Suatu Hari akan Menikah

Saya selalu percaya bahwa kebersamaan akan selalu membuat hidup menjadi lebih berarti. Pada kenangan yang disisakan oleh waktu. Sejauh-jauhnya. Pada harapan yang akan terus mewarnai senyum dan luka. Sedalam-dalamnya.

Oleh : Moh. Imron
Siang itu, saya datang ke kantor urusan agama. Di ruang tamu ada sepasang kekasih yang kemungkinan akan menikah. Mereka berbincang-bincang dengan petugas. Petugas itu tahu dengan kehadiran saya. Saya menjelaskan keperluan saya. Petugas itu langsung menyuruh saya untuk masuk ke ruang tata usaha.
Di ruang tata usaha, ada lima meja tapi petugas yang ada hanya empat.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin meminta legalisir untuk syarat pembaharuan kartu keluarga.”
Saya menyerahkan berkas akte ayah yang sudah difotokopi. Petugas itu mencari arsip. Kalau tidak salah petugas itu mengambil arsip tahun 1980, lalu mencocokkan dengan berkas yang saya bawa. Kemudian petugas itu meminta saya untuk menunggu. Katanya, kepala kantor masih keluar. Berkas saya dibawa ke ruang lain untuk ditandatangani.
Petugas yang dekat dengan jendela membuka obrolan. Dilihat dari nama di kemejanya bernama Subalu. Ia bertanya seputar alamat dan saya pun bertukar informasi. Entah kenapa tiba-tiba saya bertanya tentang proses dan persyaratan menikah. Padahal hubungan asmara saya masih tidak karuan.
Sepintas kenangan menyapa.
Saya melihat diri saya sendiri ketika menangis di pojok kamar tidur, jalan-jalan di pinggir pantai bersama seorang perempuan, tersenyum sendiri ketika SMS dengan kekasih, galau ketika ditinggal pujaan hati, terluka ketika pasangan berselingkuh, bertengkar, bercanda, berciuman, berpelukan, dan sedang mengajak balikan pada seorang perempuan, tapi dia menolak meskipun beberapa kali saya memaksa. Semuanya tergambar dengan jelas. Mungkin karena cinta memang tidak bisa dipaksa. Yang terakhir saya melihat diri saya sendiri seperti sedang berenang di pantai air mata. Mungkin saya tidak boleh tenggelam dalam kesedihan.
***
Sekitar 15 menit, berkas saya masih belum selesai. Pandangan saya mengarah pada papan statistik jumlah orang menikah tiap bulan di tahun ini, juga agenda akad nikah lengkap dengan alamat, waktu dan tempat. Petugas yang bernama Salim di kemejanya, melempar pertanyaan kepada saya.
“Kapan kau akan menikah?”
Barang kali Pak Salim tadi sempat mendengarkan pembicaraan saya dengan Subalu.
“Belum tahu, Pak. Masih belum siap.”
Kembali kenangan hadir pada kejadian beberapa waktu lalu.
Saya masih ingat dengan keluarga dan beberapa saudara. Tepatnya 7 bulan lalu. Mereka sedang menasehati saya. Usia saya sudah 29 tahun. Tidak heran jika ayah dan ibu selalu mendesak untuk segera bertunangan dan menikah. Begitu pula dengan nasehat saudara. Jika menikah tua, kasihan sama anak yang dilahirkan, ia akan punya ayah tua sekali. Jangan khawatir soalnya pekerjaan, nanti ada rezekinya sendiri, yang penting tetap berusaha dan berdoa. Nasehat itu masih selalu saya ingat.
Begitu pun ketika lebaran banyak yang bertanya tentang pasangan pada saya. Sebuah pertanyaan yang menjadi tradisi yang diperuntukkan untuk kaum jomblo ketika silaturrahmi paska lebaran. Termasuk saya pada waktu itu.
Saya ingin cepat beranjak dari ingatan ini. Meskpin sebenarnya nasehat itu tidak sependapat dengan saya. Saya hanya diam dan tidak menyangkal dan sampai berdebat dengan keluarga. Sebab saya memang belum siap. Mereka tidak tahu apa yang saya alami, dan saya memang tidak pernah bercerita apa yang saya rasakan.
Hampir 35 menit saya masih menunggu berkas yang masih belum dilegalisir. Tak lama kemudian ada perempuan saparuh baya masuk dalam ruang ini, sepertinya juga butuh tanda tangan kepala. Perempuan itu duduk di samping Subalu. Sepertinya mereka memang sudah kenal, dapat dilihat dari cara ngobrolnya. Terlihat akrab. Kalau saya amati perempuan itu cantik juga.
Tapi saya tidak mengikuti alur pembicaraan mereka, meskipun agak nyaring terutama yang perempuan. Yang jelas apa yang dibicarakan masih tentang keluarga. Para petugas yang lain tetap sibuk dengan pekerjaannya. Saya sempat mengamati kedua ibu petugas yang duduk di sebelah timur. Tapi tidak ada nama di kemejanya. Pandangan saya tertuju pada arsip nikah dari tahun 1960-an hingga sekarang yang berada di belakang kedua ibu itu.
Arsip itu menjadi saksi atas banyak kebahagian. Dan juga saya sempat melihat arsip talak meskipun tidak begitu banyak. Tentu isinya juga terselip cerita pilu di dalamnya. Mungkin banyak penyebab perceraian karena perselingkuhan, tidak bisa menafkahi, dan banyak lainnya. Di balik itu mungkin juga ada anak yang juga sedih, broken home dan semacamnya.
Potongan kenangan hadir lagi.
Saya teringat berbagai macam kegiatan pernikahan di desa saya. Kebanyakan menggunakan sistem ulem-ulem. Info pernikahan ditulis dalam kertas kecil, di-steples pada deterjen bubuk, sabun colek yang harganya murah, kemudian disebarkan ke penjuru desa.
Persiapan pernikahan dimulai selama seminggu baik dari acara pembuatan kue, bumbu hingga acara puncak. Namun sebelumnya harus sudah mengurus undangan, surat, laporan kepada pihak yang berwajib. Biaya keseluruhan pernikahan cukup besar dan melelahkan.
Para undangan yang hadir membawa uang atau bahan baku, kemudian dicatat oleh petugas. Jika salah satu undangan ada yang menikah suatu hari nanti maka sumbangannya akan dikembalikan. Jika tidak mengembalikan, bisa jadi akan terjadi konflik dan omongan tidak baik  atau aib di mata masyarakat.
Pada waktu itu, nenek meminta saya untuk mencari daftar seseorang yang akan melangsungkan pernikahan anaknya. Nama yang bersangkutan pernah menyumbang sebesar Rp. 500 dan beras 2 Kg, setelah saya tanya pada nenek, nilai tukar uang itu kalau sekarang setara dengan harga 1 Kg beras. Nenek pun berencana pergi ke pernikahan itu. Saya pun memberi uang pada nenek untuk mengurangi bebannya. Pernah suatu hari nenek mengeluh karena harus mengembalikan 3 sumbangan dalam seminggu. Sebab sumbangannya lumayan besar.
Sisa kembalian utang dalam ulem-ulem, seperti utang seumur hidupnya. Sama halnya dengan saudara saya yang lain. Hal seperti ini sudah lumrah. Bahkan waktu lalu ada tetangga yang meninggal, beban sumbangan kembalian ditanggung anaknya. Saya ikut prihatin. Seperti itulah tradisi di desa saya.
Begitu pula dengan resepsi pernikahan yang banyak digelar di perkotaan, yang tidak jauh beda dengan ulem-ulem, hanya saja jumlah undangan tidak sebanyak ulem-ulem. Tapi intinya tetap mengembalikan sumbangan ketika para punyambang sedang menikah suatu hari. Jadi itu hanya titipan. Tapia da juga yang tidak mengharap kembalian.
Beberapa waktu saya pernah menghadiri dua kali resepsi teman yang berbeda. Ketika mereka menyerahkan undangan pada saya, ia meminta saya untuk tidak membawa uang atau kado apa pun. Cukup hadir, foto-foto, menikmati musik dan makan bersama. Setelah saya tanya kenapa, ia menjawab tidak mau dibebani uang kembalian.
***
Saya menghela napas panjang. Berkas yang akan dilegalisir masih belum selesai. Saya tetap sabar dan diam, tapi pikiran masih terlarut dalam kejadian yang baru saja ingat. Saya punya sedikit gambaran ketika akan menikah suatu hari. Memang semua tradisi tidak harus diikuti semua. Paling tidak saya bisa melakukan sesuatu yang berbeda dan terbaik untuk kedepannya. Terutama pada keluarga sendiri.
Angan-angan pun mulai merasuki saya. Mungkin suatu hari saya juga tidak berharap meteri yang pernah disumbangakan itu kembali. Mungkin juga ketika menikah dengan acara yang paling sederhana. Tidak mengharap sumbangan atau materi apa pun. Mungkin juga saya bisa berembuk dengan ayah ketika menikah untuk tidak membuka ulem-ulem atau sumbangan baru. Selamatan saja, itu sudah cukup. Tiba-tiba saya jadi ingin mengalami proses ijab qabul nikah.
Ah, tapi saya tidak ingin berpikir terlalu jauh. Apalagi yang saya alami saat ini menjalin hubungan jarak jauh, bersama seseorang perempuan yang masih menyelesaikan kuliah. Di saat-saat seperti ini saya harus sabar, sebab saya menjalin hubungan yang tidak pasti. Jarang mendapat kabar. Bisa dibilang jauh di mata dan tentu jauh di hati juga.
Apa saya harus mencari yang lain? Memang beberapa hari ini kadang sering dekat dengan perempuan lain. Akan tetapi hati saya selalu memberontak untuk tidak mengingkari janji. Bahkan seseorang perempuan yang dulu tidak tidak mau diajak balikan, sekarang dia mulai dekat dan dia cari perhatian saya. Sungguh berat ujian saya.
“Ini berkasnya, Nak.”
Akhirnya berkas yang sudah dilegalisir sudah selesai. Lega. Saya bersiap pulang. Saya merapikan berkas dan memasukkan kembali ke dalam tas sembari mengucap terima kasih.
Di sela-sela itu saya sempat menyimak perbincangan Subalu dengan perempuan separuh baya tentang sebuah penyakit yang diderita dalam suatu rumah tangga. Parhatian saya fokus pada mereka. Lalu Subalu berkata pada perempuan sebaya itu “Mungkin si suami terlalu keras dan terlalu sering.” []

Suatu Hari akan Menikah Suatu Hari akan Menikah Reviewed by Redaksi on Oktober 15, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar