TIPS: Cara Mengatasi Bully (Pelecehan) Fisik dan Non Fisik

Bahkan sampai berkelahi dan ditantang berkelahi, bahkan hidung saya pernah berdarah karena mendapat bogem mentah

Oleh: Ahmad Sufiatur R.

Kekejaman dapat membuat nikmat manusia. Karena manusia menyukai kekejaman – Alan Turing

Sudah dari sejak sekolah dasar, saya sering mendapat bully atau pelecehan dari kawan yang mengaku kawan, tapi sebenarnya lawan. Bahkan sampai berkelahi dan ditantang berkelahi, bahkan hidung saya pernah berdarah karena mendapat bogem mentah dan saya sampai menendang orang yang menyerang saya lebih dulu. Dari mulai lapangan, alun-alun, sekolah sampai di dalam masjid saya pernah diserang dengan pukulan lebih dulu dan akhirnya berkelahi. Sehingga saya sampai berlatih silat, ikut pencak silat, membuat padepokan bersama kawan-kawan dan mempelajari buku-buku silat dan tenaga dalam. 

Akhirnya, saya menyimpulkan bahwa perdamaian dan ketenangan yang dapat membuat seseorang sakti, bukan karena menang berkelahi.

Sifat melecehkan seperti penyakit yang melekat di hati dan otak yang sakit. Bagaimana tidak? Ada watak pada manusia yang memang senang main pukul, senang dengan kekerasan dan kekejaman yang nyata dengan korban nyata di dunia nyata (Bedakan fiksi dengan dunia nyata) senang menghina, senang mencaci-maki dengan kata-kata kotor. 

Alasannya? Ya, sekadar iseng dan bersenang-senang dengan mengganggu orang lain. Merupakan sifat primitif dari hukum rimba sejak zaman purba; siapa yang kuat dia berkuasa. Salah kaprahnya kekuatan ini sering ditunjukkan dengan adu otot dan debat kusir yang tidak bermanfaat. Dan tingkat bully antara orang awam dengan orang berilmu atau orang intelektual akan memiliki perbedaan kasar dan halusnya, terang-terangan atau tersembunyi, secara frontal atau dari belakang, secara revolusi atau perlahan dengan sistematis, semua tergantung juga kepada akal yang bisa diakal-akali dan akal-akalan. Dari bully tingkat personal, tingkat RT/RW sampai tingkat Perang Dunia pertama, kedua dan seterusnya, sampai sekarang.

Apa itu Bully?
Bully adalah pelecehan dengan fisik atau non fisik. 
Bully atau pelecehan secara fisik yaitu memukul tanpa alasan jelas, meludah, menampar, menendang, pelecehan seksual, dan mempermalukan orang lain di depan publik dengan perbuatan tak senonoh atau vulgar. 
Sedangkan bully non fisik, yaitu dengan lisan dan tulisan, contohnya seperti mengirim surat ancaman atau teror, menghardik, menghina dengan kata-kata jorok atau kotor,  membanding-bandingkan kekurangan orang, membuka aib orang lain dengan alasan dendam, dan mengkritik dengan tujuan menghancurkan tanpa alasan proporsional atau seimbang, antara kritik dan solusi, antara menyebutkan kekurangan dan kelebihan.

Bagaimana Mengatasi Pelecehan Fisik?
  1. Hindari pelaku sejauh-jauhnya.
  2. Berlatih bela diri dengan tangan kosong.
  3. Ajak senior dan kawan-kawan baik untuk membantu.
  4. Membawa alat bela diri yang hanya bisa melumpuhkan bukan mematikan.
  5. Laporkan kepada senior yang lebih bijak.
  6. Mencari solusi dan selesaikan secara kekeluargaan dengan keluarga pelaku.
  7. Cara terakhir adalah melapor kepada pihak berwajib.


Bagaimana Mengatasi Pelecehan Non Fisik?
  1. Bicarakan secara kekeluargaan dan dengan kepala dingin.
  2. Berdebatlah jika memiliki bukti-bukti yang kuat. Jika hanya debat kusir hindarilah.
  3. Tanyakan alasannya dan instrospeksi diri. Jika masih tidak bisa?
  4. Hindari sejauh-jauhnya.
  5. Lupakan dan alihkan perhatian kepada hal yang lebih penting dan lebih produktif.
  6. Alihkan perhatian dengan mendengarkan musik atau membaca buku.
  7. Alihkan perhatian dengan bekerja dan terus berkarya.
  8. Yakinlah bahwa tidak ada manusia yang sempurna, pasti punya kekurangan dan kelebihan, pasti punya sisi baik dan sisi buruk. Cobalah untuk memperbaiki kesalahan diri sendiri daripada mencari kesalahan orang lain.


Setiap manusia normal pasti pernah baper alias bawa perasaan. Lumrah karena setiap manusia diberikan perasaan atau emosi. Orang yang mudah terbawa emosi bisa jadi karena masalah dari dalam dirinya, bisa juga masalah dari luar dan tidak kunjung menemukan solusi untuk masalahnya sendiri.

Jadi, bagaimana agar kita tidak mudah terbawa emosi atau tersinggung?
  1. Yang dapat merendahkan diri kita hanyalah diri kita sendiri.
  2. Jangan biarkan pelecehan orang lain masuk dan mengendap ke dalam hati dan pikiran kita. Lupakan dan cari kegiatan yang lebih produktif.
  3. Menyadari bahwa setiap manusia ada ujian dan masalah masing-masing.
  4. Menyadari bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna.
  5. Menyadari bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan.
  6. Menyadari bahwa terkadang bukan salah diri kita, namun orang lain yang memiliki banyak masalah sehingga dilampiaskan kepada kita.
  7. Memaklumi bahwa setiap manusia sering tidak sadar berbuat salah.
  8. Memaklumi bahwa setiap manusia memiliki sisi baik dan sisi jahat.
  9. Memaklumi bahwa setiap manusia memiliki ujiannya sehingga kita harus merasa kasihan.
  10. Memaklumi bahwa setiap manusia menjadi tidak tenang karena masalah pribadi sehingga melampiaskannya kepada hal yang lain.
  11. Miliki sifat welas asih atau berbelas kasihan. Kasihanilah orang yang tidak tenang dalam hidupnya.
  12. Kasihanilah orang yang melampiaskan masalahnya kepada orang lain.

Manusia memang makhluk yang unik dan ekstrem.
Jadi kenapa manusia suka melecehkan manusia lain?
  1. Sebagai pelampiasan.
  2. Banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan diri sendiri.
  3. Terusik dan merasa terganggu karena orang lain.
  4. Penyakit hati dan pikiran yang bertujuan merusak tanpa solusi membangun.
  5. Karena menyadari kekurangan diri sendiri sehingga mengkritik tanpa solusi.
  6. Merasa cemburu, iri dan dengki dengan orang lain.
  7. Ingin mendapat perhatian karena kesepian dan kurang diperhatikan.
  8. Ingin eksis dan diperhatikan publik.
  9. Ingin terkenal dengan instan dan cara apapun.
  10. Iseng. Sifat manusia purba dan primitif yang tidak bisa ditahan diri sendiri.


Jadi, tidak ada manusia dewasa. Terbukti bahwa kadang masih ada orang tua atau senior yang melecehkan orang yang lebih muda. Atau level dewasa malah tidak menunjukkan kebijaksanaan, malah cap dewasa lebih ke arah vulgar dan kebebasan yang kebablasan.

Ya, tidak ada manusia dewasa, yang ada hanyalah manusia yang dapat menahan dirinya dengan berpuasa lisan dari kata-kata kotor, dengan berpuasa perut dan berpuasa syahwat dari nafsu hewani.

Gus Dur berkata bahwa manusia dewasa pun merupakan bayi-bayi gede. Ya, kita adalah bayi jika merengek hanya meminta tanpa berusaha, jika hanya melecehkan bayi lain tanpa menyadari kesalahan diri sendiri, jika hanya marah-marah karena ingin mainan mobil gede, rumah gede, ibu gede, ambisi gede, selingkuhan gede, dan ingin segala hal yang gede-gede secara instan tanpa berusaha. Yah, namanya juga bayi gede.

Intinya, yang dapat merendahkan hanya diri kita sendiri. Dan yang dapat mengalahkan diri kita adalah diri kita sendiri. Jika orang lain dapat mengalahkan dan merendahkan kita, berarti kita belum siap, belum latihan dan belum sadar sepenuhnya.

Teruslah melatih diri. Bagai bambu yang kuat karena kelenturannya. Dan bagai air yang kuat karena dapat mengisi apa saja dan dapat berada di mana saja dengan siapa saja.

Bahkan dari tukang becak sampai presiden, dari Rasul sampai Tuhan pun, masih dilecehkan dan dihina oleh manusia. Jangan menghina, boleh jadi manusia yang dihina lebih baik daripada manusia yang menghinanya.

Jangan lupa bahagia!

Situbondo, 6 Oktober 2017

Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) lahir di Situbondo. Senang berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama kawan-kawannya.


Sumber foto: amazon.com









TIPS: Cara Mengatasi Bully (Pelecehan) Fisik dan Non Fisik TIPS: Cara Mengatasi Bully (Pelecehan) Fisik dan Non Fisik Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on Oktober 06, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar