Sejarah yang Sengaja Dikubur dan Dilenyapkan (Bagian Kedua)

Tulisan sebelumnya
KH. Mustofa Bisri menulis pengantar berjudul Membaca Sejarah Tanpa Kepentingan, bahwa orang yang membaca sejarah, khususnya yang berkaitan dengan keimanan (agama), akan menjumpai banyak kekacauan ketika kekuasaan memimpin pihak-pihak yang berkepentingan.
Untuk lebih jelasnya tentang sejarah dan peran Kiai dan santri dalam memperjuangkan nasionalisme bisa membaca esai saya di harisantri
 
Menggali Kuburan Sejarah
Tahun 2015 silam, saya mengajukan proposal kepada pemerintah daerah melalui dinas pendidikan untuk mengisi perpustakaan di Situbondo dengan buku sejarah lokal, namun tidak ditanggapi. Namun, perjuangan untuk memperkenalkan sejarah lokal kepada generasi muda dan menjadikan kearifan lokal dan sejarah lokal menjadi muatan lokal di sekolah-sekolah tidak pupus begitu saja. Melalui Komunitas Penulis Muda Situbondo, Gerakan Situbondo Membaca, dan Pegiat Sejarah Tapal Kuda dan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Situbondo, saya dan kawan-kawan terus mengumpulkan dan memperjuangkan sejarah nasional dan lokal agar dapat dikenal oleh generasi mudanya. Termasuk mengusulkan untuk mengumpulkan arsip, naskah kuno, dokumen bersejarah dan foto bersejarah yang akan menambah koleksi di kantor kearsipan. Beruntung masih ada dukungan dan tanggapan positif dari masyarakat dan dari pemerintah daerah. Termasuk mengadakan seminar sejarah dan kegiatan demi mengumpulkan dan menerbitkan buku sejarah lokal. 
Jika hanya menerbitkan buku sejarah lokal masih belum mampu melestarikan cagar budaya dan sejarah serta kearifan lokal. Maka, kegiatan lain haruslah dilakukan seperti wisata sejarah, teater sejarah, pameran sejarah, karnaval sejarah, seminar sejarah, acara malam sastra sejarah dan menjadikan sejarah menjadi muatan lokal. Sehingga para siswa tidak hanya membaca, namun juga dapat menyimak, menceritakan kembali, menjawab soal-soal sejarah, dan berinteraksi dengan kegiatan sejarah. Dengan tujuan agar generasi muda memiliki jati diri sehingga dapat mengenal sejarahnya, mengenal potensi daerahnya, dan dapat belajar dari sejarah demi mengembangkan daerahnya.
Di tahun belakangan ini, mulai nampak antusias tentang sejarah dan pelestarian cagar budaya. Beberapa buku sejarah mulai terbit dan kegiatan sejarah mulai diadakan. Semua itu tidak terlepas dari peran para pegiat sejarah, dukungan masyarakat dan pemerintah daerah. Sehingga kepedulian terhadap arsip dan dokumen sejarah serta kegiatan sejarah seperti teater, pameran, karnaval dan seminar sejarah dapat berlangsung meriah dan hidup. Tentu membutuhkan waktu dan proses yang terus berjalan, setahap demi setahap, dan setapak demi setapak. Para pegiat sejarah juga terus mendoroang pemerintah untuk menetapkan regulasi perlindungan cagar budaya dan mengumpulkan arsip sejarah yang nyaris dilupakan, nyaris terkubur dan terbengkalai.
Sejarah yang Sengaja Dilenyapkan
Para penguasa dapat menciptakan sejarahnya sendiri dan bahkan dapat melenyapkan sejarah mengenai lawan politiknya. Bukan hanya sejarah di Situbondo yang berusaha dikubur dari dilenyapkan dari garis sejarah kejayaannya. Demi kepentingan politik dan kekuasaan untuk dapat menguasai sumber daya manusia dan demi mengeruk sumber daya alam. 
Begitu pula sejarah pesantren dan perjuangan para santri yang minim, jarang dibahas atau bahkan tidak masuk dalam buku-buku sejarah. Apalagi sejarah lokal belum menjadi muatan lokal yang diajarkan di sekolah-sekolah.
Karena pemenang politik dan penguasa dengan leluasa mengubur sejarah lawan-lawan politiknya dan melenyapkan jejak sejarah para pesaingnya. Dari zaman kerajaan-kerajaan di Nusantara sampai sejarah revolusi Indonesia, banyak sejarah yang sengaja dikubur dan dilenyapkan oleh para pemenang, para penjajah dan sengaja dilenyapkan agar generasi penerusnya mengalami amnesia sejarah yang sebenarnya sehingga dengan mudah didoktrin, dicuciotak, dan dicekoki dengan sejarah buatan para penguasa dan para pemenang politik.
Kerajaan pemenang perang akan mudah mengusir, membakar, dan menghancurkan sejarah lawannya yang kalah. Begitu pula penjajah asing yang dengan mudah memecah belah dan melenyapkan bukti-bukti sejarah dari kejayaan suatu bangsa. 
Dalam pengantar di serial buku Syaikh Siti Jenar karya Agus Sunyoto, misalnya. KH. Mustofa Bisri menulis pengantar berjudul Membaca Sejarah Tanpa Kepentingan, bahwa orang yang membaca sejarah, khususnya yang berkaitan dengan keimanan (agama), akan menjumpai banyak kekacauan ketika kekuasaan memimpin pihak-pihak yang berkepentingan.
Seperti kecemasan mengenai bangkitnya simpatisan dari ideologi komunisme (yang salah kaprah dan yang merugikan) yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan. Bahkan diskusi di warung kopi atau bahkan di dalam grup media sosial bisa ricuh dan memecah belah kelompok akibat membahas sejarah dan ideologi yang dibuat oleh para penguasa. Sejarah tentang korban di kedua belak pihak pun diangkat ke permukaan. Korban-korban dari kedua belah pihak pun mengungkap fakta masing-masing, mengenai jumlah korban yang terbanyak, pengungkapan saksi sejarah atau fakta sejarah yang kurang mendapat perhatian seperti peristiwa di Madiun 1948.
Jika sudah meraih kekuasaan maka dengan mudah melibas lawan-lawan politiknya bahkan membuang dan melenyapkan kawan-kawannya yang pernah berjuang bersama. Semua demi kekuasaan yang sering menggelapkan hati dan pikiran sehingga lupa daratan.
Sejarah Perjuangan Para Kiai dan Santri yang Nyaris Dilupakan
Sejarah perjuangan para Kiai dan santri tidak banyak diungkap dalam buku-buku sejarah. Terutama di buku-buku muatan lokal. Film-film tentang perjuangan para Kiai dan santri juga mulai bermunculan akhir-akhir ini. 
Begitu pula penetapan Hari Santri Nasional yang nampak terlambat karena baru tahun 2015 kemarin ditetapkan. Walau begitu, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Meskipun menurut KHR. Azaim Ibrahimy, pengasuh pesantren Salafiyah Safi'iyah, Sukorejo Situbondo, bahwa ada Kiai yang hanya satu hari saja, ada Kiai yang hanya satu bulan, dan ada Kiai yang benar-benar Kiai, benar-benar ulama sejati. Menurut beliau santri pun ada tiga jenis:
  1. Santri sejati. Adalah santri yang benar-benar santri sejati, mondok di pesantren dan mengamalkan ilmunya di masyarakat.
  2. Bau Santri. Meskipun tidak pernah mondok di pesantren, namun memiliki perhatian dan kecintaan terhadap ulama dan pesantren.
  3. Santi Bau. Meskipun pernah mondok di pesantren, bahkan telah bertahun-tahun. Namun, malah mencemarkan nama baik pesantren dan tidak mengamalkan ilmunya.
    Menurut KHR. As'ad Syamsul Arifin, "Bahwa ulama akan nampak setelah meninggal. Apakah akan tetap diikuti umatnya atau ditinggalkan dan dilupakan."
Dari Situbondo, muncul nama KHR. As'ad Syamsul Arifin yang ikut berjuang melahirkan NU dan berjuang bersama barisan Pelopor, TKR, dan kelaskaran lainnya demi kemerdekaan NKRI.
Sejarah perjuangan para Kiai dan para santri pun masih jarang diungkap dalam buku pelajaran sejarah nasional dan belum banyak yang menjadi muatan lokal di sekolah-sekolah. Apalagi tujuan dari pelurusan sejarah yang sebenarnya adalah kepada generasi muda yang masih sebagai kertas putih dan masih panjang perjalanannya. Kalau generasi tua sudah banyak asam garam sehingga terkorosi dan ingatannya pun akan terdistorsi oleh berbagai kepentingan dan pengalaman.
Karena dalam sejarahnya, politik penguasa orde lama dan orde baru dengan sengaja mengabaikan dan melenyapkan peran serta perjuangan Kiai dan para santri dari buku-buku sejarah terutama untuk generasi muda di bangku sekolah.
Dalam buku sejarah berjudul Kharisma Kiai As'ad di Mata Umat (halaman 128 sampai 144) misalnya, pada tahun 1948, penguasa menetapkan RERA (Reorganisasi dan Rasionalisasi). Sehingga para Kiai dan para santri yang ikut berjuang, namun tidak memiliki ijazah tidak memiliki tempat layak di pemerintahan. Sehingga menimbulkan ketidak puasan. Akibatnya banyak terjadi pemberontakan atas nama agama demi kekuasaan belaka. Di sisi lain, para penguasa masih merangkul pihak-pihak agamawan dari pesantren yang masih dapat diajak berunding dan diajak bekerja sama dengan penguasa.
Dikutip dari buku Architects of Deception tulisan: Secret History of Freemansonry tulisan Juri Lina. Ada tiga cara untuk menghancurkan sebuah bangsa, yaitu:
  1. Kaburkan sejarahnya.
  2. Hancurkan bukti-bukti sejarahnya sehingga tidak bisa diteliti dan dibuktikan.
  3. Putuskan hubungan dengan leluhurnya dengan mengatakan bahwa leluhurnya bodoh dan primitif.
Jadi, apakah secara sadar atau tidak sadar, secara sengaja atau tidak sengaja kita telah ikut menghancurkan bangsa dan negara kita sendiri dengan mengabaikan sejarah? Atau apakah kita masih berdebat tentang sejarah dan terpecah belah sehingga kembali mengalami kemunduran seperti masa lalu? 
Sejarah adalah jejak masa silam sebagai pelajaran untuk membangun masa depan. Maka, belajar dari sejarah dan melestarikan sejarah wajib dilakukan jika ingin menjadi bangsa dan negara yang maju dan besar.
Jika ingin menjadi bangsa dan negara yang besar, maka jangan lupakan sejarah, dan belajarlah dari sejarah, agar tidak melakukan kesalahan yang sama, dan agar dapat mengetahui potensi dan kekuatan dari kejayaan peradaban yang telah dibangun dari sejak masa silam.
Sejarah adalah kejadian besar di masa lampau yang tidak dapat seluruhnya dapat direkam karena keterbatasan manusia. Karena itulah, sejarah tidak akan terulang kembali secara persis sama seperti masa lampau. Ya, sejarah tidak dapat berulang dua kali, karena jika terulang persis sama berarti Tuhan terbatas menciptakan semesta. Sejarah memang tidak akan terulang persis sama, namun, yang akan terulang adalah watak manusia yang dari sejak zaman primitif akan selalu membawa genetika yang sama, genetika ketakutan, kecemasan, kebodohan, kesombongan dan keliaran yang berusaha ditahan dan dikurangi melalui ilmu dan peradaban yang lebih maju di masa depan. Apakah manusia akan kembali menciptakan neraka atau lebih maju dengan terus menciptakan 'surga' di masa depan? Hanya kita dan generasi masa depan yang dapat menjawabnya dengan tindakan nyata.
Situbondo, 4 Oktober 2017
___
Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) senang berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama kawan-kawannya.

Sumber foto: Biografi Perjuangan KHR. As'ad Syamsul Arifin (Pahlawan Nasional)
  
Sejarah yang Sengaja Dikubur dan Dilenyapkan (Bagian Kedua) Sejarah yang Sengaja Dikubur dan Dilenyapkan (Bagian Kedua) Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on Oktober 04, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar