Kisah Horor: Dari Horor Picisan Sampai Sastra yang Melampaui Zaman



Sebagian besar manusia tidak dapat mengungkapkan atau mendiskusikan ketakutan dan kecemasan mereka. Di sini tugas penulis horor memberikan tempat untuk rasa takut mereka yang abstrak dalam pikiran itu menjadi sesuatu yang nampak nyata.

Saya lebih menikmati suasana sunyi dari latar hujan, kabut, tempat terpencil, hutan, dan kesendirian tokoh utama dalam memecahkan ketegangan dan misteri dari kisah horor tersebut.

Oleh: Ahmad Sufiatur R.

Novel pertama saya yang ditulis sejak SMA dan pertama kali terbit adalah novel horor berjudul Diary Hantu. Berhasil dicetak ulang dan diterbitkan di luar negeri dan diplagiat menjadi film berjudul Ghost Diary.

Setelah itu saya diminta oleh beberapa penerbit nasional untuk menulis novel misteri dan horor. Maka ada beberapa karya saya yang bergenre horor-misteri-detektif-sains fiksi. Misalnya novel saya yang berjudul Ghost Traveller, Silent Traveller, Teror Suramadu, dll. 

Di majalah pustaka Matabaca, pernah dibahas tentang genre horor dari mulai karya Abdullah Harahap sampai karya Stephen King dan Mary Shelley sampai artis legendaris Suzanna yang terkenal sampai ke negeri Belanda karena berbagai film horor yang dibintanginya.

Genre horor memang tidak ada matinya. Tidak ada musimnya karena selalu saja ada peminatnya di musim apapun. Merupakan genre yang tertua dari peradaban manusia. Ketika manusia purba menceritakan tentang bahayanya kegelapan, tentang kiamat dari penyakit, bencana alam dan dari supranatural yang tidak terjangkau akal.

Ada Apa dengan Horor?

Waktu masih sekolah dasar, saya masih ingat ketika menemukan buku komik berjudul Siksa Neraka. Di dalamnya nampak gambar manusia-manusia telanjang yang disiksa dengan sadis. Gambaran yang membuat saya waktu itu tidak bisa tidur. Juga ketika film penyiksaan jenderal G30S/PKI diputar di seluruh stasiun TV pada waktu itu. Setelah nonton film penyiksaan itu, saya sulit tidur. Bahkan sampai sekarang bayangan dan suara horor itu masih saya ingat. Jadi, apakah manusia dekat dengan horor? Ya, karena kehidupan manusia sebagai makhluk hewani-yang-berakal tidak terlepas dari horor; peperangan, ketimpangan sosial, kecelakaan, musibah, penyakit, kriminalitas, dan pelecehan. Jika hewan membunuh untuk kebutuhan makannya, maka tidak dengan manusia yang bisa membunuh demi harga dirinya, kehormatannya, dll.

Bahkan Rasul bersabda: jika aku katakan jati diri manusia yang sebenarnya, maka kamu tidak akan berani melangkah di muka bumi. 

Sebegitu berbahayakah manusia? Sejarah manusia telah membuktikannya. Bahkan bagi manusia yang berakal dan berperadaban sekalipun, masih berusaha membangun 'surga' di masa depan dengan mencegah neraka di dunia sebelum neraka di akhirat dan mencegah kiamat di dunia sebelum kiamat yang sebenarnya. Sebagian besar manusia berusaha memadamkan konflik dan peperangan yang berusaha dikobarkan manusia lainnya.

Ketika sudah remaja, saya mulai menyadari bahwa banyak ibu-ibu tetangga yang menakut-nakuti anak-anaknya agar tidak bermain terlalu jauh. “Jangan ke sana nanti bertemu pocong!” atau “Ayo tidur kalau tidak tidur nanti didatangi kuntilanak!” Begitulah cara ibu-ibu agar anaknya menjadi penurut. Ya, dengan cara menakut-nakutinya! Akibatnya? Tentu anak-anak akan jadi penakut. Walau anak-anak yang lebih cerdas akan bertanya-tanya, malah akan menjadi makin penasaran sehingga makin mencari kebenarannya. Memang menakut-nakuti menjadi cara yang praktis dan efisien di tengah kesibukan, terbatasnya waktu, dan terbatasnya ilmu mendidik anak-anak. Bahkan masih ada dongeng yang beraroma horor. Apalagi horor memang lebih diminati kaum perempuan, karena ketika mendapat datang bulan pertama, perempuan mulai mengenal kepada rasa abstrak; cemas, sakit dan darah, karena itu secara seksual dan pemikiran dewasa, perempuan lebih dulu matang daripada laki-laki.

Kisah horor pun termasuk cerita yang digemari dari warung kopi, di trotoar, di kantor sampai di tempat ibadah dan di sekolah-sekolah.
Jenis-Jenis Horor


  1. Kisah Horor Sastra yang Melampaui Zaman
Novel horor sains fiksi berjudul Frankenstein karya Mary Shelley yang diterbitkan tahun 1818. Sampai hari ini novel Frankenstein masih diterbitkan. Sudah ratusan film dan teater diadaptasi dari novel ini karena pesan moralnya yang kuat mengenai eksistensi manusia yang berusaha mengubah ciptaan Tuhan. Begitu pula novel berjudul Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde karya R.L. Stevenson yang pertama kali terbit tahun 1886 masih terbit sampai sekarang.
Dan masih banyak lagi kisah-kisah horor yang masih dapat kita baca dan dengar dari karya-karya zaman dulu. Kisah horor yang muncul di masyarakat merupakan karya sastra jika terus ada dan diwariskan melalui lisan atau tulisan dari generasi ke generasi dengan latar budaya yang berbeda. Misalnya, pocong di Indonesia, vampir di Eropa, vampir versi China, dan jin di Timur Tengah, memiliki latar belakang tradisi dan budaya di mana horor itu lahir dan berkembang.

  1. Kisah Horor Picisan
Kisah horor picisan hanya menjual adegan seram dan sadis tanpa pesan moral. Apalagi banyak film horor Indonesia yang vulgar dengan cerita bercampur komedi yang garing dan tidak jelas pesan moralnya. Masuk dalam film kelas B, yaitu film berbiaya rendah dengan kualitas rendah. Bahkan ada yang tidak pantas masuk dalam film kelas B karena dilarang beredar dan berbahaya.

  1. Kisah Horor Pop yang Menjadi Trend
Kisah horor yang masih menjadi trend. Misalnya kisah novel Twilight, novel Harry Potter, novel Goosebumps, dan segudang karya tulis cerpen, novel sampai film yang masih mengangkat tema horor dengan berbagai genre campuran; horor misteri, horor romance, horor drama, horor sains fiksi dan lain-lain.



Kenapa Menulis Horor?

Seniman meniru dari alam, penulis horor pun meniru dari kenyataan yang terjadi karena keterbatasan manusia, yang menggunakan bahan-bahan ciptaan Tuhan.

Dalam biografinya, Stephen King menjelaskan bahwa menulis dan membaca kisah horor merupakan kemampuan untuk menjembatani dan menyalurkan ketakutan fantasi manusia yang abstrak dengan ketakutan yang nampak lebih nyata.

“Ada orang-orang yang hidupnya penuh dengan ketakutan, bahwa mereka takut tidak sukses dalam pekerjaan, tidak berhasil dalam pernikahan, dan kecemasan karena sistem masyarakat yang rumit dan salah di sekitarnya. Dan sebagian besar manusia tidak dapat mengungkapkan atau mendiskusikan ketakutan dan kecemasan mereka. Bahkan terlalu rumit, terlalu rahasia, terlalu tabu, terlalu abstrak atau mungkin tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Di sini tugas penulis horor memberikan tempat untuk rasa takut mereka yang abstrak dalam pikiran itu menjadi sesuatu yang nampak nyata,” ungkap Stephen King. Penulis produktif yang banyak meraih penghargaan itu. Walau tidak semua karya Stephen King yang saya suka, hanya beberapa novelnya yang saya suka yaitu The Girl Who Loved Tom Gordon, dan filmnya yang berjudul
The Shawshank Redemption dan The Mist yang terinspirasi dari film berjudul Silent Hill. 

Film Silent Hill digarap cukup berkualitas karena diadaptasi dari game (delapan seri game) dengan membangun atmosfer yang cukup kuat melalui musik latar garapan Akira Yamaoka yang menghasilkan beberapa album bertema Silent Hill. Pesan moral yang ada di film Silent Hill adalah ketakutan akan sekte dan ideologi berbahaya, yang dapat merusak generasi muda. Latar Silent Hill diciptakan dari trauma di Jepang akan peperangan, bom atom, radiasi nuklir, dan bencana alam gempa bumi. Selain Silent Hill juga ada game berjudul Siren dengan tema yang nyaris sama, horor apokolaptik, yaitu horor kiamat seperti film Resident Evil, Maze Runner, The Road, Book of Eli, Terminator, dll 

Stephen King merupakan dari sekian banyak penulis yang berusaha mengawinkan horor dengan sastra, walau menurutnya masih belum sepenuhnya berhasil. Namun, ia termasuk penulis yang berhasil mengangkat horor picisan menjadi hal yang diperhitungkan baik di dunia penerbitan dan film. Stephen King berusaha mengikuti karya-karya sastra (Horor dan misteri) yang melampaui zaman seperti penulis Mary Shelley, Edgar Allan Poe, H.P. Lovecraft dan R.L. Stevenson. Juga penulis kelas dunia yang menggunakan formula horor dalam karyanya seperti penulis J.R.R. Tolkien, Sir Arthur Conan Doyle, sampai George R.R. Martin, J.K. Rowling, Stephenie Meyer, Neil Gaiman, R.L. Stine dan lain-lain.

Di Indonesia juga banyak karya-karya bergenre horor, apalagi sejak Eka Kurniawan, dkk dengan penerbit terkemuka mengangkat genre ala Abdullah Harahap yang dianggap picisan menjadi karya sastra dengan judul Kumpulan Budak Setan. 

Masih memandang sebelah mata kisah horor?


Bagaimana Ciri Horor yang Picisan?

  1. Sadis tanpa pesan moral
  2. Vulgar tanpa kejelasan maksud dan tujuan
  3. Jalinan cerita yang tidak berkualitas
  4. Konsep yang terlalu sederhana dan malas
  5. Hanya bertujuan menakut-nakuti tanpa pesan moral
Apa Pesan Moral dari Horor?

Banyak hal yang dapat dipetik dari kisah horor yang sarat pesan moral. Horor dapat mengingatkan manusia tentang kematian, tentang dunia yang fana, tentang akhirat, tentang ketimpangan sosial dan protes terhadap sistem dan hukum buatan manusia yang telah memperbudak manusia lain. Memberikan penyaluran dari masalah yang tidak terurai dari konflik di keluarga sampai konflik perang saudara, politik, dan ketegangan perang urat syaraf dan ketidakadilan di dunia yang diakibatkan oleh peperangan, terorisme, penjajahan, pelecehan, ideologi sesat, korupsi, tindak kriminal dan masalah-masalah lain yang seakan tidak ada jalan keluarnya.

Tahun 2016 lalu, saya diundang untuk menjadi penulis skenario salah satu film indie bergenre horor berjudul Sarang Maut. Saya sempat bingung karena ketika saya bergabung, naskah skenario yang asal-asalan sudah jadi dan teknisnya belum benar. Setelah saya menulis ulang skenario dan menambahinya agar sesuai durasi film panjang sekitar satu jam, ternyata di lapangan nyaris tidak dipakai karena si sutradara membuat ceritanya sendiri. Maklum, film indie horor yang dibuat sekadarnya dalam waktu yang mendadak dan terbatas di antara kegiatan kampus yang menumpuk. Juga pengalaman kru film yang baru pertama kali membuat film indie berdurasi panjang dengan pemain yang cukup banyak. Di antara berbagai kendala, ujung-ujungnya kru film pun membuat cerita skenarionya masing-masing di luar skenario, di luar tugas mereka. Walau begitu, akhirnya film selesai juga dan tiket terjual habis laris bagai kacang goreng. Setelah itu apa? Ya, hanya sebatas itu saja, hanya sebatas trend sekejap setelah itu tidak ada kelanjutannya lagi. Begitulah jika karya yang dibuat hanya kejar tayang dan tidak memiliki pesan moral yang kuat.

Dari sekian banyak genre horor yaitu gore (sadis), slasher (penuh adegan menebas tubuh), thriller, ghotic, sains fiksi dan psikologis. Saya termasuk penggemar kisah dan film horor berjenis sains fiksi dan horor psikologis. Saya tidak tahan jika menonton film horor yang terlalu sadis dengan banyak adegan berdarah dan potongan tubuh. Saya lebih menikmati suasana sunyi dari latar hujan, kabut, tempat terpencil, hutan, dan kesendirian tokoh utama dalam memecahkan ketegangan dan misteri dari kisah horor tersebut.

Kesimpulannya, genre horor merupakan jenis kisah yang lahir bersama sejarah manusia ketika lahir di dunia. Merupakan kisah yang menarik rasa penasaran dan insting zaman purba. Sastra horor dapat melampaui zaman, selama ada manusia dengan segala masalahnya. Sedangkan horor picisan akan mudah diabaikan dan dilupakan.

Kisah yang gemilang dan penuh pesan moral saja bisa diabaikan dan dilupakan, apalagi horor? Jadi, jangan takut untuk menulis horor yang benar-benar berkualitas.

Karena itulah, pilihlah kisah horor yang berkualitas, bukan hanya sekadar menakut-nakuti, namun memiliki pesan moral yang berkesan.

Selamat menikmati horor. Hati-hati sebelum melangkah baca doa, dan sebelum tidur juga baca doa.

Lindungilah kami dari bangsa jin dan manusia, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan lindungi dari tukang-tukang sihir berhati gelap. Amin.

Situbondo, 19 Oktober 2017

Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) senang berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama kawan-kawannya.


 Sumber foto: silenthill.wikia.com
Kisah Horor: Dari Horor Picisan Sampai Sastra yang Melampaui Zaman Kisah Horor: Dari Horor Picisan Sampai Sastra yang Melampaui Zaman Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on Oktober 19, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar