Teman Rasa Mantan

Aku mempunyai teman perempuan. Dia perempuan yang kalem. Rambutnya hitam dan lurus. Tinggi badan hampir sama denganku. Dan dia mudah tersenyum. Setiap kali bertemu dalam belakangan ini, rasa nyaman masih ada. Dibilang teman tapi lebih dari itu. Dibilang pacaran tapi kayak yang mengambang kisah akhirnya. Dibilang mantan tapi belum pernah pacaran. Atas apa yang menimpa diantara kami. Kami sepakat menjalaninya dan tidak pernah menyesali.
Oleh : Moh. Imron
Waktu berlalu semakin jauh…
Aku mencintai seorang perempuan. Aku mendekatinya. Perkenalanku sudah berlangsung sebulan. Saat itu, aku masih mahasiswa awal dan dia masih SMA kelas XI. Pendekatan dengannya tidak begitu lancar.
Aku tahu, dia tinggal di pelosok desa, tidak mempunyai kebebasan banyak untuk keluar seorang diri. Apalagi malam. Sampai saat ini tradisi di daerah kami masih seperti itu.
Dalam perkenalan ini, tak ada sahabatku atau sahabatnya yang membantu. Perkenalan kami pun juga bersifat individu. Tidak diketahui siapa-siapa. Kita pun ditakdirkan untuk tidak jarang bertemu. Ingin sekali mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi kami benar-benar tidak bisa mengagendakan pertemuan. Aku sibuk, dia nggak. Aku gak sibuk, dia yang sibuk. Itu berlangsung beberapa kali membuat janji. Dan kami kami hanya saling SMS saja.
Pada akhirnya aku menyerah. Aku juga disibukkan dengan beberapa kegiatan. Dan aku melupakan perempuan itu. Maksudku tidak mendekatinya lagi.
Kemudian aku dekat lagi dengan perempuan itu. Kisaran 4 tahun berikutnya. Dia sudah masuk kuliah. Akan tetapi keadaan tidak memungkinkan. Aku sudah tidak mungkin pacaran dengan dia. Meskipun aku menginginkannya. Ada satu alasan yang tidak bisa saya ceritakan karena ini terkait privasi. Dan kebetulan juga, aku tahu kalau dia sedang patah hati. Tapi aku tidak banyak mengungkit masalahnya. Dan aku pun juga tidak memberi solusi. Yang aku lakukan hanya menemaninya saja.
Pada suatu waktu, aku bertemu dengannya. Kami saling bercerita banyak hal. Ada rasa yang muncul kembali. Ya, aku masih mencintainya.
"Dulu ketika pertama kenal, aku mencintaimu." Aku mengungkapkan kata itu dengan tenang. Tapi aku tidak menatapnya.
"Kenapa kamu tidak diungkapkan?"
"Kamu tidak memberi kesempatan untuk bertemu."
"Kita sama-sama sibuk. Dan aku tidak banyak waktu."
"Ya, aku tahu."
"Padahal aku juga mencintaimu."
Berikutnya kami hanya diam sejenak. Aku juga banyak bercerita bahwa kami tidak akan pacaran. Dan dia juga paham hal itu. Melalui perdebatan kecil, intinya ia memintaku untuk pacaran, apapun yang terjadi ya hadapi bersama. Aku pun tetap pada pendirianku. Ia menerima keputusan itu. Tapi ada sesuatu yang mendorongku untuk pacaran dengannya.
"Kamu tahu, dari dulu aku memang mencintaimu. Jika sebuah cinta tidak tergapai itu sangat menyakitkan. Di sisi lain kita tidak mungkin pacaran."
"Kita harus gimana?"
Kami berdua sama-sama berpikir panjang. Maka diakhir pertemuan itu, dia menjadi kekasihku dan aku menjadi kekasihnya tapi tidak dalam status pacaran.
Pertemuan-pertemuan berikutnya berjalan biasa layaknya teman. Bolehlah sesekali aku memeluknya, memegang tangan dan tentu, menciumnya. Yang paling penting adalah saling berbagi dan mengerti. Kami tidak menunjukkan pada semua orang atau kawan. Kisah ini milik berdua.
"Jadi, sampai kapan kita akan begini terus?" katanya. Kadang aku merasa bersalah. Tidak baik juga seperti ini.
"Kita jalani aja dulu, sampai kamu menemukan kekasih baru. Aku pun tidak akan sakit hati. Begitu pun sebaliknya, aku akan mencari yang lain.
Dia sepakat tapi sedikit ragu-ragu.
Hari-hari berikutnya aku menjalani hubungan yang aneh. Aku juga tidak terlalu mesrah, biasa-biasa saja. Hingga pada akhirnya kami jarang memberi kabar, jarang bertemu. Entah berlangsung beberapa bulan, aku tidak tahu.
Pada sore yang gerimis. Kami tak sengaja bertemu kembali. Dia bersama sahabatnya. Kami berbincang lama. Tentu juga membicarakan kisah-kisah sebelumnya. Dan tawa pun mewarnai obrolan kami. Rupanya ia sudah punya pasangan. Aku pun begitu. Dan dia terlihat lebih dewasa.
Pertemuan berikutnya di sebuah acara pernikahan. Pertemuan yang memang tidak pernah direncanakan. Dia tidak tahu kalau aku ada di acara itu. Kebetulan saat itu, aku sedang menjadi penulis keter, begitu daerah kami menyebutnya. Mungkin berasal dari kata letter, semacam surat yang berisi tulisan nama dan besar sumbangan baik berupa bahan pokok atau uang. Kemudian direkap dan disiarkan lewat sound system atau loudspeaker.
Aku mengirim pesan.
Coba lihat ke timur?
Di sebelah timur itu ada pelaminan. Dia tidak paham.
Maksudnya?
Kamu gak ada cita-cita duduk di pelaminan?
Aku lihat dia senyum sendiri pada gawainya.
Ayo bareng kamu. Hahaha, kamu di mana?
Coba lihat ke arah selatan.
Kami saling memandang.
Yuk kita langsung naik ke pelaminan sekarang juga.
Dia mengirim emoticon tertawa.
Izin dulu sama di sebelahmu. Setelah aku tahu orang yang dimaksud, ayahnya.
Bapakmu sangar.
Tapi baik.
Beberapa kali kami saling pandang sembari mengulum senyum. Ada kenangan yang berkelabat. Mengupas kisah-kisah di masa lalu.
Sewaktu-waktu kadang kami teleponan. Kami saling sapa ketika berjumpa di mana pun. Pernah silaturrahmi ke rumahnya. Hampir saja aku tak mau pulang.
Sebagai penutup kisah ini. Bahwa kami tidak akan menjadi pasangan. Tapi dia tetap menjadi sosok yang mengagumkan. Buat dia, terima kasih sudah berbagi dan terima kasih pula atas semua kisahnya. []
fondos7.net

Teman Rasa Mantan Teman Rasa Mantan Reviewed by Redaksi on Oktober 13, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar