Perjuangan Menelusuri Sejarah KHR. As'ad Syamsul Arifin (Bagian Pertama)



Oleh: Ahmad Sufiatur R.

Resensi lanjutan dapat dibaca di sini

Kata pengantar di novel perjuangan KHR. As'ad Syamsul Arifin, Kesatria Kuda Putih: Santri Pejuang.

Tatkala Pena Tertatih Menulis Kebesaran-Nya


Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. QS Luqman [31]: 27


NUN di kejauhan terlihat pegunungan membisu, bagai bersemedi seraya berdzikir melafalkan asma Sang Sejati, memuja langit-Nya dalam kabut tipis, sedangkan hujan mulai tercurah deras membasahi apa saja yang dilewatinya. Gemuruh bersahutan di kejauhan.
Itulah kesan pertama yang saya tangkap saat menjelajahi jalur pegunungan tapak tilas Kiai As’ad dan Pelopor. Bersama tim survei yang terdiri dari tiga belas orang, kami meninjau lokasi rute tapak tilas sebagai persiapan acara seabad Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo saat itu.
Saya basah kuyup di tengah hujan lebat apalagi di tengah hutan belantara. Air hujan yang dingin merembes ke jaket, celana, dan tas saya. Untung ponsel dan buku-buku untuk menulis ditaruh dalam tas plastik, termasuk biografi Kiai As’ad. Dua kali saya dan tim nyaris kehilangan arah, tersesat, di tengah hutan lebat ketika menyusuri rute tapak tilas. Untung ada bantuan dari warga di dusun terpencil yang datang membantu. Apalagi ketika ban sepeda motor milik Ust. Achmad Quthby mengalami bocor di tengah hutan sehingga harus ditambal, ternyata ada penambal ban! Padahal, kami tidak mengira ada penambal ban di atas gunung. Alhamdulillah, masih mendapat pertolongan dari Allah.
Tatkala tim tengah kesulitan, alhamdulillah bantuan selalu datang. Bukankah Allah dua kali mengulang firman-Nya dalam QS asy-Syarh Ayat 5–6: Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.
Sampai malam menjelang, suasana hutan benar-benar gelap pekat, ditambah lagi saya tidak membawa senter. Untunglah ada warga yang memberi penerangan sepanjang jalan. Dari satu dusun ke dusun lain dipisahkan hutan lebat. Di setiap dusun hanya terdiri dari beberapa rumah yang kebanyakan sangat sederhana; berdinding gedek, berpintu bambu, dan beralaskan tanah. Namun, mereka tetap terlihat ramah dan sebisa mungkin membantu dan menyuguhi makanan.
Saya nyaris menyerah menyusuri medan berat jalur perjuangan Kiai As’ad dan Pelopor. Dalam hati berkata, ”Rupanya begini rasanya bergerilya di dalam hutan. Apalagi waktu itu dalam kondisi perang, pasukan Belanda mencari sampai ke dalam hutan hingga ada anggota Pelopor yang tertembak.”
Untungnya, rasa letih sedikit terobati dengan pemandangan pegunungan dan kebersamaan tim survei. Suka duka kami lewati bersama menerobos hutan lebat.
Aroma kayu basah dan tanah merebak di tengah hutan. Sesekali terdengar bunyi tonggeret di balik semak belukar. Jalan cadas nan berbatu kian menanjak. Beberapa kali kami terpeleset karena tidak mengenakan alas kaki, sandal rusak dan terpaksa dibuang di tengah hutan. Untuk menuruni jurang terjal, saya berpegangan pada ranting semak belukar. Jika salah melangkah, bisa terjun bebas ke jurang terjal di sisi jalan setapak. Pikiran buruk berbicara sepanjang perjalanan. Namun, alhamdulillah, saya dapat pulang dengan selamat. Membawa kesan perjalanan yang benar-benar saya rasakan sendiri meski sesampai di rumah badan demam.
Saya pun mulai menulis cerita sejarah ini. Novel sejarah yang ditulis dalam rangka memperingati seabad Ponpes Sukorejo. K.H. Zaini Ridwan, Ust. Achmad Quthby dan Ust. H. Saiful Bari meminta saya untuk menulis sekelumit sejarah tentang Kiai As’ad tahun 1947 saat merebut senjata di desa gudang mesiu Dabasah, Bondowoso. Sebelumnya saya telah menerbitkan puluhan novel remaja ringan yang cukup disukai pembaca. Namun, kali ini rasanya jauh berbeda. Apalagi setelah saya mendalami latar sejarah perjuangan Kiai As’ad. Tak pernah terbayang betapa berat perjuangan beliau.
Penulis bersama tim survei acara tapak tilas dalam rangkaian satu abad Ponpes Sukorejo, yang terdiri dari K.H. Zaini Ridwan, H. Saiful Bari, Ust. Achmad Quthby, Pak Mojo, Mat Kembar, Kholil Dhurawi, Ust. Mustakim, Ust. Suyono, L. Makmun, Subar, H. Ismail, dan dan Arus Trisusiantoro mencoba menyusuri rute yang dilewati Kiai As’ad dan Pelopor.
Perjalanan dimulai dari situs Gerbong Maut, kemudian melewati dusun-dusun terpencil memasuki hutan sampai ke Puloagung. Namun, belum separuh perjalanan, tim survei sudah kehabisan energi. Ditambah hujan deras yang mengakibatkan medan menjadi tiga kali lebih sulit untuk didaki. Jika tidak benar-benar ikhlas, tidak akan mungkin bisa melewati medan pegunungan. Sepeda motor dan pakaian tim bermandikan lumpur. Bahkan, Ust. Suyono, salah satu anggota tim yang bertubuh gempal berada paling belakang bersama saya, mengalami stroke beberapa hari setelah mendaki gunung. Saat napas sudah berada di ujung tenggorokan, ketika kaki tidak kuat lagi menapak terjalnya tebing, datanglah bantuan dari warga.
            Dari pengalaman itu, penulis mendapat hikmah: tak seorang pun yang dapat benar-benar membayangkan perjuangan Kiai As’ad, apalagi merasakannya. Selain beliau sendiri, Kiai As’ad, tentu saja, tak seorang pun yang dapat merasakan jerih payah perjuangan beliau.
Terlebih lagi bagi saya. Pengalaman Kiai As’ad yang begitu luas, kaya, dan dalam, tidak dapat digambarkan begitu saja dalam bentuk tulisan. Jadi, novel ini hanya sekelumit kisah dari perjuangan beliau, khusus pada tahun 1947, saat Kiai As’ad merebut senjata di gudang mesiu Desa Dabasah, Bondowoso, ketika terjadi Agresi Militer Belanda pertama. Saya harus mencari banyak referensi dan membaca tentang sejarah Kiai As’ad. Sekaligus latar sejarah perang kemerdekaan yang menjadi penyebabnya. Sebab, latar sejarah di balik gerilya Kiai As’ad dan Pelopor cukup luas dan juga berkaitan satu dengan yang lain. Sebuah kejadian tidak serta-merta terjadi begitu saja, pasti ada sejarahnya. Dengan catatan tambahan pengetahuan sejarah kemerdekaan diharapkan pembaca mendapatkan wawasan. Saya juga menyertakan kronik sejarah agar pembaca mengetahui latar belakang terjadinya perang kemerdekaan.
Judul Ksatria Kuda Putih diambil dari julukan Kiai As’ad White Horse di kalangan pembesar Belanda. Juga karena semasa hidup, beliau senang berpakaian serbaputih. Kebetulan beliau juga memiliki kuda warna putih.
Saya sengaja menulis novel ini bergaya bahasa lebih ringan agar pembaca tidak bosan membaca kisah sejarah yang terkesan monoton. Jika dikemas dalam bentuk novel yang menghibur, pembaca tentu akan mengikuti ceritanya sampai akhir. Semua umur dapat menikmatinya. Sesuai misi Rasulullah saw. yang disampaikan oleh Ali r.a., ”Khotbahilah masyarakat itu sesuai dengan taraf pemikirannya. Apakah kamu ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan orang?” (HR Bukhari: 124)
Tentu saja, tidak ada buku tulisan manusia yang sempurna. Novel ini pun banyak memiliki kekurangan dalam mengemas sejarah yang luas. Kisah sejarah, kepahlawanan, dan kebersahajaan para pemimpin yang turut ikut andil dalam kemerdekaan patut diketahui. Semangat mereka harus diwariskan dari generasi ke generasi karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.
Semoga hadirnya novel ini dapat menginspirasi, menularkan semangat juang, dan bersyukur hidup di zaman kemerdekaan yang telah direbut dengan darah dan air mata di setiap jengkal Tanah Air Indonesia. Selamat membaca sejarah kembali! 

RUTE TAPAK TILAS 2014



1. Gerbong Maut Alun-alun-Kota Bondowoso (pos I)
2. Jl. Letnan Amir Kusman-Kelurahan Dabasah
3. Jl. Letnan Sudiono-Kelurahan Dabasah
4. Jl. Letnan Jenderal Suprapto-Kelurahan Dabasah
5. Jl. Letjen Panjaitan-Tamansari
6. Jl. Kis Mangun Sarkoro-Tamansari
7. Koncer Kidul/Jl.AIP. Moegiman-Koncer-Tenggarang
8. PLN. Sumbersalam-Koncer-Tenggarang
9. Beringinko’ong-Lojejer-Tenggarang
10. Lojejer-Lojejer-Tenggarang
11. Maradinan-Kejayan-Pujer
12. Jerrugen-Kejayan-Pujer
13. Paddasan Balai Desa-Paddasan-Pujer
14. Jumpong-Jumpong-Wonosari
15. Wonosroyo-Jumpong-Wonosari
16. Lombok kulon-Lombok Kulon-Wonosari
17. Lombok Wetan-Lombok Wetan-Wonosari
18. Calongan-Calongan-Sukosari
19. Plasaan-Kerang-Sukosari
20. Kerang Krajan -Kerang-Sukosari (pos kecil)
21. Jatiko'ong-Kerang-Sukosari
22. Nengnangka-Kerang-Sukosari
23. Sukosari Selatan-Sukorammi-Sukosari
24. Sukosari Pasar-Sukosari-Sukosari
25. Sumbergading Onjur-Sumbergading-Sumberwringin
26. Partelon ke Kawah Ijen-Sumbergading- Sumberwringin
27. Sumberanyar-Sumbergading-Sumberwringin
28. Letces-Rejoagung-Sumberwringin
29. Recces-Rejoagung-Sumberwringin
30. Recces -Sukorejo-Sumberwringin
31. Disbun-Sukorejo-Sumberwringin
32. Palembahan-Sukorejo-Sumberwringin
33. Kerje-Sukorejo-Sumberwringin
34. Selencak-Sukorejo-Sumberwringin
35. Poloagung Masjid-Sukorejo-Sumberwringin (pos II)
36. Sosabek-Sukorejo-Tapen
37. Sumbercanting-Sukorejo-Tapen
38. Alas Laok-Belimbing-Tapen
39. Alas Lanjeng-Belimbing-Tapen
40. Alas Krajan-Belimbing-Tapen
41. Jatian-Belimbing-Tapen
42. Gaddingan-Karanganyar-Tapen
43. Dengges-Karanganyar-Tapen
44. Durin Olo-Durin-Tapen
45. Pettong Barat-Sumbercanting-Tapen
46. Alas Kalongan-Sumbercanting-Tapen
47. Kalabangan-Pettong Timur-Sumbercanting
48. Pettong Timur-Sumbercanting-Tapen
49. Cerpat-Sumbercanting-Tapen
50. Cemper-Botolinggo-Botolinggo
51. Cemper-Lomotan-Botolinggo
52. Paddeggan-Lomotan-Prajekan
53. Duwak-Lanas-Prajekan (pos kecil)
54. Gajam-Gajam-Prajekan
55. Kalekean-Kalekean-Prajekan
56. Somporan-Somporan-Cermee
57. Tamanarum-Bandilan-Cermee
58. Karang Tengah -Bandilan-Cermee
59. Gerunggungan-Bandilan-Cermee
60. Tarebung-Bandilan-Cermee
61. Sempolan-Palalangan-Cermee
62. Palalangan-Palalangan-Cermee
63. Jukgruk-Ramban Wetan-Cermee
64. Kangai-Ramban Wetan-Cermee
65. Tarebung-Cermee-Cermee
66. Baleddan-Batuampar-Cermee
67. Jeding Batuampar-Batuampar-Cermee (pos III)
68. Batuampar-Batuampar-Cermee
69. Bercak Laok Sabe-Bercak-Cermee
70. Kaladi-Kaladi-Arjasa
71. Curahtatal-Curahtatal-Arjasa
72. Dergung-Curahtatal-Arjasa
73. Dempas-Jatisari-Arjasa
74. Campalok-Campalok-Arjasa
75. Betugencar-Jatisari-Arjasa
76. Selat-Jatisari-Arjasa
77. Secelleng-Jatisari-Arjasa
78. Tamanbaru-Jatisari-Arjasa
79. Jukong-Kettowan-Arjasa
80. Jembatan-Kettowan-Arjasa
81. Gerintengan-Kettowan-Arjasa
82. Bayeman-Kettowan-Arjasa (pos kecil)
83. Gelingan-Pariya'an-Jangkar
84. Panapan-Pariya'an-Jangkar
85. Nanggar-Pariya'an-Jangkar
86. Labang lemak-Pariya'an-Jangkar
87. Bengkoalas-Pariya'an-Jangkar
88. Bengkotete-Kertosari-Asembagus
89. Leket/Batosalang-Kertosari-Asembagus
90. Balikeran-Kertosari-Asembagus
91. Panjalinan-Kedunglo-Asembagus
92. Kedunglo-Kedunglo-Asembagus
93. Bantal-Bantal-Banyuputih
94. Leduk-Sumberejo-Banyuputih
95. Lessong-Sumberejo-Banyuputih
96. Sodung-Sumberejo-Banyuputih
97. Mellek-Sumberejo-Banyuputih
98. Sumberejo-Sumberejo-Banyuputih
99. Karanganyar-Sumberejo-Banyuputih
100. Sukorejo-Sumberejo-Banyuputih-Situbondo (finish)



  Sumber foto: dokumen penulis
Perjuangan Menelusuri Sejarah KHR. As'ad Syamsul Arifin (Bagian Pertama) Perjuangan Menelusuri Sejarah KHR. As'ad Syamsul Arifin (Bagian Pertama) Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on Oktober 21, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar