Mencari Jodoh dan Hantu Cerita Rakyat Situbondo

Oleh: Ahmad Sufiatur R.

  
Banyak Ide yang Menjadi Kenangan
  
Seorang penulis yang jarang menulis bukan berarti mengalami kebuntuan menulis atau mengalami writer's block. Justru ketika banyak ide, banyak konsep, banyak yang harus digarap (beberapa naskah cerpen, naskah novel, naskah komik masih tersimpan di arsip komputer), bahkan beberapa tertunda, apalagi semuanya tidak terjadwal maka akan kehilangan fokus. Seorang yang pendiam, penyendiri, dan tidak banyak bicara, atau memilih mengasingkan diri dari keramaian bukan berarti minus ide, contohnya, banyak penulis yang makin produktif menulis ketika berada di dalam penjara, atau ketika berada di tempat pengasingan, atau sengaja mengasingkan diri seperti ketika Rasulullah menyendiri di gua Hira. Atau seperti Jalalludin Rumi yang pernah 'istirahat' menulis hingga sampai beberapa tahun lamanya, untuk kemudian kembali lagi dengan ide-ide segar. Bagi saya yang bukan siapa-siapa, merasa salut kepada para penulis yang tetap rajin menulis, tetap produktif menulis, karena memang sudah kerjaannya, atau karena terpaksa, atau karena kebutuhan, seperti ketika saya masih jadi mahasiswa dulu.

Akhir-akhir ini saya jarang mempublikasikan tulisan, bahkan sudah jarang update status-yang-pura-pura-galau-setengah-iseng-setengah-serius-setengah-gila di media jejaring sosial yang justru akan makin mengaburkan fokus akibat multitasking. Selain karena kesibukan lain (menjadi ilustrator), pasti ada masanya penulis harus istirahat sejenak sebelum kembali lagi. Bahkan jika sudah berjodoh dengan ide tulisan, maka rasa rindu dan kangen suatu ketika akan menggerakkan penulis untuk menulis, dan pembaca pun akan merasakan getaran kerinduan sang penulis dalam tulisannya, dan pembaca pun akan rindu untuk membaca kerinduan yang satu semesta itu.


 Kesenian Menulis yang Membebaskan Pikiran

Ide turun setiap detik seperti butir air hujan dari langit-Nya, setiap ide dari Tuhan juga asalnya. Seperti jodoh, ide dan inspirasi itu pun tidak serta merta bisa cukup kuat untuk menggerakkan hati penulis atau pembaca. Bagai milyaran butir air hujan itu jatuh dari langit tidak semuanya jatuh di tanah yang subur, atau di kondisi yang memungkinkan bagi tumbuhnya ide. Bahkan setelah ide itu tumbuh pun akan segera diuji dengan terpaan angin, guyuran hujan, dihantam panas matahari dan diuji dalam musim yang keras. karena itu tidak semua ide yang diturunkan dari langit tumbuh menjadi pohon dan menghasilkan buah yang bermanfaat sepanjang zaman. Dalam Al Quran, digambarkan bahwa kalimat yang benar dan bijaksana bagai pohon yang berbuah banyak. Dalam surah 14 Ibrahim ayat 24-25, “Tidakkah kamu memerhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu.” Dan dalam surah 48 Al Fath ayat 29, disebutkan “Seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya”. Begitu pula tulisan yang mengisahkan kebenaran dan bermanfaat, seperti pohon yang berbuah manfaat yang akan melampaui zaman, dan ketika itulah karya tulisan bisa abadi.

Tulisan ini pun ditulis ketika saya sedang rindu untuk menulis, di tengah kesibukan menggambar pesanan ilustrasi, dan ketika sudah dekat tenggat waktu untuk segera menyelesaikan buku cerita rakyat Situbondo yang telah dipesan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Situbondo. Apalagi sudah direncanakan tiap tahun ada lima judul buku dengan lokal konten yang harus diterbitkan karena instruksi dari pusat. Ya, semua itu harus diselesaikan satu per satu agar tidak menumpuk. Karena menumpuk pekerjaan tidak baik untuk kesehatan, apalagi menumpuk kenanganmu yang terlalu banyak itu, hehe.

 Seperti Mencari  Jodoh

Mencari dan menulis cerita rakyat Situbondo tidak semudah seperti menulis cerpen tentang mantan, atau menulis novel romantis ala remaja. Walau ada sekitar puluhan cerita rakyat yang berhasil ditulis oleh kawan-kawan di komunitas penulis, hanya sebagian yang masuk kriteria cerita rakyat. Apalagi tidak banyak yang dilengkapi oleh data-data referensi, daftar pustaka, narasumber atau dilengkapi foto bersejarah. Maka saya harus berpikir keras untuk mengolah puluhan naskah cerita rakyat itu menjadi naskah yang layak untuk diterbitkan bekerja sama dengan perpustakaan daerah. Menulis cerita rakyat itu gampang tapi susah. Di sisi lain cerita rakyat itu bukan murni sejarah, sudah ada tambahan di masyarakat atau hasil dari budaya dan kreasi seniman. Defenisi dari cerita rakyat sendiri adalah cerita asal-usul, yang sulit dicari asalnya atau sekadar usul, karena memang bukan sejarah atau fakta sejarah yang sudah berubah sesuai daya pikir pencerita yang diwariskan dari budaya lisan dan mendongeng dari generasi ke generasi. Yang semuanya itu adalah hasil dari budaya, pemikiran tentang kesenian dan nilai baik buruk etika yang sarat pesan moral.

Hasilnya cukup bagus dengan diterbitannya buku cerita rakyat berjudul Santri dan Seekor Harimau yang memiliki referensi dan narasumber, dan diluncurkan dalam acara seminar dan penerbitan cerita rakyat sebagai perintis. Layaknya para perintis yang memulai dengan langkah pertama di jalan yang masih panjang dan penuh kendala.

Menerbitkan cerita rakyat Situbondo, bisa dibilang sudah terlambat, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Penerbitan buku cerita rakyat Situbondo juga didasari atas keprihatinan bahwa banyak konten kearifan lokal di Situbondo yang belum dibukukan atau belum dikelola dan belum banyak yang diarsipkan dengan baik. Terlebih lagi, kurang kompaknya antara penulis, pemerintah dan narasumber. Walau begitu perintisan penerbitan buku cerita rakyat dan pengelolaan konten kearifan lokal, sudah dirintis dengan hasil yang cukup baik. Sudah ada makalah tentang konten kearifan lokal, dan sudah ada buku cerita rakyat yang sudah diterbitkan, sudah ada program penelusuran dan perawatan konten kearifan lokal dari sejak tahun lalu. Walau masih banyak kendala, berjalan lambat, masih dapat dihitung dengan jari, dan masih nampak sedikit yang memenuhi rak di perpustakaan provinsi Jawa Timur. Sebagai warga sipil di Situbondo, saya prihatin ketika karya-karya Situbondo masih sedikit di luar kota, masih belum mewakili nama Situbondo dengan cukup baik.


Mencari Hantu di Kuburan Sejarah

Makin miris karena masih kurangnya kepedulian antara pemerintah dan para seniman yang masih saling cemburu, atau sekadar mengejar proyek belaka. Belum lagi jika ganti pemerintahan, seringkali berganti pula kebijakannya. Yang seharusnya melanjutkan program yang sudah berjalan baik, malah membuat program sendiri-sendiri dan bersaing tidak sehat. Akibatnya, anggaran daerah terbuang sia-sia tanpa hasil yang permanen. Beruntung masih ada segelintir orang yang kompak bahu-membahu dan konsisten dalam perjuangannya, walau tidak mendapat keuntungan materi apapun, atau malah merugi karena aksi sosialnya itu. Di sisi lain, banyak yang masih oportunis, demi mencari keuntungan dirinya, namanya dan kelompoknya. Padahal jika semua maju, maka akan berdampak kepada kemajuan di segala bidang. Ya, kemajuan tidak bisa sendiri-sendiri, jika masih ada yang tertinggal, atau sengaja ditinggalkan, maka tidak akan bisa maju bersama, apalagi mengatas namakan daerah yang memiliki beraneka ragam kelompok dan watak yang berbeda pula.

Ada sekitar tiga ratus lebih cerita rakyat dari seluruh Nusantara, namun sayangnya dari Kabupaten Situbondo belum satupun cerita rakyat yang masuk dalam khazanah cerita rakyat Nusantara. Jadi harap maklum ketika siswa sekolah yang mewakili Situbondo mengikuti lomba story telling cerita rakyat di provinsi, yang notabene membawa nama daerahnya, maka tidak heran jika cerita yang disampaikan adalah cerita dari kota lain, atau cerita yang itu-itu saja. Jadi, jangan heran jika Situbondo masih masuk dalam daftar daerah yang tetap tertinggal atau masih bergerak lambat untuk bisa bersatu, kompak dan maju bersama.

Maka menulislah.
 Terlalu banyak bicara, apalagi takut salah dan banyak berteori tidak akan membuahkan hasil apapun.

(Mungkin akan bersambung)



Situbondo, 22 September 2018

  
___
  


Ahmad Sufiatur Rahman (Sufi) senang berpetualang di dunia lain. Senang bermain dan saling belajar bersama kawan-kawannya.



(Sumber foto: dokumentasi penulis)



Mencari Jodoh dan Hantu Cerita Rakyat Situbondo Mencari Jodoh dan Hantu Cerita Rakyat Situbondo Reviewed by Ahmad Sufiaturrahman on September 22, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar