Festival Pariopo Pertama dan Kisah Perempuan

PADA AWAL bulan November 2015, saya bersama kawan Situbondo Kreatif; Arif, Pak Ti, Dwiki, dan Risma sempat hadir di acara rembuk budaya tepatnya di kediaman Camat Asembagus. Kala itu, salah satu pembahasan yaitu Pojhien Hodo, di Dukuh Pariopo, Desa Bantal, Asembagus. Dan saya penasaran dengan ritual itu.
Maka saya berencana hadir di acara Festival Pariopo pertama yang bertepatan pada tanggal 24 November 2015.
Oleh : Moh. Imron
H-2 Festival Pariopo, rupanya saya mulai jatuh sakit. Demi keluarga seperjuangan, saya memaksa untuk hadir ketika acara telah tiba. Kalau saya tidak ikut mungkin teman dari Situbondo juga tidak akan hadir. Apa lagi saya sudah berjanji dengan Mas Irwan Rakhday untuk hadir di sana. Saat itu, saya bersama Mas Sufi, Zaidi dan Uwan dengan dua sepeda motor. Saya bersama Zaidi dan Uwan bersama Mas Sufi. Kami berangkat dari Situbondo ketika malam baru tiba.
Kami menerobos ke arah timur, sepanjang perjalanan kepala saya pusing. Ketika memasuki wilayah Awar-awar, ada sosok kenangan yang tiba-tiba menyapa saya. Kepala saya agak pening. Dan kami terus melaju ke arah selatan menuju Dukuh Pariopo.
“Apa kau ingat jalan menuju bukit yang pernah kamu singgahi?”
Aku memulai percakapan, di sela-sela perjalanan. Hari itu terasa indah, tidak seperti biasanya.
“Lupa.” Jawab singkat dari seorang perempuan yang sedang bonceng dengan saya. Tak lain adalah kekasih saya.”
Saya terus mencari gang, kemudian salah jalan, kembali lagi, salah lagi, begitu seterusnya, entah saya masuk pada sebuah jalan tak beraspal.”
“Sepertinya ini betul jalannya.”
Saya terus mengikuti jalan berbatu, rumah-rumah penduduk mulai sepi, sepertinya kami kembali nyasar, tempat yang saya singgahi penuh dengan tumbuh-tumbuhan hijau, dari kejauhan tampak bukit-bukit yang lumayan enak untuk dipandang. Tapi cuaca tampak mendung, langit berbatuk, saya khawatir, akhirnya saya memutuskan untuk kembali.
“Wah aku tetap penasaran dengan bukit itu, jadi kita tidak bisa ke sana.”
“Sebagai gantinya kau cukup lihat wajahku.” Dia sambil tersenyum.
Rintik hujan mulai membasahi tubuh kami, untungnya kami lebih cepat bertenduh di rumah teman.
Kepala saya kembali pening, saya seperti mengenyahkan sesuatu dan suasana gelap, langit tampak berbintang tak ada tanda-tanda sedang hujan. Zaidi yang memimpin arah perjalanan kembali balik arah karena nyasar, seharusnya kami belok kiri di persimpangan tadi. Dan rupanya kami berada di jalur yang tepat. Saya rasa bakalan telat di acara Festival Pariopo.
Sejak info pertama saya dengar, saya sudah berniat akan membawakan puisi “Putri Tidur”. Tapi sayang, ketika acara tiba, sakitku belum ada perubahan.
Pada acara Festival Pariopo saya tidak terlalu fokus mengikuti acara, tapi yang jelas ada penampilan dari siswa SMK, pembacaan puisi teman-teman saya termasuk teman dari Sukorejo, mamaca, juga ada penampilan musik elekton bersama Mas Agus Rajana. Suasana saat itu sangat sederhana, ada beberapa binsabin yang menggantung di tempat batu tomang. Oh ya, saya sempat pula bersua dengan teman-teman Backpacker Situbondo.
Selebihnya saya tidur. Sempat saya dibangunkan untuk makan nasi sodu-nya Mas Agus, tapi selera saya tidak enak makan. Dan kembali tidur, sesekali saya mendengar tawa dari para penonton yang hadir di sana.
Saya ke sana cuma numpang tidur. Kondisiku memang kurang fit. Jadi puisi Putri Tidur saya bawa tidur aja. Jadi, puisi “Putri Tidur” isinya tentang saya tidur. Bahkan ketika pulang saya sambil tidur. Putri Tidur memang keramat.
Sebenarnya dalam tidur, saya tidak merasa nyenyak. Ingin sekali saya memimpikan seorang... ah entahlah. Dan seorang perempuan itu rupanya hadir, memberikan isyarat seperti ingin mengajak saya pergi. Tapi saya menolak.
Perempuan itu pergi, ya dia seseorang yang pernah mengisi hari-hari saya waktu dulu, lalu hubungan berakhir. Dan yang terakhir, di acara Festival Pariopo, saya melewatkan acara ritual hodo, sayang sekali. Sungguh sayang tidak bisa menikmati ritual hodo yang digelar sore hari.
Semoga di lain waktu. Saya bisa dipertemukan lagi dengan ritual Pojhien Hodo.[]
Dari Kiri; Mas Uwan, Sufi dan dua santri Sukorejo.

Festival Pariopo Pertama dan Kisah Perempuan Festival Pariopo Pertama dan Kisah Perempuan Reviewed by Redaksi on November 23, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar