Situbondo Retro Festival; Prasasti Kenangan

Pun setidaknya, masa lalu adalah hal yang menarik untuk belajar di dalamnya. Bagi saya. Ada banyak prasasti yang mengantarakan pada masa yang telah berlalu pada ingatan yang menjadi lorong yang menembus waktu. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika menghadiri Situbondo Retro Festival.
Adakah sesuatu yang akan mengingatkan kisah cinta di masa lalu?

Oleh : Moh. Imron
Sebuah pintu masuk bertuliskan Situbondo Retro Festival. Sisi kanan-kiri bergambar dua orang laki-laki dan perempuan dengan busana retro. Ntah style tahun berapa saya tidak tahu. Juga ada gambar tv-tv hitam putih yang dicetak dengan banner dan ditempel pada gabus. Di depan pintu itu, saya sempat bertemu dan berbincang sejenak dengan mas Eko bersama kedua anaknya. Sementara para polisi sibuk menjaga kelancaran lalu lintas.
Kehadiran saya di sini sebagai salah satu pengisi dalam acara ini pada tanggal 29-30 September 2017 yang bertempat di Jl. Irian Jaya, Situbondo. Tapi saya tidak sendirian. Saya bersama tim Breakdance Situbondo. Kata Cak Rusdi Amrullah, breakdance juga muncul di Situbondo tahun 80-an yang bertempat di Gedung Teater. Beliau juga aktif breakdance di masa itu.Kemudian breakdance muncul lagi kisaran tahun 2006, ada mas Angga, Danial Safhan dkk. Kemudian generasi berikutnya adalah tim saya, aktif sejak awal 2012 hingga sekarang.
Saya tidak menikmati suguhan acara ini di kala sore. Duh. Saya datang pada malam ketika masih dini. Ketika saya masuk, ada banyak stan-stan. Saya tidak banyak mengamati. Dalam dua malam di acara itu, saya sempat bersua dengan beberapa orang yang saya kenal. Kadang singgah di stan-nya.
Saya singgah di salah satu stan budaya, ada Mas Irwan Rakhday dan Mas Prayudo, keduanya aktipis masa lalu. Terutama yang berkaitan dengan peninggalan sejarah Situbondo. Saya diajak main Pa' Beng. Yah kami memainkan alat musik tradisi dengan suka-suka di sana. Saya bersua Mas Agus. Penggiat kuliner sekaligus pelestari nasi sodu di Asembagus. Ada Siti Mutiara ,siswi SMASA yang baru saya kenal beberapa bulan lalu. Ia aktif di literasi Situbondo.
Saya terus berjalan bersama sebagian teman komunnitas breakdance Situbondo. Acara ini cukup ramai pengunjung. Tampak pula beberapa mobil, vespa, sepeda motor lawas mangkal di sana.
Saya sempat singgah di stan Backpacker Situbondo. Ada kawan saya, mas Ipul Lestari, Aweng, Mbak Yeye, Jupli, Anita dkk. Mereka adalah para penggiat lingkungan. Dan tak lupa pula ketemu Mas Agung Hariyono, aktipis Indonesia Green tapi bagi saya lebih cocok sebagai aktipis janda.
Berikutnya saya bersua dengan Mas Ubur, Choky dan Dwiki. Kala itu ketiganya masih belum menikah. Tapi sebentar lagi dah kelar. Ketiga pemuda ini penggiat fotografi. Termasuk di Situbondo Photography Club, Situbondo Kreatif, Kampung Langai dll.
Saya sempat pula menyapa mas Tatang yang saat itu sepertinya sibuk. Ia aktipis lingkungan di Daun Hijau, beliau lebih fokus di penanaman di pelosok-pelosok Kabupaten Situbondo.
Saya sempat masuk di stan Gerakan Peduli Sosial, di sana ada mas Ipank, Kusnadi yang kebetulan satu desa dan aktif di Poktan Muja, ada mas Taufiq dkk. Kegiatan-kegiatannya fokus membantu orang-orang yang tidak mampu. Di stan itu saya sempat berfoto-foto.
Kemudian saya bertemu Pak Har. Ia adalah penjaga Perpusda Situbondo. Tentu di stan ini juga banyak perangkat-perangkat yang lain. Saya menyapa dan menyalami semuanya. Saya sempat masuk Lihat-lihat foto Situbondo tempo dulu.
Berikutnya, saya bertemu kumpulan orang-orang jomblo, eh bukan maksudku masih belum punya pasangan.
"Mas saya lagi jomblo," begitulah kata Ima. Ia memang seperti itu dan termasuk paling heboh bila saya bertemu dengannya. Di sebelahnya ada Irwant penggiat Situbondo Photography Ponsel, orang yang kretif pokoknya dan belum menikah. Kemudian ada Lutfi Kurniawan dan lebih sering dipanggil Uwan. Dia orang yang paling hits di Situbondo sekaligus seorang blogger, buzzer, pelukis dan penyair. Dkk yang tidak bisa saya sebut semuanya.
Saya juga sempat bersua dengan sahabat yang paling kece Wahyu Widiarmove-on si ahli baper dan Tapukilap alias opek si ahli pantun Mereka berdua sama pasangannya masing-masing dan tentunya penggiat fotografi. Tak lupa pula ada Mas Bintang, Mas Aank keduanya juga penggiat fotografi yang hits juga aktif di Dewan Kesenian Situbondo.
Oh ya saya sempat ketemu Pak Ti bersama istrinya. "Mana diknya?" bilang pada saya. Saya jawab "tidak ada." Hiat. Pak Ti vokalisnya Marijuana. Tapi saya lebih suka ketika ngemsi dengan tapukilap. Ternyata di hari kedua dia ngemsi di sana.
Ada yang ketinggalan, saya juga bersua dengan Cak Bob dan Iman mereka tokoh penting di Komunitas Slank Fans Club Situbondo. Keduanya masih belum siap menikah. Tapi mereka mempunya semangat yang luar biasa.
Saya bertemu Rizki Pristiwanto. Dialah yang mengajak saya untuk bermain-main di acara ini, ia juga salah satu admin di grup facebook, Info Warga Situbondo (IWS). Saat itu kami bersua di wisma kapolres 19 September 2017. Dan tentu saya masih ingat dengan Pak Sigit Kapolres ketika melontarkan tantangan kepada IWS untuk mengadakan acara SRF pada acara anti hoax saat itu hadir juga.DKS, GPS, Situbondo Kreatif beserta tim Kampung Langai dll. Dengan harapan nantinya bisa saling sinergi termasuk komunitas lainnya. Inilah hasilnya. Situbondo Retro Festival yang bertempat di Jl. Irian Jaya.
Saat saya melintas di stan DKS, rupanya ada Pak Jefri yang tengah sibuk. Saya menyalami saja. Sementara saya melihat Bang Dedi Moerdhaniel sedang berkaca. Ada putih-putih di wajahnya. Saya hanya urakan saja.
Rupanya saya sudah hampir mendekati panggung. Saya bersantai dulu. Saya ketemu Fajri penyair muda juga ada Dias. Keduanya penggiat seni anak muda. Saya berjumpa dengan Kakang Roby, adalah sahabat saya ketika masih SMA. Dia sekarang jadi orang super sibuk. Juga ada Mas Edy Supriono di sana, kami berbincang-bincang sejenak.
Maka tibalah saya di dekat panggung. Saya bersama tim, Situbondo Breakin. Sebelumnya tim kami bernama Bgezhi, Bboy Generasi Zhibon. Kemudian berganti brand agar lebih mudah pencariannya. Terutama ketika battle di kota-kota wilayah tapal kuda. Dan tentunya biar mereka tahu bahwa kami dari Situbondo.
Personil di acara ini diantaranya adalah; Thoriq dengan gerakan yang dominan power move. Erwin lebih cocok ke style move kemudian ada Mbah, Dayat, Kiki, Wawan dan Ryan dengan gerakan style rockin, dan Tiara, poping.
Lagu sudah saya serahkan pada operator. Tempat perfom kali ini di sepan panggung. Tempat perfom buat kami adalah aspal. Tentu kami tidak akan maksimal. Ada beberapa gerakan yang tidak bisa ditampilkan. Bisa jadi itu akan menciderai kami.
Breakdance bisa dikatakan salah satu tari jalanan. Walau bagaimanapun panggung yang telah disediakan oleh panitia, kami akan menyesuaikan. Sebelumnya kami tidak latihan. Saya hanya menghubungi teman-teman yang tidak berhalangan untuk langsung hadir di tempat acara. Untuk konsep tari biasanya dilakukan setelah melihat area panggung. hehe.
Biasanya kami akan menampilkan cyper, rutin, trick, dan combo begitulah istilah di komunitas kami.
Ini penampilan kami yang ke 31 semenjak tahun 2012, selebihnya kami sering latihan di gazebo alun-alun Situbondo setiap malam Minggu dan juga menghadiri event-event di wilayah tapal kuda.
Begitulah emsi memanggil nama tim kami. Beberapa penonton memadati area. Dan musik dinyalakan.
Selamat menyaksikan..., bagi yang nonton.
Begitu pula di hari berikutnya.
Oh ya ada Anita, yang sering merekam kegiatan-kegiatan kami.
Untuk menutup tulisan ini, tepatnya di hari kedua, saya sempat ngopi sebelum beranjak pulang di Kang Dodik, Menikmati Arabika Kayumas. Kebetulan saat itu ada, Aryanti, Monic, Uwan, Irwan, Wahyu, Hazan, Ateng. Kami menikmati malam penuh keceriaan dan canda tawa. Ada cinta yang membara.
Jika sekilas mengamati kegiatan Situbondo Retro Festival  (SRF) bagi saya ini menyuguhkan tawaran baru, salah satunya tentang semangat muda di Situbondo. Sekaligus mewarnai kegiatan-kegiatan pertunjukkan, termasuk mengenalkan kuliner. Meskipun  ada beberapa hal yang perlu dievalusi. Tapi yang paling penting adalah mengapresiasi seniman-seniman dan pemuda untuk berkreasi sekaligus memberi ruang bagi mereka.
Beberapa hari setelah acara itu, banyak foto-foto yang berseliweran di medsos, akan tetapi walau bagaimana pun foto masih terbatas pada frame dan olah digital bagaimana sebuah gambar menjadi indah, akan tetapi realitanya adalah konsep kegiatan ini tidak asik dipandang ketika tempat ini diapit toko-toko segala macam yang membuat suasana bagi saya kurang enak dipandang. Akan tetapi saya tetap menikmati apa yang disuguhkan, tapi ini tidak begitu penting sebab ini awal, belajar dari pengalaman itu seru, saya yakin di event berikutnya akan lebih baik sembari belajar dan menikmati proses. Dan satu lagi, jika ada sesuatu yang mengingatkan akan kisah cinta di masa lalu, sepertinya menarik untuk disuguhkan. Haha.

Selamat buat teman-teman yang terlibat di acara Situbondo Retro Festival. []
Salah satu stan Situbondo Retro Festival

Situbondo Retro Festival; Prasasti Kenangan Situbondo Retro Festival; Prasasti Kenangan Reviewed by Redaksi on November 18, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar