Cerpen : Akibat Dari Salon Kecantikan Karya Nisa Ayumida



Oleh: Nisa Ayumida*
Perempuan itu tentu saja sudah lupa waktu, keduanya saling sambung cerita lewat sebuah tatap- pandang. Saling memperlihatkan deretan gigi yang berjejer rapi. Bintik-bintik hitam yang bertabur di daratan mukanya seolah sebuah ejekan baginya. Cepat-cepat perempuan itu mengoleskan krim wajah ke permukaan kulitnya, melalui jari telunjuknya yang tak manis lagi. Padahal ia tidak sibuk apa, kecuali mempertahankan kecantikannya setiap waktu. Sesekali keduanya tertawa getir. Jauh di kedalaman mata yang ia pandangi, ia mulai menemukan masa-masa getir yang dilaluinya. Bagaimana ia belajar cara meletakkan bulu mata, bagaimana cara mengoleskan lipstik, maskara yang hitam pekat ke tempat-tempat yang semestinya menerimannya. Padahal ia pun tahu, kecantikan adalah anugerah yang sekejap. Namun dengan tetap mempertahankan kecantikannya setiap hari, ia merasakan sensasi bahagia yang luar biasa. Sebab bahagia padanya telah berubah makna dari kebanyakan orang lain.           
@@@

Sang bapak yang usianya berkisar tujuh puluh tahun meninggal. Ditambah keadaan Ibu yang jatuh bangun dengan sesak dadanya. Di tengah himpitan ekonomi membuatnya tak dapat berpikir damai lagi hingga tawaran untuk bekerja di tengah remang-remang lampu bar, sebagai pelantun lagu, ia terima, meski penuh himpitan ragu di dada. Ia pun tahu segala konsekuensinya. Maka saban hari berangkatlah ia menjelang senja lelap dan baru pulang paruh malam. Bergulir waktu, ajakan demi ajakan dari lelaki hidung belang sama sekali tak ia gubris satu orang pun. Di tempat yang ramai itu, ia tak menemukan suatu kebahagiaan apapun kecuali uang yang ia dapat dari bosnya. Meski satu dua kali ia dibuat cemas sebab polisi tiba-tiba menggerebek tempat itu, namun ia selalu saja lolos. Rupanya Tuhan masih mengampuninya. Namun ia tidak pernah jera dengan pekerjaan itu. Ia tidak bersaudara, hanya berdua saja dengan ibunya yang tengah ia rawat.
“Kamu bekerja apa, Ta?” Suatu ketika sambil melipat baju si ibu menyodorkan pertanyaan.
“Aku bekerja di kedai kopi milik pak RT kampung sebelah, Bu,” Jawabnya demi mendamaikan hati ibunya ditengah hujan deras pertanyaan tetangga.
@@@
Perempuan dalam cermin tetap bertahan dengan senyum yang ia usahan tetap menawan. Padahal, jauh dibalik lampu-lampu yang menggantung di kamarnya, segerombolan cicak menertawakannya cekikikan. Namun ia tak pernah sadar dan tetap menyisir rambutnya yang kian kasar. Di rambut itulah ia juga menemukan kebahagiaan malam itu. Sambil tersenyum ia lalu teringat. Tuhan menjatuhkannya pada lubang manis.
Begini ceritanya, sirene lampu mobil polisi melengking kian merapat ke telinga masing-masing para pengunjung bar malam itu. Gemerlap lampu dan alunan musik semakin mencekam malam itu. Perempuan itu tergagap di atas panggung, meninggalkan alunan musik. Ia merasa tak akan menemukan jalan pulang malam itu. Semua orang berdesakan, berhamburan. Tiba-tiba tangan lelaki yang tak ia kenal menariknya, menuruni tangga, memasuki gang sempit dalam bar, kamar-kamar yang gelap, setengah terseret kakinya ia berpikir bahwa laki-laki itu seolah tahu banyak rute pintu rahasia yang ada dalam bar itu. Bahkan ia sendiri tidak tahu bila ada kamar-kamar gelap dalam bar itu. Penyanyi dangdut itu menarik napas lega. Kemudian perkenalan singkat terjadi di dalam mobil. Pada laki-laki itu ia minta diturunkan jauh dari gang jalan menuju rumahnya. Diam-diam ia takut ibu dan tetangga melihat.      
Demikianlah hari-hari berikutnya berlanjut. Laki-laki bernama Pardi itu tak pernah absen mengantarnya manggung. Ia bahkan sempat bertanya.
“Kenapa kau tidak bekerja di tempat lain saja, Ta?” Saat itu Tata terkesiap, menatap uang di pangkuannya yang ia hitung sejak tadi.
“Kamu bisa kerja di kantorku kok!” Perempuan itu ragu pada dirinya sendiri. Ia tidak pernah punya pengetahuan lebih.
“Aku tak punya bakat di tempatmu. Kamu pun tak punya bakat di tempatku!” Jawabnya. Dan laki-laki itu hanya terdiam sambil membelokkan arah mobil ke sebuah kedai makan yang dahulu pemiliknya bernama Pak Shai keturunan Tionghoa. Padahal malam telah larut.
@@@
Perempuan itu hanya tersenyum lantas mengoleskan kembali lipstik merah ke bagian bibirnya yang tak ranum lagi. Sedang tokek tak sengaja bernyanyi di balik atap. Ia bersungut, menganggap tokek itu sedang mengejeknya. Namun sekejap sabit kembali melengkung dalam cermin. Teringat olehnya, bahwa seseorang telah menyuruhnya untuk memberi senyum tulus pada kekasihnya di luar. Sambil membilas rambutnya, perempuan itu menanyakan banyak hal pada si pelayan. Mulai dari merawat diri sampai merawat keluarga. Begitulah cerita singkatnya. Perempuan itu tak lagi berdesakan di tengah pengap rokok dan bau minuman keras. Selepas kepergian ibunya ia diperistri pengusaha muda bernama Pardi. Nyonya baru itu kemudian boyong ikut suaminya ke Surabaya.
Maka selanjutnya, tak ada lagi cucian yang menumpuk sebab ia sibuk manggung. Tak ada lagi keringat yang mengucur deras. Ia tak diperkenankan bekerja. Hanya menjaga rumah dan bersolek. Dari semenjak itu ia semakin rajin bersolek dan pergi ke salon kecantikan. Kadang satu minggu satu kali, atau bahkan setiap tiga hari sekali. Bahkan Pardi, suami yang super sibuk itu harus bisa mengantarnya ke salon kecantikan, ia pernah menunggui istrinya seharian sambil memainkakn gadgetnya. Kalau jenuh, tak jarang ia pun turut nyemplung merasakan bau sabun dan minyak perawatan. Pulangnya, si sulung pasti sudah lelap di kamarnya. Dan garasi mobil selalu penuh dengan barang-barang baru. Ternyata ia termasuk laki-laki yang tak pernah memperdebatkan soal shopping.
Di usia pernikahan yang ke enam ia melahirkan anak kedua, laki-laki berlesung pipit dan hidung mancung. Pardi yang semakin nanjak usianya masih bugar saja bekerja di gedung tinggi itu. Naik eskalator tiap hari dengan tumpukan kertas di atas meja. Bahkan tak jarang ia lembur dan meeting ke luar kota.
@@@
Perempuan dalam cermin itu mengerjap. Panas kelopak matanya ia rasa menandingi debur hatinya yang penuh gejolak. Masa-masa itu, masa-masa halaman basah dengan penuh rintik hujan. Daun-daun gugur dan tumpah berserakan di sudut-sudut halaman. Dan rumah itu gigil untuk hari-hari selanjutnya. Tak ada lagi salon kecantikan yang ia tunggui seharian. Tidak ada lagi shopping lama dengan suami bermesraan. Namun seluruh harta yang ditinggal suaminya tak membuatnya dililit masalah dalam memanjakan perut dan gaya hidup.
Hari-hari berikutnya, tukang koran yang biasa lewat dan melemparkan koran hanya melongo ketika tumpukan koran tetap meringkuk kedinginan di atas lantai. Baginya rumah itu begitu misterius.
Di balik pandangan matanya, cermin yang lurus menghadap ke ambang pintu memberitahu, sebuah bocah dengan baju tidur motif beruang sedang melihatnya lewat celah pintu yang tidak mengatup rapat. Ketika ia menoleh pintu berderak dan terkatup rapat.  Seolah terburu-buru derap kaki melangkah kecil-kecil di luar.
Kemudian ia pandangi  lagi perempuan kurus dalam cermin. Ia sisir kembali rambut yang tidak pernah “dikeramas” di salon lagi. Ia tahu, di malam yang nyaris tunai itu, beberapa menit kemudian pasti seseorang akan melihat nyenyak lelapnya di kamar itu. Namun masa bodoh, perempuan itu terus menyusuri jalan setapak menuju masa lalu sampai akhirnya ia kembali terperangkap di cakrawala dan tak tahu jalan pulang kecuali menangis di pojok ruang masa lalu. Debur rindu masih hangat mengaliri dadanya, dan amarah tumpah bersama air mata. Bagaimana tidak, malam-malam panjang yang ia lewati sendirian dan sepi yang menyergap akhirnya benar berakhir dalam lubang kesunyian. Ia sebenarnya tidak mau terus-terusan terperangkap dalam kegentingannya. Namun sekali ia menghadap cermin, dan segala kosmetik di depannya maka ia serasa melayang dan memeluk kebahagiaannya lagi meski kemudian getir pahit beriringan menjebak.
Pagi itu mentari turun begitu awal dari ranjang lelapnya. Anak perempuan yang masih duduk di bangku SD itu melahap sepotong roti dengan margarin warna hijau berikut segelas susu pucat yang ia tenggak secara sopan. Si mbok di dapur bermain dengan panci. Sedang ia, sambil menimang anak bungsunya yang berumur tiga bulan membuka-buka halaman koran yang penuh dengan masalah politik. Tiba-tiba telepon yang dingin dari tadi berdering, dan diletakkanlah koran itu di atas meja. Padahal ia hendak membaca kasus pembunuhan.
“Halo, dengan siapa?” Ia bertanya.
“Ibu Talita di Yogyakarta?” Seseorang bertanya.
“Iya. Ini siapa?”
“Polisi Dinas”
Keadaan lalu hening. Ia mengingat mimpi apa yang telah menemaninya semalaman. Dan lewat sambungan telepon itu ia tahu bahwa keadaan di ujung telepon sana sedang riuh.
“Suami Ibu kami temukan tewas dalam mobilnya”.
Telepon kemudian terputus. Mendung tiba-tiba turun di pekarangan rumah. Limau yang berdiri di atas meja terlihat gigil dan begitu pucat warnanya. Perempuan itu meraung disusul anak bungsu dalam gendongannya yang menjerit. Sedang anak sulungnya bertanya dengan mulut masih penuh sobekan roti.
“Bunda kenapa?”
“Ibu Kenapa?” Si Mbok muncul dari dapur, tergesa. Perempuan itu terkulai lemas di lantai.
Ia terkekeh. Serasa di atas kebahagiaan yang tanpa seorang pun memintanya berbagi. Tiba-tiba kelopak matanya yang sudah senja itu melirik. Lewat cermin yang lurus dengan pintu kamar ia kembali tahu, bocah ingusan itu kembali mengintipnya di ambang pintu. Namun ia tahu, sekali ia beranjak maka ia berarti menuruni ambang kebahagiaan yang dari tadi membuatnya melayang. Semakin gila ia mengobrak abrik wajahnya, semakin bebas ia melayang melintasi cakrawala.
@@@
Tak lama kemudian ia tahu, berkat bantuan polisi dan kawan-kawan kantor suaminya. Bahwa kolega kantornya telah membunuh suaminya yang sedang jalan dengan sang istri di dalam mobil. Dan lewat seonggok Handphone yang ditinggalkan suaminya di saku celananya ia tahu, betapa separuh dari usia pernikahannya ia hidup dengan seorang pembohong. Hanya ada derai air mata yang terus menunggui lapuk usianya hingga kini.  Kehidupan rumah telah ia serahkan pada si Mbok. Begitupun dengan kedua anaknya. Ia menjalani hari dengan cekung mata yang penuh kelelahan. Hanya menunggui kamar dan bayangannya di balik cermin. Perlahan sejak itulah ia punya titik kebahagiaan yang berbeda. Semakin gila ia mengobrak-abrik wajahnya maka semakin melayang kebahagiaan yang ditempuh hatinya. Ia bahkan sering teringat, saat bolak-balik ke rumah kecantikan , seharian menunggui antrean, hanya demi merawat tubuh dan agar suami tak mampir di warung-warung malam yang berjejer sepanjang jalanan kota. Sejak itu dokter memvonisnya depresi berat. Hidupnya semakin limbung, semakin menyalahkan dirinya yang terlalu percaya. Padahal ia pikir, kebutuhan lahir batin suaminya telah ia tunaikan sebagai seorang istri.
Di bawah petromaks yang kemilau perempuan dalam cermin menunduk. Rambut yang tak hitam lagi ditiup angin. Ia kadang was-was. Bagaimana kalau perempuan dalam cermin bosan menjadi bayangannya. Bagaiamana kalau perempuan dalam cermin tak kunjung menutup mata. Bagaimana kalau ingatan yang berada di balik batok kepalanya semakin merayap dan membunuhnya perlahan. Lewat pantulan cermin yang lurus dengan pintu kamar ia tahu, bocah ingusan itu dibujuk Ibunya sebab tak mau beranjak dari ambang pintu.
“Nenek itu pakek liptik walna melah kayak punya mama” Cicak di balik petromaks yang menggantung itu semakin cekikikan rasanya. Lalu  masuk si Mbok yang telah puluhan tahun mengabdi pada keluarganya. Ia menutup jendela dan menarik tirainya. Tibalah waktunya tidur. []


*Nama pena dari Roydatun Nisa’. Santri PP. Annuqayah Lubangsa Putri, sedang bergiat di Lembaga Kepenulisan dan tercatat sebagai mahasiswi Instika Guluk-guuk Sumenep Jawa Timur.

Cerpen : Akibat Dari Salon Kecantikan Karya Nisa Ayumida Cerpen : Akibat Dari Salon Kecantikan Karya Nisa Ayumida Reviewed by Redaksi on April 28, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar