Melamar Pekerjaan dan Perempuan


Apa yang lebih menarik dari melamar pekerjaan? Mungkin melamar seorang perempuan.
Oleh : Moh. Imron
Maka pada suatu pagi yang cerah di penghujung bulan Januari 2018, saya melajukan sepeda motor ke kota, meskipun tidak begitu bersemangat, mata terasa perih. Lelaki nokturnal seperti saya tidak terbiasa bangun pagi.
Ini pertama kali saya melamar pekerjaan. Setelah tes administrasi, kali ini saya sudah memasuki tes tulis. Dari awal saya merasa tidak cocok jika mengikuti kualifikasi yang dibutuhkan. Tapi nurani saya berkehendak lain.
Saat tes tulis, berjalan biasa saja. Semua peserta diberi waktu dua jam. Saya mampu mengerjakan soal pilihan ganda dan esai. Ada beberapa juga yang sulit. Banyak juga soal-soal yang typo. Apakah terburu-buru? Atau memang, ah entahlah.
Rupanya ada juga kawan-kawan saya di hari itu; Irwan, Tiara, Farhan, dan Fata. Selesai acara, kami ngopi bareng. Kecuali Tiara.
Dua hari berikutnya, tes wawancara.
Di dalam ruangan tes, peserta tersisa 40 peserta, ada beberapa yang tereliminasi saat tes tulis. Ruangan tes sangat sejuk. Ber-AC. Beberapa peserta dibagi menjadi kelompok sesuai bidang masing-masing. Tak lama kemudian, panitia memberikan air mineral dan donat untuk mengganjal perut. 
Saya kebagian wawancara di gelombang kedua, setelah istirahat, sekitar jam satu siang. Di hadapan juri, saya mengisi biodata, menyerahkan portofolio. Dan saya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari penguji, motivasi mengikuti lowongan ini dan banyak lainnya.
Hari itu sangat melelahkan, khususnya bagi saya. Menunggu giliran-giliran tes wawancara, mungkin juga dirasakan peserta lainnya. Dan saya banyak menghabiskan obrolan dengan Farhan. Juga berinteraksi dengan peserta-peserta lainnya.
Hari itu saya juga baru tahu, rupanya ada Desi, teman saya yang juga mengikuti wawancara, di hari sebelumnya tak sempat kelihatan soalnya.
"Des, temen di sebelahmu siapa?"
"Bahasa arabnya mata."
"Ainun?"
Itu hanya nama perkiraan saya. Saya menutup mata.
"Aku takut jatuh cinta." Sontak peserta lain tertawa.
Namanya Ai. Saya suka memanggilnya begitu. Meskipun tebakan saya sebelumnya meleset saat mengecek di e-pengumuman. Dia menarik perhatian saya. Alamatnya Besuki, katanya.
"Saya tidak apa-apa jika tidak diterima di lowongan ini. Asal diterima sama kamu."
Memang banyak sekali obrolan-obrolan kecil di antara peserta, hingga tes wawancara selesai. Dan saya tidak berhasil meminta kontaknya si Ai. Nasib.
Di akhir wawancara, semua peserta dibagi menjadi sembilan kelompok. Sekaligus akan menjalankan tes terakhir dalam bekerja tim dan penilaian masing-masing individu terhadap apa yang telah dikerjakan. Kami diberi waktu satu setengah hari.
Acara tes wawancara ditutup dengan doa.
Esoknya, saya kembali berkumpul dengan tim kelompok. Sesuai waktu dan tempat yang disetujui di hari sebelumnya, yaitu di salah satu studio radio Situbondo.
Saya menyampaikan sama kelompok, bahwa saya sudah menyerah untuk lamaran tenaga kerja ini, kecuali sama si Ai. Dan benar, saya rasa posisi yang saya ikuti tidak sesuai dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya. Intinya begitu, tidak perlu saya ceritakan. Akan tetapi saya tetap mengikuti proses perekrutan tenaga kerja hingga selesai.
Oh ya di kelompok kami, ada Mas Gagah, dia punya keahlian di bidang programer android. Orangnya tinggi, memakai kacamata, rambut pendek dan tinggal di Prajekan. Ada Mas Rindang, dia bagian Desain Komunikasi Visual, sayang saat praktek dia tidak bisa kumpul. Sibuk dengan kegiatannya di Malang. Tapi dia tetap melaksanakan pembagian tugas dan tetap berkomunikasi. Ada Mbak Ulil, anak Kapongan, pandai siaran radio. Dia juga andalan narator kami. Ada Mas Farid, sosok yang bagi saya cukup ulet, seorang animator. Dia sempat menunjukkam hasil-hasil karyanya. Dan saya tertarik pada hasil kreasinya yang berangkat dari cerita rakyat. Ada mas Putra, bagian keamanan jaringan. Pemikirannya juga kongkrit. Akan tetapi kelemahannya cuma satu, dia tidak bisa mengamankan hatinya. Buktinya masih belum didekatkan dengan jodohnya. Yang terakhir ada Mas Arif. Dia tinggal di Jangkar. Juga kreatif dalam olah video. Mudah senyum. Sementara saya sendiri adalah yang nulis cerita ini. Hehe.
Sore itu, kami mulai berbagi tugas apa yang bisa dikerjakan. Tentu saja kami bercerita tentang proses lamaran kerja saat tes wawancara. Adapula yang berasumsi, memilih siapa saja yang akan lolos. Dan juga banyak hal lainnya. Kami banyak menghabiskan dengan tawa. Seru.
“Gimana kalau si dia (Ai) sudah tunangan?”
“Entahlah, mudah-mudahan masih belum.”
Kami pulang sekitaran pukul 22.00 WIB, sebab hujan baru saja reda. Tugas-tugas yang dikerjakan bisa dikatakan hampir rampung, hanya tinggal memoles beberapa saja.
Saya merasa lega, tugas kelompok sudah selesai. Tapi tentang mengejar seorang perempuan, masih berlanjut. Termasuk si Ai, meskipun tidak mempunyai kontaknya, ah. Hanya dua media sosial yang berhasil saya lacak, tapi tidak begitu aktif.
Bagaimana dengan pengumuman tes? Saya tidak begitu tertarik. Dan tentang kelanjutan tentang si Ai? Biar itu menjadi misteri dalam cerita ini. Dan mungkin lebih baik juga saya tutup cerita ini secepat mungkin. []
Melamar Pekerjaan dan Perempuan Melamar Pekerjaan dan Perempuan Reviewed by Takanta ID on Januari 31, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar