Asembagus; Berdamai dengan Masa Lalu


Ini Semacam Catatan Pejalanan dari Situbondo Bagian Timur
Siang menjelang sore, perjalanan saya dari Desa Trebungan Kecamatan Mangaran ke Asembagus diawali dengan ban belakang motor bocor. Sembari menunggu, saya baca satu cerpen dalam buku perempuan berlipstik kapur.
Mungkin sekitar azan Asar saya baru tiba di Asembagus.
Hari sebelumnya saya update status bahwa tanggal 6-8 Mei 2017 akan ke Asembagus ntah mau ke mana saya masih belum tahu. Tapi yang jelas saya sudah mengantongi 2 tujuan; pertama tanggal 6 Mei 2017 pukul 14.00 – 17.00 WIB di rumah Mas Irwan Kurniadi, kedua tanggal 8 Mei 2017 pukul 07.00 – 15.00 WIB acara Kelas Inspirasi, Rasanya tanggung jika bolak-balik ke rumah. Itu sebabnya, saya memilih tinggal di Asembagus selama tiga hari.
###
Oleh : Moh. Imron
Sore rupanya sudah singgah di Asembagus, saya tiba di rumah Mas Irwan, saat memasuki halaman rumah, saya diajak masuk sama Mas Ipank.Rupanya beberapa orang telah berkumpul,melingkar di sebuah kamar kecil. Saya bersalaman.
Kemudian saya disuguhi kopi jahe. Sepertinya di forum ini serius sekali, untung ada kopi yang paling bisa memahami perasaan saya saat itu.
Saya meyimak pemaparan di forum, pada waktu itu kebetulan giliran Mas Prayudo berbicara sekilas tentang kondisi sejarah di Situbondo, kemudian ada Mas Marwan, Agus Sodu dan lain-lainnya yang juga berbicara. Tapi saya tidak menyimak pemaparan Mansur, beliau sejarawan asal Lumajang yang menjadi narasumber di acara ini. Memang, saya juga diberi kesempatan untuk berbicara tentang sejarah. Tapi saya masih bingung, mau jelasin sejarah apa? Untuk urusan sejarah Situbondo, saya bukan bidangnya, saya bukan ahlinya. Saya tidak punya kemampuan ke arah sana. Saya hanya ingin berdamai dengan masa lalu. Saya bermakmum pada senior-senior yang ada di sana. Mengenai lainnya banyak sekali yang dibahas mulai dari kondisi Besuki hingga Banyuputih termasuk beberapa membahas beberapa wacana. Saya teringat pesan Mas Mansur yaitu bagaimana para pegiat sejarah di Situbondo bisa bersatu dan saling melengkapi.
Dan saya menyalakan rokok.
Di akhir acara,kami disuguhi nasi sodu, lalapan dan nasi bakar. Sepertinya makanan ini dari dapur Mas Agus Sodu. Dan acara selesai. Saya menghampiri Pak Mansur.
“Pak saya ingin menyaingi sampean.”
“Wah, bagus itu.”
“Rambut, jenggot, kumis, semuanya panjang. Punya saya masih kalah.”
Kemudian saya minta difoto. Dan bincang-bincang santai kepada beberapa orang yang hadir di sana.
###
Malam sudah tiba, saya berangkat menuju Mimbo, Banyuputih. Saya menemui Mas Farhan. Pagi-pagi dia sudah BBM, meminta saya untuk mampir ke rumahnya, mungkin dia membaca status facebook saya di hari-hari sebelumnya. Ia menyuguhi kopi dan beberapa camilan. Dan juga berbicara apa saja. Ia juga meminjamkan buku “#narasi”, sebuah antologi jurnalisme sastrawi. Sementara saya lupa tidak membawa buku bakat menggonggong, koleksi buku Damar Aksara, sebelumnya dia juga ingin pinjam buku itu. Farhan adalah salah satu penggiat literasi di Situbondo.
Sekitar pukul sebelas malam, saya beranjak pulang. Ketika sampai di jalan raya, ban depan motor saya bocor. Di sepanjang jalan, saya mencari tukang tambal ban disertai pesimis, untung masih ada yang buka, tepatnya di timur lapangan Sukorejo. Rupanya ada dua yang bolong. Duh.
Saya kembali menuju rumah Mas Irwan untuk numpang menginap di sana. Saya tidak nyenyak tidur hingga pukul dua dini hari. Saya teringat seseorang perempuan. Ada suara-suara kecil, suara-suara candaan di pikirian saya. Setidaknya Asembagus menjadi salah satu tempat kisah cinta saya, dulu. Di malam yang sunyi, saya dipeluk oleh rindu.
Pagi sekali, saya sudah bangun, Mas Irwan mengajak saya jalan-jalan ke taman Asembagus. Di sana banyak mbak-mbak, ibu-ibu senam. Dan tentu, juga banyak kendaraan berlalu-lalang di sana. Saya nongkrong di balai desa, selatan taman. Mas Irwan banyak bercerita tentang konflik bangunan di sana yang berpotensi sebagai cagar budaya hingga sekarang bisa diselamatkan. Kemudian Mas Irwan mengajak saya makan nasi sodu di utara lampu merah, hijau dan kuning. Dan saya kembali ke rumah Mas Irwan, ia menyuguhkan kopi. Wah. Pagi yang istimewa.
Sekitar jam sembilan, saya beranjak dari rumah Mas Irwan, sesampainya di jalan raya, saya kembali ke rumah Mas Irwan. Saya kehabisan bensin, dan pinjam uang ke Mas Irwan, sebab uang saya sudah tinggal lima ratus rupiah. Duh. Hari itu, saya benar-benar tak ada dana. Cuma bermodal dua puluh ribu yang habis untuk ongkos duakali tambal ban.
Pagi menjelang siang, saya mampir ke rumah Izzul Muttaqin, utaranya pabrik kapas. Semalam dia inbox facebook untuk mampir di rumahnya. Kemudian saya bercerita sama Mas Irwan. Mas Irwan memberi ancer-ancer rumahnya. Saya sempat bertanya pada orang-orang setelah mengikuti petunjuk dari Mas Irwan.
“Itu di musallah.”
Saya, langsung masuk ke halaman rumah Izzul, rupanya di sana ada Kakang Mink, sementara Mas Izzul tidur pulas kemudian dibangunkan. Ini kali kedua saya bertemu Izzul, pertama pada waktu diskusi sejarah tapal kuda di situs duplang, Jember. Saya dipersilahkan duduk di musalla, tak lama kemudian, saya disuguhi teh, rokok dan rujak lontong. Terpaksa makan lagi. Izzul ini kalau gak salah sudah menerbitkan 3 buku novel. Dia mahasiswa sekaligus santri di ponpes Sukorejo. Dia juga seorang jurnalis, aktif di berbagai organisasi. Sementara Kakang Ming seorang aktivis pemuda dan literasi. Dia juga mahasiswa dan santri Sukorejo. Kebetulan mereka sedang liburan, katanya.
Kami saling berbagi informasi mulai dari yang serius hingga hal-hal gak penting. Tentu yang paling menarik bagi saya adalah soal asmara. Setelah Mas Izzul ditanya soal pasangannya dia akan segera bertunangan, sebab pacarnya sering main ke rumah Izzul. Tentu mereka jarang bertemu, apalagi Izzul tinggal di pesantren.
“Wah, kalau kamu pacaran, kapan ciuman dan pelukannya?”
“Aku gak begituan, mas,” kata Izzul seraya cengengesan.
Saya pun menertawakannya. Sementara Kakang Mink ngakunya jomblo. Tapi ntahlah. Saya tidak tahu juga. Selang beberapa jam, saya pamit.
Sekitar jam sebelas siang. Saya menuju café Kayu Mas. Sesuai janji teman saya, Iyan, waktu berkomentar di status facebook saya, dua hari yang lau. Dia akan mentraktir kopi. Rupanya dia sudah duduk di dalam café dekat pintu. Dia calon penyair muda Situbondo. Kami juga banyak berbincang-bincang. Tiba-tiba dia mengeluarkan buku yang berjudul bulan robek, entah apa mau dipinjamkan atau diserahkan pada saya. Kemudian saya mengeluarkan beberapa buku, dan dia tertarik meminjam buku Inferno, Dan Brown. Kemudian saya menyulutkan rokok yang ia tawarkan.
Saat saya duduk di sana, saya teringat Mas Arif, Lia dan Luluk. Kami sempat nongkrong bersama di tempat café itu. Saya juga memesan kopi arabica tapi minta dipasangin bayarnya sampai sekarang belum saya ganti, hehe. Hari itu tepatnya pada hari Kamis 13 April 2017. Kami sibuk menyeleksi para relawan Kelas Inspirasi Situbondo yang pendaftarannya sudah dibuka sebulan yang lalu. Ada beberapa pendaftar yang dicoret dengan beberapa pertimbangan yang diputuskan bersama.
Saya berterima kasih khusus buat Mas Arif, dia jauh-jauh dari Jember hanya untuk membantu teman-teman di Situbondo dan juga buat mas Bas, yang dulu sempat hadir saat penunjukan ketua Kelas Inspirasi dan juga hadir pada saat breafing di Kampus Unars Situbondo.
Dan juga kedua perempuan di depan saya, yang hubungannya masih terkatung-katung tak jelas, tapi saya salut.
Itulah sedikit ingatan ketika saya nongkrong sama Iyan. Menjelang sore saya pamit ke Rumah Baca Damar Aksar. Kebetulan saya harus mengembalikan laptop yang saya pinjam pada Mas Jaya. Sekaligus mengambil buku yang ingin dipinjam oleh Farhan. Saya sudah berjanji sama Iyan dan Farhan untuk kembali lagi ke Asembagus nanti malam.
Sepanjang perjalan ke rumah baca, saya sempat bertemu dengan seorang penjelajah nusantar. Saya sempat menawari makan di salah satu warung Panji, ia menolak, Ia hanya meminta mie instant. Saya sempat berbincang sejenak. Dalam perjalannya dari Papua hingga tiba di Situbondo sekitar enam bulan, ia akan terus melanjutkan perjalanannya ke Aceh. Saya juga mengenalkan komunitas Backpacker Situbondo.
Sorenya saya langsung menuju rumah Lia, rupanya teman-teman di sana sedang prepare untuk persiapan esoknya. Saya mulai berkenalan dengan beberapa relawan kelas inspirasi. Saya sempat membantu sejenak. Magrib tiba saya kembali ke rumah Farhan, sekaligus menginap di sana.
###
Pagi yang masih samar, saya kembali ke rumah Lia, rupanya di sana sudah ramai. Kami sempat makan bersama, ketika hampir selesai makan ada kecowa yang melintas di samping nasi. Sontak teman-teman hebo.
Semua peserta berkumpul terlebih dahulu di taman Asembagus, sembari menunggu teman-teman yang tercecer. Kami sempat berfoto-foto dulu di sana dan berdoa. Kebetulan kelompok saya mendapat tugas di SD 3 Bantal.
Ada sahabat-sahabat yang tak kasat mata hadir menemui saya. Pikiran saya kacau. Ada sesuatu yang ingin tumpah.

Bersambung...
Asembagus; Berdamai dengan Masa Lalu Asembagus; Berdamai dengan Masa Lalu Reviewed by Redaksi on November 28, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar