Ujian Sang Perjaka dan Hijrahnya (dari Kisah Nyata)

Saya mengalami ‘hijrah bersama-sama’ ketika masih kuliah di kota Malang. Saya harus pindah beberapa kali tempat kosan. Pertama kali pindah kos karena pemilik kos berlainan agama. Ada beberapa kebiasaan, tradisi, dan keseharian yang tidak sesuai dengan agama yang saya jalani. Awalnya saya bertahan tinggal di tempat kos itu, namun ternyata pemilik kos tidak menyukai saya karena membaca Al-Quran setiap bakda magrib. Suara lantunan ayat suci Al-Quran yang saya baca ternyata terdengar sampai ke rumah pemilik kos beragama lain itu. Ketika saya menyapa mereka, ada pandangan yang berbeda. Pandangan orang yang tidak suka dan suka akan berbeda.
Saya menyadari beberapa hal, setiap manusia tidak sama, walaupun beragama.
Saya memiliki beberapa teman yang berlainan agama, tapi mereka menyukai saya dan saling menghormati. Ini bukti bahwa setiap orang berbeda-beda dalam menjalani agamanya, jika benar-benar menjalani dengan baik maka akan menjadi manusia yang baik pula.
Rasulullah pernah bersabda: Ada segumpal daging di tubuh manusia. Jika daging itu baik maka baiklah seluruhnya. Segumpal daging itu adalah hati.
Bersama empat orang teman. Akhirnya, saya memutuskan agar kita pindah kos. Berhijrah ke tempat yang lebih baik lingkungannya. Walau, akhirnya kami mendapat tempat kos yang berbeda-beda di kota Malang.
Tempat kos terakhir yang saya temukan, juga memiliki kisah hijrah yang berbeda.
Sudah menjadi rahasia umum jika banyak tempat kos yang identik dengan kebebasan. Bahkan terlalu bebas sehingga menjerumuskan.
Ketika saya menginjakkan kaki di kos terakhir itu. Tempat kos itu dihuni oleh penghuni perempuan. Kenapa saya disuruh menempati kos perempuan?
Awalnya saya tidak tahu kalau tempat kos itu adalah tempat kos perempuan. Karena kenal dengan pemiliknya yang berada di luar kota. Saya diserahi kunci kos dan disuruh untuk mengurus tempat kos itu. Saya diserahi beberapa tugas bersih-bersih oleh pemilik kos. Mengatur jadwal piket kebersihan, membayar air listrik sampai mengumpulkan iuran pembuangan sampah.
Perasaan saya sudah mulai tak enak. Apalagi ketika pertama kali membuka pintu kos berlantai dua di jalan Raya Candi di kota Malang itu. Untungnya saya tidak sendirian. Ada seorang teman bersama saya. Sama-sama kuliah desain di Universitas Negeri Malang. Jadi saya tidak sendirian ketika berhadapan dengan beberapa penghuni perempuan di sana.
Yang menjadi pertanyaan adalah. Selain empat penghuni perempuan, ada satu orang pria yang berada di tempat kos itu. Saya berusaha mengenyahkan pikiran negatif. Berusaha berpikir positif saja. Walau akhirnya, saya mendengar bahwa pria itu, selain menjadi penjaga kos, juga sering tinggal lama di tempat kos itu.
Perasaan saya sudah tak enak ketika mendapat tugas sebagai penjaga kos. Saya disuruh untuk menempati kos itu, agar tidak menjadi tempat maksiat. Dan agar para penghuni perempuan di tempat kos itu pindah.
Perasaan saya campur aduk.
Minggu pertama tinggal di kos perempuan, kami tidak tegur sapa. Para penghuni perempuan itu mengerti bahwa kedatangan saya untuk mengubah tempat kos itu. Agar mereka pindah mencari tempat kos yang lain. Ada rasa tak tega kepada mereka, ada rasa kasihan, tapi apa yang bisa saya perbuat?
Sebagai laki-laki normal, tentu tinggal satu atap dengan perempuan yang bukan muhrim menjadi ujian yang berat bagi saya dan teman saya. Apalagi ketika berpapasan dengan para penghuni perempuan ketika mereka sedang mencuci pakaian, memasak, atau ketika hendak pergi ke kamar mandi. Tentu saja pakaian yang dipakai adalah pakaian sehari-hari ketika berada di dalam rumah. Beruntung saya dan teman saya memiliki iman yang kuat. Kami mengaji Al-Quran tiap bakda Maghrib.
Saya masih ingat pesan ayah. Pesan yang disampaikan oleh Kiai beliau, ketika ayah mondok di pesantren di Bondowoso dulu. “Kalau kamu berada di tempat yang jauh dari keluarga, berada di perantauan, hal yang pertama yang harus kamu lsayakan adalah mencari masjid atau musola terdekat. Dekatilah masjid dan berkenalan dengan orang-orang yang sering ke masjid.”
Kebetulan atau tidak, saya teringat ayah ketika di pesantren juga pernah menjadi penjaga asrama santri putri.
Tapi kali ini berbeda. Sangat berbeda. Saya menjadi penjaga kos perempuan! Dan bagaimana caranya agar kos itu tidak lagi menjadi tempat maksiat?
Beruntung di dekat kos itu, ada satu musola kecil dan ada satu masjid besar yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Saya sering solat di sana dan berkenalan dengan orang-orang yang solat di sana.
 Saya berusaha beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Berusaha akrab dengan para pemilik warung, para pemilik konter pulsa, sampai penjual sayur mengenal saya ketika belanja setiap pagi. Atau ketika ikut bergotong royong membersihkan lingkungan sekitar.


Karena sikap saya yang baik, masyarakat mulai memandang pendatang baru dengan baik. Mereka bersimpati jika kita bersikap baik dan jujur. Begitu pula para penghuni kos perempuan itu. Melihat kami bersikap positif, mereka juga ikut menjadi bersikap positif. Perlahan-lahan para penghuni kos mulai menyapa saya. Di antara mereka ada yang sudah bekerja di swasta, ada juga yang masih kuliah. Kadang saya diberi masakan ketika para penghuni perempuan itu memasak.
“Ini Mas, untuk sarapan,” ujar seorang perempuan penghuni kos. Ia memberikan nasi dan lauk pauk dalam kotak bekal.
“Terima kasih, Mbak. Saya jarang sarapan. Biasanya makan siang saja,” ujar saya dengan hati yang berdebar-debar.
Saya mengalami dilema waktu itu. Antara kasihan dan harus mengambil sikap. Rencananya tempat kos itu akan diubah menjadi tempat kos pria. Jadi, para penghuni perempuan harus pindah dari tempat kos itu. Saya berusaha berbicara baik-baik dengan para penghuni kos itu. Sehingga akhirnya mereka menerima keputusan pemilik kos. Satu per satu para penghuni perempuan akhirnya pindah. Saya berusaha mencarikan tempat kos lain yang memiliki lingkungan baik kepada mereka.
“Sudah gak usah repot-repot, Mas,” ujar mahasiswi itu. Saya ikut membantunya mengemasi barang-barang dari kamarnya ketika pindah. Memasukkan buku-bukunya ke dalam kardus. Sampai mengantar dan mengangkat kardus-kardus itu ke tempat kosnya yang baru. Kebetulan tidak jauh dari tempat kos yang lama.
Setelah para penghuni perempuan pindah, tidak lantas ujian juga pindah. Justru para penghuni pria yang datang berikutnya memberikan ujian lain lagi.
Saya harus kembali lagi berjuang meng-hijrahkan orang lain ke jalan yang baik.
Suatu malam, saya mendengar suara ribut di dalam salah satu kamar. Jantung saya berdebar-debar karena di antara suara laki-laki itu ada suara perempuan. Sejak kapan penghuni kos laki-laki membawa perempuan ke kos ini? Saya bertanya-tanya karena tidak melihat kedatangan seorang perempuan ke dalam tempat kos ini.
Dengan memberanikan diri, saya bergegas ke arah kamar yang mengeluarkan suara ribut dan bising oleh hentakan musik itu. Firasat saya tak enak.
Ketika pintu kamar kos dibuka, asap rokok menguar keluar dari ruangan. Suara-suara laki-laki dan perempuan makin jelas terdengar di antara suara musik yang sengaja diputar keras-keras. Jantung saya makin berdebar-debar ketika melihat perempuan itu berada di antara laki-laki di kamar kos itu. Ternyata mereka dalam keadaan mabuk minuman keras.
“Hei, tolong pergi! Kalian mengganggu para tetangga!” seru saya dengan jantung yang berdebar-debar. Apalagi di dalam kamar itu ada empat laki-laki, satu di antaranya mabuk berat. Perempuan itu berada di pelukan pria yang sedang mabuk berat.
“Iya Mas, maaf … maaf!” ujar seorang penghuni kos. Ia mengenal saya dengan baik sebagai orang yang lurus. Wajahnya nampak malu. Karena tidak enak hati melihat saya, akhirnya ia menyuruh teman-temannya untuk pulang. Mereka menopang teman mereka yang mabuk berat, dan perempuan itu juga ikut pulang.
Kejadian maksiat bukan hanya terjadi satu kali. Bahkan beberapa kali, dan saya harus berusaha berani mengambil sikap yang benar.
Di lain waktu, terjadi ketika bakda isya. Saya masih mengaji waktu itu, sedangkan di kamar kos sebelah terdengar suara musik yang diputar keras-keras. Di antara suara musik itu terdengar suara perempuan. Karena masih mengaji, saya mengeraskan suara bacaan Al-Quran. Jadilah, saya berlomba adu suara keras dengan musik di kamar sebelah. Perlahan, suara musik tadi mereda. Dan terdengar suara perempuan yang pamit dari kamar sebelah. Hati saya pun terasa lega dan melanjutkan membaca Al-Quran dengan suara seperti biasanya. Sejak saat itu, karena sikap saya yang baik, maka tempat kos itu pun menjadi lebih baik. Para penghuninya tidak lagi berbuat maksiat di dalam kos. Bahkan penghuni kos pergi solat jumat bersama dan menjalankan solat lima waktu.
Jadwal piket kebersihan, gotong royong, saling toleransi demi kebaikan bersama, berhijrah bersama-sama, membuat hari-hari di tempat kos itu menjadi lebih cerah.
Waktu itu, jauh dari keluarga, jauh dari ayah ibu, dan jauh dari saudara membuat saya makin menguatkan iman. Hanya Allah sandaran hati yang terbaik. Sandaran hati yang mampu menguatkan lahir dan batin. Berada jauh dari keluarga, makin membuat saya teguh, makin membuat usah saya untuk hijrah menjadi lebih kuat. Beruntung masih ada orang-orang yang peduli, orang-orang yang bersimpati, itu semua karena kita memperlihatkan hasil hijrah kita kepada mereka. Memperlihatkan bukti melalui sikap baik dan kebenaran di hati kita.
Kita tidak bisa berhijrah seorang diri. Kita membutuhkan inspirasi dan kekuatan dari Allah melalui cahaya Rasulullah dan para sahabatnya. Kita butuh dukungan ketika berhijrah melalui orang-orang terdekat kita. Sebagaimana Rasulullah ketika berhijrah bersama para sahabat terdekat dan bersama orang-orang yang masih beriman.
Berhijrah bersama-sama dapat meringankan beban. Berhijrah bersama-sama membuat hidup lebih cerah dan mencerahkan orang-orang di sekitar kita. Jika kita bisa berhijrah, maka ajaklah orang lain berhijrah. Sehingga kita tidak menanggung sendiri beban di pundak kita. Tidak ada manusia yang bisa berhijrah sendiri, pasti ada orang-orang yang mendukungnya, orang-orang yang menginspirasinya untuk hijrah, dan orang-orang yang masih peduli. Walau hanya satu dua orang yang mendukung, itu sudah lebih dari cukup.
Rasulullah pun tidak sendirian ketika berhijrah bersama sahabat-sahabat beliau.
Situbondo, 22 September 2017
___

Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) senang berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama kawan-kawannya.
 Sumber foto: cantikberhijab.club




Ujian Sang Perjaka dan Hijrahnya (dari Kisah Nyata) Ujian Sang Perjaka dan Hijrahnya (dari Kisah Nyata) Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on September 22, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar