Perjalanan Orang Gila - Fragmen Cerpen Eksperimental #4


Oleh: Ahmad Sufiatur R.          
Di dunia orang gila, orang gila itu duduk menonton orang yang menontonnya. Tubuhnya dekil, kusut, tanpa sehelai benang pun. Ia sudah lupa siapa namanya. Orang-orang disekitarnya tertawa melihatnya. Mereka menunjuk-nunjuk sembari memeletkan lidah dan memutar bola mata. Menunjukkan wajah konyol mereka ke arah orang gila itu.  Memotretnya. Merekamnya. Mengunggah foto dan videonya di media jejaring sosial. Seolah tak pernah melihat orang gila. Orang-orang yang lain mencaci makinya. Berkata tak senonoh padanya. Meludahinya. Melemparinya. Mengusirnya. Menyiramnya dengan air comberan.
“Hahaha.” Orang gila itu tertawa.
“Hahahaha,” orang di sekitarnya ikut-ikutan tertawa. Tawa menular dari satu orang ke orang lain seperti virus flu. Ada yang tertawa sampai terkencing-kencing dan terkentut-kentut. Ada yang muntah karena kebanyakan tertawa. Ada yang dilarikan ke rumah sakit karena tersedak akibat overdosis tawa.
“Blablablabla.” Orang gila itu memainkan lidah.
“Oh, dia sedang senang katanya,” celetuk orang yang mendengarnya.
 “Kau yakin orang gila itu senang?” tanya seorang psikiater.
 “Orang gila itu kurang gizi. Tentu saja tidak akan bahagia,” ujar ahli gizi.
“Orang gila itu tidak pernah beribadah. Tidak akan bahagia,” sahut agamawan.
Mereka berdiskusi lama, mengadakan penelitian, menulis buku dan membentuk forum yang membahas: apakah orang gila yang tertawa tandanya bahagia?
Orang gila itu merobek poster gambar partai. Katanya untuk alas tidurnya. Orang-orang partai marah. Mereka membayar tukang pukul untuk menghajarnya. Tukang pukul membuat wajahnya babak belur. Mereka menuduh orang gila itu telah menodai bangsa dan negara, menodai kehormatan mereka, mencemarkan nama baik. Mereka menyeretnya ke pengadilan kota. Hakim yang mulia memvonis hukuman penjara. Namun, penjara sudah penuh pesakitan. Penjara sudah dipesan bandar narkoba yang beroperasi di sel VIP. Rumah sakit jiwa pun sudah penuh sesak. Akhirnya, orang gila itu dilepas di hutan belantara. Berharap menjadi santapan hewan-hewan liar di sana.
Orang gila itu berjalan-jalan di hutan sampai menemukan jalan keluar. Hewan-hewan liar hanya melewatinya. Hewan liar menyangka orang gila itu teman mereka. Para hewan itu jarang ada yang gila, kecuali terkena penyakit anjing gila dan sapi gila.
Orang gila itu melewati kebun pepaya. Ia mengambil pepaya jatuh. Penjaga kebun terbirit-birit mengejarnya. Menyeretnya kembali ke pengadilan kota. Hakim yang mulia kembali menjatuhi hukuman penjara kepada orang gila itu. Tapi, penjara masih penuh. Rumah sakit jiwa juga masih penuh. Orang gila itu kembali dibuang di luar kota.
Orang gila itu berjalan di tepi jalan raya. Melihat para pengendara yang mengebut. Menghindari sepeda motor yang lari dari polisi. Melihat begal merampas sepeda motor di siang bolong. Melihat kendaraan yang balap liar. Melihat kendaraan yang melanggar lampu lalu lintas. Mendengar sirine yang meraung-raung menerobos arus kendaraan. Melewati arus kendaraan yang tiba-tiba melawan arah, mengabaikan rambu lalu lintas, pura-pura buta aksara.
Orang gila itu berkata, “Wkwkwkwk.” Orang-orang disekitarnya memotretnya, merekamnya, menjadikannya foto lucu, memberi teks lucu lalu memposting di media jejaring dengan komentar lucu yang sama: wkwkwkwk.
Orang gila itu melewati pelataran mall. Melewati orang-orang yang memakai kostum badut. Melewati remaja yang berdandan menor. Melewati perempuan setengah telanjang menari-nari di dekat mobil pajangan. Melewati kerumunan orang-orang yang lari menghindari pengendara mobil yang mabuk. Menghindari mobil yang meluncur dari tempat parkir di lantai empat.
Orang gila itu tidak mabuk. Orang-orang di sekitarnya yang mabuk; mabuk darat, mabuk garam, mabuk lem, mabuk bir, mabuk duit, mabuk proyek, mabuk pelacur, mabuk gigolo, mabuk partai.
Orang gila itu berjalan di kompleks pelacuran. Melewati wanita-wanita telanjang yang menari-nari di balik kaca etalase. Melewati genangan muntah para pemabuk. Melewati sampah alat-alat kontrasepsi, sampah bungkus pil KB, dan sampah mainan kelamin yang rusak. Melewati anak-anak yang bermain kuda-kudaan di tempat pelacuran. Melewati para pengintip yang berebut lubang kunci. Melewati anak-anak yang menangis karena ditinggal ibunya melacur. Melewati pasangan mesum yang berduyun-duyun ke klinik aborsi.
Orang gila itu berjalan di depan tempat ibadah. Lalu kencing di dekat sana. Orang-orang yang baru saja beribadah mengutuknya. Mengusirnya karena takut kena najis. Mereka memohon agar Tuhan mengubahnya menjadi batu. Mereka melemparinya atas nama Tuhan yang Maha Pengasih. Hampir saja orang gila itu disalib dan dibunuh seperti para nabi. Namun, mereka melepasnya karena takut orang gila akan disembah.
Orang gila itu berjalan di depan gedung dewan. Melewati anggota dewan yang kabur lewat pintu belakang bersama wanita simpanannya. Menghindari bangsa sendiri yang saling lempar batu. Melewati orang-orang yang berdemo karena sembako. Melewati orang-orang yang berorasi. Mendengar orang yang berpidato atas nama bangsa dan negara lalu menjarah bangsanya sendiri. Melihat orang yang protes dengan menjahit mulutnya, membenamkan kaki di dalam semen, memoles tubuh dengan saus merah, memakai topeng foto si koruptor tanpa menyadari si koruptor berada di antara mereka.
Orang gila itu berjalan di dekat kuburan. Melewati orang-orang yang membakar setanggi demi mendapat warisan. Melewati orang-orang yang tidur di kuburan agar bermimpi nomor togel. Melewati orang yang bertapa di kuburan demi mendapat batu bertuah. Melewati orang yang membongkar kuburan para wanita muda demi pesugihan.
Orang gila itu berjalan di rumah sakit. Melewati orang-orang sakit yang mati di kursi tunggu. Dokter mengusirnya karena mendiagnosa bahwa orang gila tak ada obatnya. Para perawat menyemprot cairan disinfektan agar tidak tertular penyakit gila. Mengepel lantai dengan karbol agar tidak terinfeksi virus gila.
 Orang gila itu melewati perumahan elit. Melewati rumah-rumah besar yang tidak ada penghuninya. Melewati rumah mentereng yang menjadi sarang laba-laba.
Orang gila itu urung melewati jembatan rusak. Jembatan yang baru dibangun itu jebol dihanyut banjir karena dikorupsi pemerintah. Melewati anak-anak sekolah dan guru yang harus rela berenang menyeberangi sungai demi menuju ke sekolah.

Orang gila itu melewati bangunan bersejarah yang hancur. Batu-batu bersejarah telah dijarah warga untuk dijual, digiling dan dibuat untuk membangun rumah mereka sendiri. Barang-barang bersejarah dijarah lalu dijual ke penadah sampai ke luar negeri. Sehingga tidak ada lagi yang mengenal sejarahnya, lupa peradaban bangsanya sendiri. 
Orang gila itu melewati gedung milik negara yang terbengkalai. Melewati plang yang berisi tulisan: PROYEK MILIK NEGARA. DANA SERATUS MILYAR. Namun, tidak perah selesai, hanya bengkalai kerangka dan kawatnya yang menjuntai.
Orang gila itu melewati areal gudang. Ada gudang garam, gudang beras, gudang sapi, gudang kuda, gudang pelacur, dan gudang rahasia, semua dengan keterangan: BARANG IMPOR HANYA UNTUK PEMERINTAH.
Orang gila itu melewati pasar. Melewati orang yang berjualan daging ayam curian. Melewati orang yang berteriak-teriak menjual obat kuat pria wanita cap buntut gajah. Melewati orang yang berjualan buah busuk. Melewati orang yang menjual makanan basi.
Orang gila itu melewati bank. Melewati orang-orang yang menumpuk-numpuk lembaran uang. Melewati orang yang tertawa sendiri melihat nominal di buku tabungan. Melewati orang-orang yang menangis karena uangnya baru saja ludes dibobol maling digital. Melewati orang yang menari-nari karena tiba-tiba rekeningnya bertambah tanpa memelihara tuyul. Melewati orang yang kena tipu undian berhadiah. Melewati para koruptor yang mencairkan uang haramnya. Melewati para mahasiswa yang menipu orang tuanya.
Orang gila itu melewati taman kota. Melewati anak-anak yang tak bergeming di depan layar ponselnya, tak bicara antara satu dengan yang lain.

Orang gila itu melewati sekolah. Melewati anak-anak sekolah yang mencorat-coret seragamnya. Melewati anak-anak sekolah yang tawuran dengan anak sekolah lain.
Orang gila itu berjalan di galeri seni. Melihat heran patung yang tidak berkepala. Melihat heran lukisan telanjang yang mirip dirinya. Melihat heran batu-batu sungai yang dicat warna-warni atas nama seni.
Orang gila itu melewati lapak buku bekas. Melewati buku-buku stensilan picisan bergambar telanjang. Melewati buku-buku motivasi yang membahas tips kaya dalam sekejap, tips memperoleh istri dan suami sempurna, tips masuk surga, tips memperbesar anu. Melihat kitab-kitab suci bajakan. Melewati tumpukan buku-buku tebal yang dijual kiloan.
Orang gila itu bertemu dengan orang gila lain. Jumlah mereka makin banyak. Dan bertambah banyak.
Orang gila itu berjalan melewati surga. Melihat orang-orang yang bersanggama dengan puluhan istri dan bidadari. Melihat orang yang kekenyangan buah surga hingga tidak bisa berjalan. Melihat orang yang tertawa bahagia seperti orang gila.
Orang gila itu melewati neraka. Melihat orang yang ditusuk lidahnya. Melihat tubuh orang yang digunting sedikit demi sedikit. Melihat alat-alat penyiksa lengkap dengan malaikat penyiksa.
Orang gila itu akhirnya bertemu Tuhannya. Bukan. Orang gila itu menyangka bertemu Tuhannya. Menyangka Tuhan berfirman dan bertanya padanya:
Siapa sebenarnya yang gila?           
Dan mereka pun tertawa bersama-sama.

Situbondo, 17 Juli 2017
Sumber foto: lukisan Dejan Jovanovic yang terinspirasi lukisan Michael Angelo 'Creation of Adam' dan alien di film Prometheus
Perjalanan Orang Gila - Fragmen Cerpen Eksperimental #4 Perjalanan Orang Gila - Fragmen Cerpen Eksperimental #4 Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on Maret 14, 2018 Rating: 5

1 komentar