TIPS: Cara Mencari Berkah dan Nafkah dari Hobi Menulis

Saya masih ingat ketika mendapat royalti pertama dari menulis. Ketika masih kuliah dan masih ngekos, hasil menulis berupa royalti/honor/bayaran itu dapat menyambung hidup sehari-hari yang digunakan untuk membeli sembako.

Oleh: Ahmad Sufiatur R.


Saya belajar menulis dari hobi, kecintaan dan kesenangan. Apalagi jurusan saya bukan sastra melainkan desain grafis, kesamaannya adalah pada keseniannya. Saya masih ingat ketika mendapat royalti pertama dari menulis. Ketika masih kuliah dan masih ngekos, hasil menulis berupa royalti/honor/bayaran itu dapat menyambung hidup sehari-hari yang digunakan untuk membeli sembako. Bahkan dari memenangkan lomba menulis dapat membeli komputer dan membayar biaya kuliah. Karena bukan berasal dari anak orang kaya dan bangsawan, tentu saja, menulis yang tidak perlu modal banyak itu merupakan pilihan yang bijak. Walau kadar rezeki dan nasib setiap orang berbeda-beda. Jika nasib ada yang sama, berarti Tuhan yang Maha Pencipta terbatas. Syukurlah, hasil dari menulis selanjutnya dapat digunakan untuk membeli peralatan menulis, sepeda, pakaian, motor, tas, ganti kacamata, buku-buku referensi, merenovasi rumah, bahkan memberikan nafkah kepada orang tua, saudara, keluarga juga membayar hutang-hutang mereka dan keperluan lainnya. Maklum, saya bukan anak orang tua yang kaya raya dan berusaha mandiri, membeli kebutuhan dengan hasil usaha sendiri.

Walau begitu, saya termasuk penulis yang biasa saja dengan penghasilan biasa saja dibanding penulis yang berpenghasilan milyaran lainnya. Maklum, saya bukan anak dari keluarga kaya yang tidak memiliki banyak modal. Kebanyakan, orang-orang yang berusaha lebih keras berasal dari keluarga yang sederhana bahkan tak punya, karena itulah bisa bangkit dari titik nol. Maklum, sudah sifat genetika manusia, jika berada di zona aman dan nyaman akan makin melemahkannya. Termasuk suku-suku di padang pasir Arab, lebih kuat tinggal di gurun daripada di dalam istana dengan segala kemewahannya yang ujung-ujungnya melemahkan.

Bila kau bukan anak raja, bukan anak ulama besar, maka menulislah - Imam Al-Ghazali.

Ya, jika kamu bukan anak raja, bukan anak orang kaya, bukan anak pejabat atau bangsawan berdarah biru-kuning-rupa-rupa warnanya, maka menulislah. Karena dengan menulis dapat menunjukkan ketinggian ilmu, wawasan, pengalaman, pemahaman, yang dapat melebihi raja dan bangsawan sekalipun. Dan yang terpenting lebih abadi daripada tahta, harta, dan nafsu belaka.


Dari Hobi Menjadi Profesi
Jika berangkat dari hobi yang dilakukan dengan sepenuh hati, senang melakukannya dan betah, maka lebih mudah mengerjakannya menjadi sebuah profesi demi mencari nafkah. Apa yang bisa dilakukan dengan profesi menulis? Profesi menulis sama dengan profesi-profesi lainnnya. Bedanya hanya pada cara kerjanya. Semakin rajin, kreatif, aktif dan produktif maka akan makin besar pula penghasilannya. Jadi, apa saja profesi dari penulis? Profesi menulis berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi, kemampuan menata pokok pemikiran, dan kemampuan meringkas serta memahami suatu hal, sehingga profesi penulis bisa berada di mana saja. Banyak tempat dan media yang bisa dimasuki oleh penulis. Sebagian saya sebutkan yaitu:

1. Menjadi penulis buku. Baik buku fiksi atau non fiksi. Menulis buku untuk penerbit, instansi pemerintah, sekolah atau pun untuk kegiatan amal dan sosial. Dari hasil menulis buku saja, penulis bisa mencari nafkah untuk keluarganya bahkan bisa menghidupi banyak penerbitan, toko buku, percetakan bahkan pajaknya untuk negara.
2. Menjadi penulis blog atau artikel. Makin rajin menulis dan kreatif, maka akan makin banyak penghasilan. Berbagai media cetak dan online membutuhkan artikel dan esai yang cerdas dan kreatif.
3. Penulis skenario film. Penulis skenario bisa dimulai dari teater, kemudian film pendek, klip video musik, iklan, yang bisa menggunakan berbagai media mulai dari TV sampai menjadi youtubers.
4. Menjadi wartawan dan reporter.
5. Menjadi pemateri dan motivator di seminar-seminar.
6. Menjadi guru/tutor dan membuka kelas menulis.
7. Menjadi penulis pidato dan juru bicara.
8. Mendirikan penerbitan dan juga percetakan.
9. Membuat TBM (Taman Bacaan Masyarakat), mendirikan rumah baca, PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), mendirikan kafe baca dan mendirikan lembaga kursus di bidang komunikasi dan bahasa. Yang bekerja sama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dari kota sampai ke pelosok-pelosok desa. Membangun perpustakaan, mengadakan even pameran dan bazar juga menggalakkan program gerakan membaca dan pemberantasan buta aksara dan mengadakan pelatihan lainnya. 
10. Menjadi penulis jurnal, penulis lirik lagu, laporan teknis, laporan publikasi, kurator, redaksi majalah, karya ilmiah, ghost writer, peneliti, kolumnis, esais, cerpenis, penyair, novelis, kritikus, komentator, copywriter, dan masih banyak yang lainnnya.

Menjadi kaya dari hobi menulis sangat bisa dan berbagai peluang tersedia bagi yang pantang menyerah dan terus berusaha. Menjadi kaya raya bukan hanya dari segi materi, namun juga dari segi non materi; pahala, berkah dan dapat menjalin persahabatan. Jika penulis hanya fokus ingin kaya harta, maka akan cepat habis dibandingkan keberkahan dan kebaikan yang akan terus diwariskan dan akan terus bertambah. Tidak ada salahnya menulis dengan tujuan honor, namun ada yang lebih penting dari itu, yaitu sebagai warisan ilmu dan penelitian juga dapat menjalin persahabatan yang lebih luas dan lebih abadi. Intinya, yang penting berkah dan halal.

Banyak yang memandang bahwa profesi penulis tidak nampak, apalagi ghost writer, penulis bayangan yang menulis di belakang layar untuk orang lain tanpa namanya dicantumkan. Tentu saja, karena tidak banyak orang yang paham dengan profesi penulis yang memiliki kemampuan di bidang komunikasi dan kebanyakan bekerja di balik layar, di balik mesin ketik dan di balik panggung. Namun, penulis pun bisa berada di atas panggung sebagai seorang orator, motivator, penyanyi, penyair, dan bahkan menjadi seorang pemimpin revolusioner.

Banyak yang tidak menyadari bahwa profesi penulis berkaitan dengan komunikasi yang dapat bekerja di mana saja dan kapan saja. Jika masih ada yang menganggap bahwa profesi penulis sama seperti pengangguran berarti masih belum memiliki wawasan dan ilmu komunikasi. Tiada perlu menanggapi manusia yang memiliki keterbatasan panca indera, bahkan dari tukang becak, anggota DPR sampai Tuhan pun bisa dianggap sebagai pengangguran, karena terbatasnya pengetahuan dan panca indera manusia mengetahuinya. Bahkan manusia tidak dapat melihat menembus dinding atau melihat apa yang terkubur di dalam tanah yang dipijaknya sebelum membongkarnya dan mencari kebenarannya.

Menjadi Penulis Profesional
Jack Ma seorang pengusaha yang berhasil memberikan tips bahwa yang terpenting adalah kualitas produk dibandingkan modal. Jadi, faktor yang terpenting untuk menjadi pengusaha yaitu:
1. Kualitas tulisan atau karya
2. Pasar (Sasaran pembaca dan komunitas atau fanbase)
3. Modal

Hal yang terpenting untuk menjadi penulis profesional adalah kualitas karya. Kualitas karya diperoleh dari banyak latihan dan tidak berhenti mencoba. Dan alangkah beruntungnya jika semua latihan itu dilakukan dengan kecintaan atau kesenangan karena berangkat dari hobi, jadi tidak menjadi beban. Yang terpenting adalah kesenangan ketika melakukannya. Jika seorang penulis sudah senang dengan tulisannya, maka peluang besar bagi pembaca dapat ikut senang dengan karyanya.

Menulis relatif tidak membutuhkan banyak modal, walau masih membutuhkan alat tulis, komputer, listrik, dan lain-lain yang membutuhkan modal, apalagi jika membutuhkan riset dan waktu menulis yang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Sebut saja J.K. Rowling yang awalnya menulis di kafe dan di dalam tempat kosannya yang sempit. Juga Stephen King yang awalnya menulis dengan mesin ketik bekas di loteng rumahnya. Dan penulis-penulis lain yang berangkat dari menulis di atas kertas dan di tempat yang serba terbatas bahkan di dalam penjara dan di pengasingan seperti Pramodya, Anne Frank, Galilelo dan lain-lain.

Fokus kepada kualitas karya lebih penting daripada fokus kepada royalti atau honor. Walaupun hadiah dan penghargaan juga penting demi memotivasi. Kuantitas atau banyaknya karya yang ditulis karena mengejar honor semata tidak menjadi sebuah karya bisa dapat abadi dan terus dibaca sepanjang zaman. Misalnya J.R.R. Tolkien yang membangun dunia middle earth dalam karyanya The Lord of The Rings yang ditulis selama sekitar sepuluh tahun. Atau Tolstoys yang menulis karya War and Peace setebal seribu halaman lebih dengan pena, kertas dan kaca pembesar selama tujuh tahun dengan revisi menulis ulang di atas kertas sebanyak delapan kali.
Apalagi ketika menulis membutuhkan riset, obervasi, wawancara dan mencari referensi pustaka seperti menulis tesis yang akhirnya diolah menjadi buku.

Menjadi penulis profesional tidak instan. Tidak ada yang instan bahkan makanan instan pun melalui proses pengolahan dan percobaan beberapa kali. Jadi, untuk menjadi penulis profesional haruslah melewati tahapan, proses dan waktu seperti profesi-profesi lain yang juga belajar dari pengalaman dan jatuh bangun beberapa kali. 

Untuk menjadi profesional tentu harus banyak latihan dan latihan. Bisa dilakukan secara otodidak, belajar dari buku atau mengikuti kelas menulis atau masuk jurusan sastra. Semua tergantung kecintaan, kemauan, niat dan berusaha pantang menyerah.

Sebagai penulis pemula dimulai dari banyak menulis dan membaca. Mengumpulkan referensi dan meneliti teknik menulis, mencoba teori menulis dan terus latihan. Tentu saja, teori menulis diperoleh dari hasil dan temuan dari proses menulis, karena itu setelah mengetahui teorinya, maka jangan ragu untuk menulis, lupakan teori dan berkaryalah. Apalagi menulis termasuk kesenian yang bukan ilmu pasti dan bukan cetakan pabrik. 

Untuk menciptakan gaya baru dalam menulis tentu harus melalui berbagai proses belajar, meniru, mencoba dan terus latihan. Maka jangan ragu untuk memulai menulis, biarkan kritikus dan para ahli teori bergerak di bidang mereka. Bagi seorang penulis, tugas dan bidangnya hanyalah diharuskan banyak membaca dan banyak menulis, itu saja. Dari banyak membaca, penulis bisa belajar dan memahami tanpa menghapalnya. Dan dari latihan menulis, penulis bisa menemukan potensinya sendiri dan menemukan karakteristik yang khas dari keunikan tulisannya. Karena setiap manusia unik, walau sekeras apapun manusia meniru dari alam dan dari makhluk lain. Jika ada dua ciptaan yang sama identik, maka Tuhan terbatas. Karena itulah tidak ada ciptaan yang sama, bahkan daun pun tidak ada yang serupa, jika memang asli dan orisinil. Karena kadar, daya cipta dan rezeki setiap zat pasti berbeda-beda, dan memang dibuat seperti itu adanya agar lebih berwarna.

Jika ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan berbicara seperti orator - H.O.S Cokroaminoto.


Jadi, menulislah dan teruslah menulis :)

Karena Tuhan pun menjadi Maha Penulis yang menulis di Lauhul Mahfuzh dengan kisah semesta zat-Nya.


Situbondo, 3 Oktober 2017

Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) lahir di Situbondo. Senang berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama kawan-kawannya.


 Sumber foto: wallpapers






TIPS: Cara Mencari Berkah dan Nafkah dari Hobi Menulis TIPS: Cara Mencari Berkah dan Nafkah dari Hobi Menulis Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on Oktober 03, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar