Ayat Nostalgia dan Puisi Lainnya Karya Tjahjono Widarmanto


Puisi- Puisi Tjahjono Widarmanto

PEREMPUAN BULAN
                                   *)buat: Jackson Pollock

wajah tersenyum dalam ingatan
jejak dan senyummu tertinggal
dalam lorong-lorong waktu  lengang
seperti bulan yang termenung sendiri

perempuan menunggu aroma kopi
menawarkan kisah-kisah pilu yang terulang
: ciuman yang berakhir pada kematian

atau tentang kisah-kisah baru
: perjumpaan, perpisahan, pertemuan kembali
dan cium paling sunyi seperti rembulan termangu
 di tubir awan yang jingga 



CINTANYA PABLO
                                   *)Mesra Cinta: Pablo Picasso

perempuan adalah gelombang warna itu
selalu berwarna biru, seperti mata kucing
menggeram karena birahi

cintamu biru, sayang
seperti lapis langit tak berkesudahan
kapas-kapas lembut yang berguguran
bersama senandung lamat-lamat
samar dan perlahan menuju ke entah

cintamu, biru, sayang
warna abadi yang melompong
menampung sunyi tak berkesudahan
mencatat kisah-kisah retak yang abadi

cintamu, cintaku, tak punya warna selain biru
sebab birahi dan cinta berkelindan dengan mati
lantas segalanya adalah abadi yang biru

: perempuan biru senyummu biru.kecupmu biru.bugilmu biru.desahmu biru

ah,  cinta dan kematian pun biru


BERDIRI TELANJANG
                                   *) kepada Joan Miro

telanjanglah ! bisikmu tergesa

maka segenap perempuan itu telanjang
serupa Kalinyamat yang menyimpan dendam
di sekujur tubuh dan peluhnya

telanjangmu adalah pemukat rahasia
penghuni-penghuni langit akan terpikat
maka segala teka-teki akan dijabarkan

telanjangku yang gelisah adalah meditasi! : serumu

pintu-pintu itu terbuka segala mata penjaga rimba terjaga
suara-suara tak putus meneriakkan sabda-sabda itu

telanjanglah engkau tak lagi tamu!
maka segala suara itu membisikkan pengetahuan-pengetahuan
yang dulu disingitkan dalam kitab-kitab yang disucikan



AYAT NOSTALGIA

masa lalu mengeja wajahmu tersipu dalam ingatan
seperti foto dalam album riwayat yang berdebu
jejak dan senyum tertinggal seperti gang-gang lengang

aku menunggu di ruang tamu menanti sebuah perbincangan
hangat dengan aroma kopi  menawarkan kisah-kisah baru
: perjumpaan, perpisahan, kerinduan lantas persuaan kembali
seperti cumbu dan cium yang tak pernah sepi

kalender-kalender sarat dengan perjumpaan gaduh
saat kita menziarahi kembali lintasan-lintasan
ingatan kepada kamu yang dipingit waktu

aku ingin mengecupmu dengan cinta
yang sanggup tumbuhkan masa lalu
seperti musim menunaskan bunga
bermekaran di sela payudaramu
tempat aroma rindu legitnya cinta

seganap kangen ingin memanggil-manggil perjumpaan
agar kita bisa berbincang menerka dan menakar setia

biarlah kita sesekali menggapai rindu dan menggamitnya
dalam kenangan sekaligus perjumpaan
membiarkan kata-kata hampa dan berjumpalitan di udara
: hingga yang tinggal cuma peluk dan kecup melepas pesan!


perempuan itu menunda senyum
berharap kalender akan sarat dengan perjumpaan gaduh
namun matanya hanya menziarahi lintasan-lintasan

tak ada yang mengecupnya
musim semi meninggalkan tunas-tunas bunga
membiarkan segala kelopak dan putik berjumpalitan
di antara awan dan bulan jingga

kecup itu telah mengabaikan pesan cinta



PERTANYAAN KARNA

“mengapa aku harus dihanyutkan, ibu?”

perempuan itu tak pernah menjawab, tangannya terus menganyam sarang laba-laba
atau sesekali menjulurkan telapak tangan agar kupu-kupu bisa bertelur di sana

“haruskah itu? dan untuk apa, ibu?”

perempuan itu kini menari sambil menangkapi sayap-sayap burung yang berjatuhan
ikan-ikan capek berenangan, angsa-angsa bosan mengibaskan sayap-sayapnya

“pelayaran itu apakah kutukan atau tugas yang diwariskan, ibu?”

perempuan itu membasahi rambutnya.titik-titik air yang tersangkut di rambut
menjadi kristal-kristal bening seperti embun yang berkilau saat dicium matahari

“mengapa pengembaraan itu harus dimulai saat dini hari, ibu, saat aku belum sempat dolanan gobak sodor dengan adik-adikku? saat aku masih begitu gandrung oleh warna langit yang jingga?”


*) Tjahjono Widarmanto.Penyair  tinggal di Ngawi. Buku puisinya Percakapan Tentang Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak, merupakan salah satu pemenang buku puisi terbaik versi HPN 2016


BIODATA PENULIS
Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969 dari keluarga guru. Bapaknya:  Soedarmo, adalah guru SPG dan almarhumah ibunya; Isdiwati adalah guru sekolah dasar yang pada akhirnya menjadi kepala ranting dinas. Kedua orangtuanyaah yang mengenalkannya pada dunia aksara. Masa kecilnya hingga SMA dihabiskan di kota kecil kelahirannya Ngawi. Selepas SMA melanjutkan studi sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, hingga lulus pada tahun 1992. Melanjutkan studi pascasarjananya di bidang yang sama di Unisma Malang dan lulus di tahun 2006. Saat ini sedang menyelesaikan program doktoralnya di Unesa.
Tulisan-tulisannya berupa puisi, cerpen, esai sastra, budaya, sosial dan pendidikan dipublikasikan di berbagai media massa, antara lain , HORISON, BASIS, JAWA POS, REPUBLIKA, Koran TEMPO, JURNAL NASIONAL, MEDIA INDONESIA, SEPUTAR INDONESIA, PIKIRAN RAKYAT, SUARA PEMBARUAN, PIKIRAN RAKYAT, KEDAULATAN RAKYAT, SOLO POS, SINAR HARAPAN, LAMPUNG POS, Jurnal PERISA (Kuala Lumpur), BAHANA (Brunai), dan sebagainya. Beberapa sajaknya pernah diterjemahkan dalam bahasa Jerman dan Inggris.
Buku-bukunya yang telah terbit, antara lain: YUK, NULIS PUISI (2018), PERBNCANGAN TERAKHIR dengan TUAN GURU (2018),  PERCAKAPAN TAN dan RIWAYAT KULDI PARA PEMUJA SAJAK (buku puisi 2016),  Pengantar Jurnalistik : PANDUAN AWAL PENULIS dan JURNALIS (2016), MATA IBU (buku puisi, 2016), MARXISME dan SUMBANGANNYA TERHADAP TEORI SASTRA: Menuju Pengantar Sosiologi Sastra (2014), SEJARAH YANG MERAMBAT DI TEMBOK-TEMBOK SEKOLAH ( buku puis, 2014), MATA AIR DI KARANG RINDU (buku puisi, 2013), MASA DEPAN SASTRA: Mozaik Telaah dan Pengajaran Sastra (kumpulan esai, 2013), UMAYI (buku puisi, 2012), DRAMA; Pengantar dan Penyutradaraannya (2012), NASIONALISME SASTRA (bunga rampai esai, 2011), KITAB KELAHIRAMN (buku puisi, 2003), KUBUR PENYAIR (buku puisi, 2002, dan DI PUSAT PUSARAN ANGIN (buku puisi, 1997).
Meraih berbagai penghargaan  di bidang kepenulisan, antara lain: buku puisi terbaik 2016 versi Hari Puisi Nasional, Penghargaan Sastrawan Pendidik 2013 dari Pusat Pembinaan Bahasa, Penghargaan Guru Bahasa sastra Berdedikasi dari Balai Bahasa Jawa Timur 2014, Guru Berprestasi II se-Jatim 2016, Penghargaan Seniman Budayawan Berprestasi Jawa Timur di 2012, berturut-turut memenangi lomba penulisan yang diadakan Depdiknas dan  Pusat Kurikulum dan Perbukuan di 2004, 2005, 2007, 2010, 2013.
Selain mengajar di SMA 2 Ngawi dan pernah menjabat Pembantu Ketua STKIP PGRI Ngawi, juga acapkali diundang menjadi pembicara, juri, narasumber, instruktur maupun peserta dalam berbagai seminar dan workshop. Beberapa kali mewakili Indonesia dalam forum sastra Internasional. Sekarang beralamat di Perumahan Chrisan Hikari B.6 Jl. Teuku Umar Ngawi. Telp. 085643653271. E-Mail:  cahyont@yahoo.co.id.
Ayat Nostalgia dan Puisi Lainnya Karya Tjahjono Widarmanto Ayat Nostalgia dan Puisi Lainnya Karya Tjahjono Widarmanto Reviewed by Redaksi on Maret 03, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar