Laki-Laki Rapuh : Sebuah Penjabaran


Barangkali produk budaya seperti maskulinitas dan feminitas pada akhirnya menjadi jurang pemisah bagi relasi antar manusia. Misalkan, bagaimana seorang laki-laki yang gemar menangis, dianggap tidak ‘macho’ oleh sebagian besar perempuan. Salah seorang teman pernah berkata, “Tangisan laki-laki berbentuk kemarahan”. Saya tertawa mendengar omong kosong tersebut. Apakah benar bahwa ‘maskulinitas’ dipandang dari bagaimana seharusnya laki-laki menjadi ‘laki-laki’ dari sudut pandang ‘kebiasaan’? Apakah benar, di era sekarang, menjadi laki-laki yang memiliki sisi feminitas dianggap sebagai ‘laki-laki rapuh’?
Saya banyak berelasi (berteman dan berkencan) dengan laki-laki. Pada akhirnya saya menemukan kesimpulan yang kurang lebih dapat menggambarkan, bagaimana sebenarnya ‘laki-laki rapuh’ itu. Laki-laki rapuh bukanlah laki-laki yang gemar menangis, menonton film cinta, dan memoles kuku. Saya membuat daftar hal-hal yang bisa dikategorikan sebagai ciri-ciri laki-laki rapuh. Lihat daftarnya, barangkali ada hal-hal ini yang juga kamu lakukan.
Gengsi Menolak Ajakan Teman untuk Berbuat Nakal
Teman saya, seorang lelaki yang akan menikah empat bulan lagi, bertengkar dengan kekasihnya. Sebabnya, di ponselnya ditemukan percakapan dan rekam jejak telepon bersama perempuan lain, seorang sales rokok. Setelah melalui dialog panjang, ia mengakui bahwa ia menuruti kata temannya untuk meladeni perempuan tersebut. Ia sadar bahwa itu salah, tapi ia tidak mau temannya menganggapnya ‘cupu’. Melalui cerita teman saya tersebut, saya menyimpulkan bahwa, laki-laki rapuh cenderung memiliki gengsi yang cukup tinggi untuk menolak ajakan teman sesama laki-laki. Kebanyakan dari mereka takut dianggap sebagai ‘suami-suami takut istri’. Padahal, dengan menolak untuk berbuat nakal di belakang pasangan, tidak lantas membuat laki-laki terlihat feminin. Justru, dengan menjadi laki-laki yang setia pada komitmen akan meningkatkan kualitasmu sebagai manusia, bukan hanya sebagai laki-laki. Tidak ada untungnya kan, kehilangan satu hal yang berharga di hidupmu hanya untuk menuruti gengsimu sebagai laki laki rapuh?
Berbuat Kasar
Bukan lagi rapuh, berlaku kasar adalah salah satu ciri bahwa ototmu lebih besar daripada otakmu. Sudah bukan jamannya, kalian, wahai laki-laki, untuk menyelesaikan masalah dengan otot. Pakai sedikit otakmu untuk bernegosiasi, berbicara dari hati ke hati. Berlaku kasar, tidak lantas membuatmu terlihat seperti pahlawan, lho. Tidak ada ceritanya, superhero di manapun, memukul kekasihnya, atau membentak kekasihnya. Kalau ingin jadi superhero, asah dulu kemampuanmu menyelesaikan masalah, bukan malah menambah masalah. Sebaliknya, dengan menjadi laki-laki yang tenang, tidak berapi-api, itu sangat membuatmu berkelas.
Cuek dan Jarang Memuji
Banyak film-film yang menampakkan perempuan yang jatuh hati kepada laki-laki cuek karena dianggap misterius. Bambang, ini bukan film. Ini adalah realitas. Menjadi laki-laki cuek tidak lantas membuatmu sekeren Samuel Rizal, kok. Boleh kok, sesekali, kamu memuji orang-orang di sekitarmu. Pasanganmu, misalkan. Hal itu tidak lantas membuatmu terlihat tidak jantan. Justru, hal-hal tersebut mampu meningkatkan kadar jantanmu. Katakan apa yang ingin kamu katakan. Hilangkan hal hal menyebalkan yang biasa kamu lihat di film film. Jangan malas untuk memuji orang lain.
Menghindari Berelasi dengan Perempuan yang Lebih dari Dirinya
Fromm memang pernah berkata dalam bukunya, bahwa kecenderungan laki-laki tidak ingin dirinya disaingi, entah oleh sesama laki-laki maupun perempuan. Namun, kecenderungan itu sebenarnya bisa diatasi. Berelasi dengan perempuan yang lebih darimu, tidak lantas membuatmu menjadi pecundang, wahai laki-laki rapuh. Seharusnya, hal itu membuatmu dapat berpikir lebih keras bagaimana untuk menjadi setara dengannya. Ingat, setara. Bukan lantas menaklukkan. Relasi yang setara akan membuat hidupmu sungguh berkualitas. Tidak ada yang merasa disaingi, tidak ada yang merasa perlu lebih unggul di atas yang lain. Omong-omong, perempuan yang lebih darimu bukankah cenderung lebih menarik?
Homofobia
Laki laki yang ‘merasa’ dirinya jantan, biasanya takut untuk berteman dengan teman-teman gay. Mereka takut dianggap ‘tidak jantan’. Ini bukan perkara jantan dan tidak, kawan. Ini soal bagaimana kamu memanusiakan manusia. Jangan hanya karena kamu heteroseksual lantas kamu menganggap homoseksual lebih buruk darimu. Bagaimana kamu menyikapi sesuatu menggambarkan bagaimana kualitas dirimu. Ada pula laki-laki heteroseksual yang khawatir dirinya menjadi ‘target’ dari teman-teman gay. Halo, memang kamu setampan dan semenarik apa sampai sampai bisa GR begitu? Teman-teman gay juga punya selera, laki-laki rapuh bukan salah satunya.
Barangkali masih banyak hal lain yang dapat mengkategorikan seseorang sebagai laki-laki rapuh. Namun, semoga yang sedikit ini dapat lebih mencerahkan pembaca, terutama perempuan-perempuan di luar sana. Barangkali yang sedikit dapat membantumu mendiskualifikasi laki-laki rapuh dari daftar calon pendamping hidupmu. Wahai laki-laki rapuh yang berkeliaran di luar sana, belum terlambat untuk belajar bagaimana menjadi ‘laki laki seutuhnya’ yang selama ini kalian salah artikan maknanya. Selamat berelasi dengan sehat !


Ditulis oleh : Raisa Izzhaty
Seorang altruis, aktif di gerakan ekofeminisme Resister Indonesia, sedang menyusun strategi
untuk @situbondofeminis
Laki-Laki Rapuh : Sebuah Penjabaran Laki-Laki Rapuh : Sebuah Penjabaran Reviewed by Redaksi on Februari 28, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar