HUT RI dan Kesadaran Anak Kelas 5 SD

annur.net
“Dik, kenapa kamu ikut gerak jalan?” tanya saya penasaran.
“Biar pahlawan senang,” jawabnya. Singkat.
Fajar, adik saya satu-satunya tampaknya tidak mau ambil pusing dengan pertanyaan saya. Dia menjawab sekenanya. Lalu melanjutkan main gawai. Saya lihat, dia ngotak-ngatik  aplikasi kine master. Dia mengedit foto keikutsertaannya pada acara lomba gerak jalan, kemarin. Kumpulan foto bersama teman dan gurunya itu dia urut bersambung lalu diberi latar backsound  lagu nasional, tanah air.
Saya senyum-senyum sendiri di belakang dia yang khusuk mengedit. Saya tahu dia sedang merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Republik Indonesia dengan caranya sendiri. Tapi, saya ragu apakah dia benar-benar paham kaitan lagu dengan foto acara gerak jalan itu. Yang jelas, yang saya paham dia sangat senang dengan pengalaman pertamanya ikut gerak jalan. Maklum, tahun lalu saya larang dia ikut dengan alasan yang klise: kamu terlalu kurus, Dik. Hehe..
Orang-orang, termasuk saya sering kali memang suka melakukan hal-hal yang klise, yang sudah-sudah. Misalnya, saat Agustus. Kita terbiasa merayakan HUT RI dengan kegiatan-kegiatan yang sudah berlangsung bertahun-tahun . Coba apa yang bisa kita lakukan selain lomba: gerak jalan, panjat pinang, makan kerupuk? Ayo sebutkan lagi. Balap karung, balap kelereng, tarik tambang, memasukkan paku ke dalam botol, dan... Sudah cukup. Cukup. Anda tidak sedang wiridan.
Praktis tidak banyak berubah. Acara-acara itu diulang dan diulang lagi hingga menjadi tradisi agustusan yang wajib ada setiap tahunnya. Itu sebuah konsistensi yang baik. Sekaligus sebuah edukasi yang disampaikan dengan cara yang menarik: latihan kekompakan melalui gerak jalan dan panjat pinang, latihan kekuatan melalui balap karung dan tarik tambang, dan latiahan sabar melalui lomba makan kerupuk dan memasukkan paku dalam botol, serta, mencoba berbahagia dengan menyaksikan itu semua.
Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya Agustus tanpa lomba-lomba. Hari-hari sepanjang bulan ke-8 itu tentu akan sangat membosankan: kerja, kerja, kerja. Sampai lupa bercinta. Loh, bercinta itu butuh uang dan uang didapat dari kerja. Betul. Maksud saya, bukankah perlombaan itu representasi bahwa manusia masih punya cinta? Bukankah itu bagian dari usaha manusia mencintai kodratnya? yakni mencintai sesama, mencintai keberagaman, dan mencintai kemanusiaan.
Kesadaran akan pentingnya cinta seringkali hilang dalam beberapa momen perayaan HUT RI. Misalnya dalam pidato kenegaraan. Pidato yang biasanya disampaikan oleh presiden sehari sebelum pelaksanaan upacara bendera itu seringkali memuat sedikit cinta. Loh, iya ta?
Pada pidato kenegaraan tanggal 16 Agustus 2018, Presiden Jokowi berjanji akan terus mendukung upaya KPK untuk memberantas korupsi. Sebagai langkah penguatan, Jokowi mengeluarkan peraturan presiden (perpres) Nomor 54 tahun 2018 untuk mencegah tindak korupsi. Bagus, kan?  
Iya, tapi apa kabar Novel Baswedan? Mana cintanya presiden untuk Novel? Bagaimana masyarakat bisa yakin bahwa pemerintah serius ingin memberantas korupsi sedangkan kasus yang menimpa penegaknya tidak tuntas, bahkan terbengkalai. Kan sama halnya kamu bilang cinta-cinta pada seseorang tapi tak kunjung kamu lamar dan disahkan. Cintamu palsu.
Yang terbaru, pidato kenegaraan presiden tanggal 16 Agustus 2019 kemarin. Jokowi kembali menyampaikan janjinya yang manis. Mengutip berita di detik.com, pidato Jokowi memuat beberapa kejutan. Salah satu yang paling membuat terkejut adalah rencana pemindahan ibu kota. Di depan anggota MPR, DPR, dan DPD, Jokowi mohon ijin untuk memindahkan ibu kota negara ke Pulau Kalimantan.
Rencana itu oleh beberapa pengamat dibilang langkah tepat. Langkah itu dinilai dapat menjadi solusi atas beberapa permasalahan ibu kota saat ini. Misalnya kemacetan. Namun, saya meragukan cintanya Jokowi sekali lagi. Lebih-lebih saya merasa takut. Khawatir. Terutama soal pembebasan lahannya.
Saya teringat proses pembebasan lahan di Kulon Progo. Rencana pembangunan bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) menimbulkan gesekan yang panas antara pemerintah dan warga setempat. Warga menolak rumahnya digusur. Tetapi, pemerintah melalui aparatnya: Satpol PP, polisi dan militer tetap memaksa warga mengosongkan rumahnya. Bahkan, aparat sampai memakai senjata laras panjang, gas air mata dan stik pemukul untuk melawan warga.
Bagaimana kalau itu terulang di Kalimantan? Saya bukan suudzon. Tapi, bukankah karakteristik sebuah rezim mirip-mirip? Dan sudah kelihatan? Lantas, bagaiamana mungkin cinta itu muncul kalau kamu hanya bisa marah-marah dan kasar. Bukannya mencintai itu nyenengin pacar, malah disakitin. Syedih deh.  
Kalau sudah begitu, saya jadi teringat jawaban adik saya. Barangkali dia mengerti bahwa segenap perayaan HUT RI yang kita lakukan hanyalah sebuah usaha membahagiakan pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Eh, kayak gak asing dengan kalimat itu hehe.. Maka, janganlah suka membohongi, berjanji manis tapi palsu. Berusahalah untuk tidak menyakiti orang lemah: rakyat.
Bahwa lomba-lomba, pengibaran bendera merah putih di depan rumah dan di jalan-jalan, upacara, serta segala pidato yang disampaikan itu adalah wujud syukur sekaligus kontemplasi atas segala keringat, air mata dan darah pahlawan-pahlawan yang gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.   
Saya berdoa, semoga perayaan HUT RI tahun ini membuat Bung Tomo yang dulu diceritakan jarang tersenyum, bahkan di fotonya yang paling terkenal beliau menunjuk sambil mendelik, kini tersenyum bahagia di dalam kuburnya.
Merdeka.
------------------------------------------
*) Penulis merupakan seorang guru di SMA Darul Ulum Banyuputih dan pendiri Komunitas Literasi Sumberanyar.
HUT RI dan Kesadaran Anak Kelas 5 SD HUT RI dan Kesadaran Anak Kelas 5 SD Reviewed by takanta on Agustus 17, 2019 Rating: 5

3 komentar

  1. esai ini standar kompetensi anak klas 5 SD... seperti pelajaran mengarang ... asal nulis pokoknya penuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, mas. Tapi, dimana letak asal nulis yg sampean maksud ya?

      Hapus
  2. Terima kasih, mas. Tapi, di mana letak asal nulisnya ya?

    BalasHapus