Puthut Ea, Komunitas dan Hutang yang Dilunasi


Sebuah mobil merah berhenti di depan rumah tak jauh dari kelokan jalan yang di halamannya ditanami beragam jenis tumbuhan. Di beranda rumah itu, Lima orang laki-laki duduk sambil meminum kopi yang mulai mendingin. Mereka menunggu. Sejak matahari rubuh sampai pintu mobil terbuka dan seorang laki-laki berkacamata keluar mengenakan kaos putih dan celana pendek. Laki-laki dari dalam mobil itu adalah Puthut Ea.
Di dalam mobil, ada dua laki-laki lain, yang satu bertubuh gempal duduk di kursi kemudi sedang laki-laki satunya lagi berambut hampir sebahu dengan mata mengantuk. Nanti, kita tahu nama mereka adalah Rusli dan Sadam. Nanti, kita tahu bahwa mereka bertiga baru saja melalui perjalanan panjang dan jauh. Nanti, kita tahu bahwa sebelumnya mereka terlebih dahulu pergi memancing di sekitar Pasir Putih dengan hasil tangkapan seekor ikan kecil dan bukannya seekor marlin raksasa seperti yang Hemingway ceritakan dalam The Oldman and The Sea. Nanti, setelah obrolan ringkas di beranda yang sama, orang-orang itu akan berangkat mengisi acara komunitas kecil di kota yang juga kecil. Nanti, seorang laki-laki yang duduk di boncengan sepeda motor akan menuliskannya. Nanti, laki-laki yang disebut terakhir adalah saya.
Mengenakan kaos polo putih dan celana krem panjang, Puthut Ea duduk diapit dua orang, Marlutfi dan Farhan. Farhan sebagai moderator dan Marlutfi sebagai pemantik diskusi. Peserta yang hadir cukup ramai. Ini menjadi kali ketiga Puthut Ea datang ke Situbondo. Pertama, ia menemani Cak Rusdi pulang ke kota kelahirannya ini. Kedua, pada pertemuan dengan saya dan kawan-kawan sebelumnya, Puthut berjanji untuk kembali datang dan berbagi pengalamannya selama ini sebagai penulis dan pengalamannya sebagai Kepala Suku Mojok. Rencana ketiga itu beberapa kali batal. Hingga tanggal 5 Agustus 2019 malam itu, Puthut membayar utangnya dalam hitungan sekali menyalakan rokok.
Puthut mengantar penjelasannya dengan mengakui akan ketertarikannya kepada kota Situbondo sebagai kota pesisir yang dekat dengan laut, bersuhu panas, dan memiliki kemiripan dengan kota tempat ia lahir dan dibesarkan: Rembang. Selanjutnya ia memaparkan bahwa sebenarnya menulis itu rumit. Bahwa sebenarnya ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam menulis.
Pertama, adalah teknik menulis. Waktu SD bahasa indonesia mengajari mengarang. SMP kita diajari jenis-jenis tulisan, tata bahasa, bagaimana membuat deskripsi, narasi dan argumentasi. Dan kesemua itu menunjukkan betapa jika menulis tidak rumit, hal itu tidak akan pernah diajarkan. Belum lagi kerumitan-kerumitan itu juga memiliki tingkatan tertentu. Ketika menulis cerita, kita harus bisa membuat opening atau paragraf pembuka, kita harus tahu makna closing atau menutup cerita, bagaimana kita menjahit cerita, bagaimana kita membuat alur cerita, apakah alur maju atau mundur atau campuran, bagaimana kita memperkenalkan tokoh, mengembangkan tokoh, bagaimana kita memilih tema, konflik dan apa-apa yang sebenarnya sudah pernah diajarkan di sekolah namun tak banyak dari kita yang mengingatnya dengan baik.
Kedua, adalah konten. Adalah soal apa yang akan kita tuliskan. Ketika kita menguasai teknik penulisan, ibarat seorang tukang kayu yang telah memiliki peralatan dengan lengkap. Maka konten adalah persoalan tersendiri. Pertanyaan-pertanyaan semacam apa yang ingin kita tulis? Kenapa kita menuliskan itu? Apakah bahannya cukup? Sampai pada batas mana akan menuliskan itu? Dan pertanyan-pertanyaan lain.
Sampai di poin kedua, kita dihadapkan pada keadaan bahwa sebetulnya kampanye ‘menulis itu mudah’, tidak ada salahnya jika hanya sebatas usaha agar selalu memiliki motivasi dan optimis untuk menulis. Tetapi ketika sudah benar-benar belajar menulis, kita harus menyadari bahwa menulis bukanlah perkara mudah. Agar kita menjadi lebih giat belajar, lebih awas terhadap konsekuensi penulisan, dan agar lebih kritis.
Sedangkan poin ketiga, adalah soal estetika. Apakah tulisan kita menarik? Apakah tulisan kita cukup mengalirkan perasaan pembaca dan mengajak pembaca masuk ke dalam tulisan kita? Membuat pembaca tidak hanya mengerti akan tulisan kita, tetapi merasakan sampai merasuk ke dalam jiwanya? Bukan hanya tentang logika, kebenaran, nalar tetapi bagaimana tulisan kita bisa menyentuh sanubari pembaca. Ini menjadi satu pelajaran tersendiri juga karena yang kita kembangkan bukan lagi soal kebenaran tetapi bagaimana cara menyentuh perasaan orang. Sehingga mudah memaparkan sesuatu yang membuat orang mengeluarkan dari simpati sampai empati, membuat orang mengerti bukan hanya dari sisi luarnya saja melainkan jagad batinnya. Perkara-perkara di sini lebih tajam dan dalam dan itu membutuhkan latihan-latihan atau pengetahuan yang berbeda. Latihan-latihan kepekaan psikis berbeda dengan latiah menulis secara teknis, berbeda dengan latihan cara mendapatkan bahan tulisan. Ada sense estetika yang harus dilatih.
Yang keempat adalah sesuatu yang jarang namun penting karena berkaitan dengan literasi komunitas. Adalah political correct. Apakah secara politis tulisan kita bisa dibenarkan atau tidak? Atau apa impact tulisan kita? Karena tulisan merupakan representasi dari pikiran kita dan menunjukkan apa yang ada di dalam batok kepala kita? Cara pandang kita terhadap dunia, bisa terlihat dari tulisan kita.
Jadi, ketika kita membaca tulisan orang, sebenarnya itu berlapis-lapis. Mulai dari tulisan yang mudah dibaca, enak dibaca, indah dibaca dan mengena sampai tulisan yang secara politis bisa dibenarkan. Sampai di sini, ada persoalan lain yang kita pelajari terkait dengan sikap kritis kita, tentang pelajaran dasar berupa ideologi-ideologi, sudut pandang dan lain-lain.
Dari keempat poin itu Puthut ingin menunjukkan bahwa menulis itu tidak gampang. Tidak seperti yang oleh kebanyakan orang yakini. Tidak seperti apa yang selama ini saya amini. Menulis tidak mudah. Tidak sulit. Hanya rumit.
Puthut Ea melihat jam tangan pada pergelangan tangan kirinya. Sepuluh menit berlalu. Hutangnya terbayar sudah.

Puthut Ea, Komunitas dan Hutang yang Dilunasi Puthut Ea, Komunitas dan Hutang yang Dilunasi Reviewed by takanta on Agustus 10, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar