dan tidak membuat makin galau.
Berikut kiat berstatus ria di media jejaring:
1. Bacalah Basmalah dan Puji Syukur
Bismillah. Sebelum memutuskan untuk curhat atau berstatus ria, bacalah basmalah. Dan bersyukurlah karena kita masih dilimpahkan kesehatan serta masih memiliki kesempatan berselancar di internet. Ya, sinyal internet masih lancar, satelit di atas langit masih selamat dari meteor, serta menara listrik dan menara sinyal masih tegak berdiri.
Karena tiap pekerjaan tanpa basmalah maka tiada gunanya. Dengan basmalah maka pikiran kita akan lebih tenang untuk menulis status sehingga tidak mengusik para pembaca. Karena dalam pikiran yang sehat terdapat jiwa yang waras.
2. Cek dan Ricek
Agar tidak membuat pembaca salah paham dan salah tingkah, maka cek dan ricek kepada status kita sebelum diposting di media jejaring sangat penting. Menghindari baper dan menghindari pembaca gagal paham dan gagal fokus. Menghindari kita dari penyebar fitnah, berita hoax dan tidak salah paham dengan tujuan dan isi status yang kita tulis. Ditukan kepada siapa? Untuk apa? Apa gunanya? Orang cerdas selalu bisa kritis. Tidak serta merta percaya dengan berita yang di-sharing atau status yang dibaca, lakukan kroscek. Benarkah status dan kondisinya seperti itu?
3. Hindari Status Alay bin Lebay
- Gue sakit hati gara-gara lu … bagi yang merasa!
Kita sering menjumpai status seperti itu, atau….
- Obatnya jangan lupa diminum ya say
Siapa yang sakit? Apakah sakit fisik atau sakit jiwa? Ataukah keduanya? Siapa 'si say' ini? Apakah pacar? Gebetan atau sindiran? Lagi-lagi gak jelas deh!
- Harga cabe naik, harga terong turun
Jelas status di atas dari akun pedagang cabai dan terong.
Status yang berisi informasi berguna bagi masyarakat sebagai pembaca lebih tepat sasaran daripada status yang bernada pribadi. Jika sekadar curhat masalah pribadi alangkah baiknya mencari kamus kata-kata mutiara seperti di bawah ini:
- Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama baik.
4. Konfirmasi Siapa yang Dimaksud
Jika kita sedang bermasalah dengan satu dua orang atau kelompok tertentu. Maka tulislah surat kepada orang yang dituju. Tidak bijak jika kita saling membalas di media jejaring sosial yang ujung-ujungnya mengakibatkan orang lain ikut-ikutan menimpali. Apalagi bagi yang tidak mengerti pokok masalahnya di mana? Jika kita membaca status yang menohok masalah pribadi maka konfirmasi kepada orang yang membuat status. Tanyakan ditujukan kepada siapa statusnya? Misalnya pribadi kita sedang bermasalah dengan orang tertentu dan suatu ketika kita kepoin status-statusnya.
- Gak usah cari gara-gara deh dengan keluarga gue! Bagi Mr. xxxx
Pembaca yang mengenal si penulis status dan merasa hubungannya baik-baik saja tentu akan gagal paham. Kepada siapa status itu ditujukan? Apalagi kepada pembaca yang berpikiran ngeres dan selalu berpikiran negatif. Jangan-jangan gue lagi yang disemprot? Maka alangkah bijaknya jika kita mengganti status yang bernada pribadi dengan curhat yang lebih berguna bagi nusa dan bangsa, misalnya seperti ini:
- Kita adalah keluarga yang sehat lahir batin. Bhinneka Tunggal Ika!
5. Hindari Mencampuri Urusan Orang Lain
- Gue sedih, kamu jahat sama gue! Bagi yang nongkrong di trotoar!
Jika yang mengupdate status menggunakan profil cewek centil bin genit ala remaja ABG yang sering berswafoto. Maka tak perlu dukun untuk meramaikan komentar status itu. Dijamin puluhan komentar akan dilayangkan di bawah statusnya. Dan pertanyaan-pertanyaan akan dilontarkan penuh rasa kepo. Siapa yang jahat? Lu baik-baik saja kan? Sudah makan? Jangan lupa obatnya diminum! Tentu hal ini adalah pekerjaan yang luar biasa menganggur, membuang-buang waktu, tidak berfaedah dan tentu saja NSFW, tidak aman untuk dilanjutkan jika kita sedang punya pekerjaan yang lebih penting. Ya, daripada sekadar menanggapi celoteh cewek centil, misalnya.
Tentu saja si penulis status akan senang dikomentari karena mendapat perhatian. Apalagi sebagai makhluk individualis juga soksialis. Setiap makhluk pasti merasakan kesepian, butuh mencurahkan perasaan, butuh didengar, butuh diperhatian. Tapi, tidak harus dengan cara menulis status lebay bin alay juga sehhh!
Alangkah bijaknya jika status bernada sedih diganti dengan status yang lebih inspirasi dan berguna menasehati diri sendiri dan pembaca yang juga lagi sedih (karena membaca status itu).
- Gue sedih. Tapi pasti ada yang lebih sedih daripada gue!
6. Statusmu Harimaumu
Jika budaya lisan sudah digantikan dengan budaya berupdate status ria. Maka istilah lidah lebih tajam daripada pedang dan kata-kata lebih tajam daripada silet, di zaman media sekarang menjadi ‘statusmu adalah harimaumu.’
Berhati-hatilah menulis status yang bernada provokasi atau kesal dengan pihak tertentu. Boleh jadi pihak tersebut menanggapi dengan serius sampai mencari si penulis status sampai ke ujung dunia sekalipun! Apalagi sampai terjerat UU ITE dan polisi cyber hingga dicari-cari pihak berwenang dan orang tertentu yang sakit hati gara-gara status iseng kita. Jangan sampai deh! Di zaman democrazy memang bebas berpendapat, berkomentar, tentu saja memerhatikan etika, moral dan kesopanan yang ada. Berbeda jika kita face to face secara gentleman dan jantan dengan orang yang dimaksud, jika ingin kritik kita lebih tepat sasaran dan tanda bahwa bukan sekadar pengecut atau lempar batu sembunyi tangan.
Padahal hanya curhat iseng atau sekadar melontarkan ide-ide yang berseliweran di kepala. Tanpa sadar, penulis status menggunakan teknik totem pro parte, yang menyebutkan keseluruhan objek padahal yang dimaksud adalah sebagian. Misalnya, Indonesia sedang banjir! Padahal hanya di daerah-daerah tertentu yang mengalami banjir. Misalnya, negara ini kere! Padahal yang dimaksud adalah dirinya sendiri yang lagi kanker alias kantong kering!
7. Berpikirlah dengan Matang
Ucapan lebih cepat dari proses berpikir otak manusia. Kata-kata lebih cepat dari larinya anak panah dan peluru sekalipun. Karena itu bidiklah sasaran dengan tepat sebelum melepaskan anak-anak panah itu. Carilah kata-kata yang pas dan tersusun rapi, jelas ditujukan kepada siapa dan untuk apa.
Menulis berbeda dengan berbicara. Jika berbicara bisa keceplosan maka dengan menulis kita masih bisa mengeditnya, merevisi dan membetulkan tulisan kita. Kelak akan ada fitur anti keceplosan di media jejaring, bukti bahwa otak manusia memang sangat lambat dalam hal berpikir dan memroses data-data yang ditangkap panca inderanya.
8. Komunikasi yang Baik dapat Menyelesaikan Masalah
Ya, hampir semua masalah bisa diselesaikan dengan komunikasi. Tentu saja, komunikasi yang baik-baik dan menguntungkan kedua pihak. Apalagi bangsa Indonesia yang terkenal karena ramah dalam bermusyawarah demi mencari mufakat. Jika ada masalah yang mengganjal, bicarakan baik-baik langsung dengan orangnya. Diselesaikan dengan kekeluargaan melalui komunikasi yang baik. Niscaya masalah yang rumit pun akan terurai dengan komunikasi yang baik, sopan santun, ramah dan sabar.
Seorang Sufi pernah berpesan. “Jika tidak bisa bermanfaat bagi orang lain, maka jangan merugikan orang lain. Jika tidak bisa menolong orang lain, maka jangan mengganggu orang lain. Jika tidak bisa memuji orang lain maka jangan mencaci-makinya.” Kritik yang membangun lebih efisien daripada sekadar komplain tanpa memberikan solusi dan ikut mengawal dan berperan aktif di dalam sistem itu.
Memang mengkritik lebih mudah daripada memuji. Karena jika dipuji adalah candu dan kadang tidak perlu karena memang sudah kewajiban orang itu. Jika tidak bisa memuji dan tidak mengkritik dengan solusi, lebih baik diam.
Ibarat penonton sepak bola atau film sinetron, yang mudah mengkritik dan berkomentar. Ya, penonton hanya bisa menang kritik. Apalagi mencela tidak sesuai dengan adat budaya bangsa Indonesia yang musyawarah untuk mufakat dan rasa tepa selira yang tinggi. Apakah kita benar-benar bangsa Indonesia yang terkenal akan sopan santun dan rasa toleransi yang tinggi itu? Atau sudah kebarat-baratan dan ketimur-timuran? Tanyakan kepada rumput yang bergoyang.
Semua rambu-rambu bermedia sosial di atas tidak ada gunanya jika niat dan tujuan dari awal memang mencari konflik. Hendak mengail di air keruh, memprovokasi dan bahkan dibayar nasi bungkus demi menyebarkan berita hoax melalui media jejaring.
Semua berawal dari niat, tujuan, dan hasil apa yang akan kita harapkan. Jika Anda sopan, maka mereka pun segan. Betul gan?
____

Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) senang berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama kawan-kawannya.
 Sumber foto: pinimg.com

TIPS: Menulis Status Anti-Galau di Medsos TIPS: Menulis Status Anti-Galau di Medsos Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on September 18, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar