Trauma Menulis dan Basabasi


Oleh: Ahmad Sufiatur R.

Beberapa bulan lalu, saya sempat merasakan trauma menulis. Bagaimana tidak? Beberapa kali tulisan saya masuk nominasi sepuluh besar di beberapa lomba menulis skala nasional, bahkan di antaranya bertema keagamaan dan diadakan oleh mereka yang berasal dari pesantren, namun panitianya carut-marut. Belum lagi, fakta bahwa semakin tulisan kita dikenal, maka akan semakin banyak pula musuh dan orang-orang yang cemburu, iri hati bahkan dengki kepada keberhasilan kita, apapun titel, pangkat dan agamanya, ya, itu lumrah. Menjadi publik figur bukan berarti terbebas dari ujian, justru makin banyak ujiannya, ibarat makin tinggi gunung makin kencang pula anginnya, wajar. Bergaul dengan orang-orang intelektual bukan berarti kita bisa mendapat cukup apresiasi, justru orang-orang yang ‘merasa’ tinggi ilmunya akan makin meremehkan kita dan memandang sebelah mata. Bukti bahwa orang-orang yang berilmu makin tinggi egonya, makin tinggi gengsinya, dan menunjukkan masih rendah tingkatan ilmunya. Karena makin tinggi ilmu seseorang justru akan membuatnya makin rendah hati, makin merasa bukan siapa-siapa di lautan ilmu semesta yang tanpa batas itu. Ilmu manusia ibarat setetes embun di atas lautan maha luas ilmu Tuhan.

Beberapa bulan lalu, saya sudah jarang menulis, lebih banyak membaca dan mulai menggali profesi lain di bidang seni rupa; melukis dan menggambar. Apalagi kejenuhan pasti datang, maklum manusia. Apalagi dengan menulis dan menerbitkan buku, bagi saya belum mampu dan layak untuk menafkahi keluarga. Maka, bulan lalu saya mencoba peruntungan dengan mencari pekerjaan menggambar dari luar negeri. Alhasil saya pun menjadi pengumpul devisa negara, pemburu dolar. Hasilnya cukup lumayan, dari menggambar saya dapat membeli laptop (yang sudah diimpikan sejak saya masih sekolah) dan ponsel baru.

Ketika datang undangan ke Jogja demi acara sastra dan pengumuman lomba sepuluh besar cerpen eksperimental 2018 dari penerbit Basabasi yang sudah cukup lama, bahkan saya sudah lupa, akhirnya saya merencanakan untuk istirahat sejenak dan rekreasi. Beruntung saya dapat mengumpulkan ongkos ke Jogja dari hasil menggambar dan berburu dolar. Dari uang hasil menggambar itulah, saya dapat berangkat ke Jogja bersama Pimred takanta.id ini, Moh. Imron, dan menginap di dalam hotel dan mencari makan sendiri. Atas usul paman saya yang tinggal di Jogja, saya pun berangkat dua hari sebelum acara, apalagi perjalanan cukup jauh dari Situbondo ke Jogja, sekitar 12 jam ditempuh dengan kendaraan umum, dan tambah lama jika macet di jalan.

Maka saya berangkat ke Jogja dengan niat untuk rekreasi, istirahat sejenak dari deadline menggambar garapan dari luar negeri. Apalagi saya tidak yakin bisa menang dalam lomba cerpen eksperimental Basabasi yang awalnya diikuti ribuan peserta itu, kemudian membuat saya kaget karena cerpen saya bisa masuk sepuluh besar. Masuk sepuluh besar sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya, dan tidak berharap terlalu banyak mengingat para penulis yang masuk sudah senior dan konsisten menulis.

Karena baru pertama kali ke Jogja, saya mengajak teman agar tidak kesasar. Dalam perjalanan kami harus berdesak-desakan di dalam bus yang penuh sesak, ditambah lagi macet panjang karena perbaikan jalan. Saya harus berdiri untuk beberapa lama sebelum mendapat kursi plastik dan duduk di tengah-tengah bus. Rasa ngantuk yang menyerang membuat saya beberapa kali membentur orang di sebelah saya, beberapa kali membentur kursi di sebelah saya, karena tidak dapat bersandar akhirnya saya meringkuk di tengah bus selama perjalanan lebih dari sepuluh jam itu. Setelah sampai di kota Surakarta, baru saya dapat kursi yang empuk. Begitupula nasib Moh. Imron di belakang saya, sama-sama tersiksa.

Karena jarang menginap di dalam hotel mewah, saya pun agak kikuk ketika menginap di dalam hotel. Bahkan Mas Aveus Har, penulis hebat nasional dan pengusaha mie ayam dari Pekalongan itu pun mengalami hal yang serupa ketika menginap di dalam hotel mewah. Maklum beginilah ketika orang kampung menginap di dalam hotel, semua nampak serba baru dan membuat hal-hal yang serba lucu karena tidak terbiasa dengan kemewahan; tidak terbiasa dengan shower, air panas dan dingin, atau ketika harus duduk di atas toilet, serba aneh.

Saya dan teman saya kebetulan datang lebih awal, menurut kepada nasehat paman saya agar berangkat ke Jogja lebih awal, jadi kami bisa beristirahat selama sehari semalam sebelum menghadiri acara sastra di kafe Basabasi.

Sebelum acara, saya pun mulai berkenalan dengan para penulis lain di hotel. Seperti mimpi saya dapat berkumpul dengan para penulis hebat dari berbagai daerah itu yang kadang hanya mengenal wajahnya di surat kabar. Di dalam obrolan itu, kami pun menebak-nebak siapa yang akan menjadi juara dalam acara sastra Basabasi 2018 ini. Panitia memang sengaja tidak memberitahukan siapa saja pemenangnya, bahkan nama penulis di naskah dihilangkan selama penjurian. Menyadari banyak penulis-penulis hebat yang masuk dalam sepuluh besar itu, saya pun tidak berharap terlalu banyak. Tujuan saya ke Jogja untuk jalan-jalan dan beruntung bisa membawa buku dengan cerpen saya di dalamnya, saya sudah bersyukur masuk dalam sepuluh besar, tidak berharap menjadi pemenang atau mendapat hadiah.

Maka selama menjelang detik-detik acara pengumunan pemenang, saya sangat santai, bahkan mengobrol dan berusaha akrab dengan para penulis lain. Tidak ada pikiran untuk bersaing atau merasa menjadi pesaing bagi yang lain.

Karena itu, ketika nama saya disebut sebagai juaranya, saya hampir tak percaya! Hal pertama yang ingin saya lihat adalah sampul bukunya, ya, seperti apa sampul buku dengan judul dari cerpen saya itu? Maka jantung saya pun berdebar-debar ketika membuka bingkisan hadiah buku. Serasa mimpi yang terlalu indah untuk jadi kenyataan, ketika melihat judul cerpen saya terpampang jelas di sampul buku itu. Kejutan demi kejutan pun membuat saya pusing, uang hadiah dari penyelenggara lomba dan biaya akomodasi; penginapan dan transportasi, langsung cair di hari itu juga (uang hadiah yang cukup besar untuk dibagi-bagikan kepada keluarga, Moh. Imron saksinya), ditambah lagi saya tak terbiasa naik mobil ketika diantar pulang pergi dari kafe ke hotel, mungkin ini mimpi, dan saya tak ingin segera bangun dari mimpi indah ini. Di dalam hati saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada penerbit Basabasi, pengelola kafe Basabasi, penerbit Divapress, para juri dan para penulis yang namanya bisa ditemukan dalam buku antologi cerpen eksperimental 2018 dan seluruh pihak yang terlibat dalam memberikan kejut jantung sebagai syok terapi kepada saya. Sekali lagi terima kasih.

Pengalaman ini mirip ketika saya ke Jakarta demi menerima penghargaan ketika menang lomba komik. Bisa baca di sini. 

Rasa trauma menulis saya sedikit terobati, ya, sedikit terobati, karena saya tidak ingin makin bangga dengan penghargaan, tidak ingin makin terobsesi mengejar predikat, juara, piala, piagam (alih-alih mengejar kebijaksanaan sejati) tidak ingin makin tersiksa mengejar langit yang tidak ada ujungnya itu, hasrat manusia untuk diakui dan eksistensi yang semu belaka. 

Menyadari bahwa di atas langit masih ada langit lagi, yaitu Allah. Tuhan yang Maha Besar itu tidak banyak bicara, tidak banyak mendapat penghargaan dari manusia, namun dalam diam terus menginspirasi. Begitulah, saya hanya ingin berkarya tanpa tujuan apapun karena semua rejeki dari Allah.

Mungkin sudah saatnya saya berhenti menulis, berganti banyak membaca dan mendengar. Karena jika banyak menulis dan berbicara, kita hanya mengulang apa yang sudah kita ketahui. Sedangkan jika banyak membaca dan mendengarkan keluh kesahmu dan pengalamanmu, mendengarkan keangkuhan orang lain, sehingga saya bisa belajar hal yang baru.

Situbondo, 17 April 2018


Sumber foto: Dokumen pribadi


Buku antologi cerpen eksperimental 2018 sudah bisa dipesan via Whatsapp ke nomor 081 316 320 671/Wawan Esideika.





Trauma Menulis dan Basabasi Trauma Menulis dan Basabasi Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on April 17, 2018 Rating: 5

1 komentar

  1. Sukses selalu untuk mas Ahmad Sufiatur Rahman, beruntung bisa bertemu dengan para penulis nasional. Saya juga bersyukur bisa bersahabat dengan mas Aveus Har. Salam kenal dari Pekalongan mas, hehe

    BalasHapus