Cerpen : Giok





“Aku tidak ingin menikah, jika giok itu belum ditemukan!”

Pada suatu hari aku berkata kepada sosok pemuda yang berdiri di hadapanku. Wajahnya mirip pemeran artis papan atas tapi hanya pemeran figuran, jadi ya dibilang ganteng tapi biasa saja, dibilang jelek bukan Si buruk rupa. Aku melihat dengan tatapan setengah marah. Pasalnya sebuah gelang indah satu-satunya pemberian Nenek harus hilang setelah dipinjam olehnya.

“Pokoknya, harus sampai dapat. Kalau tidak ada gelang gioknya sampai tiga hari ke depan, kita putus!” nadaku mulai meninggi dan dia hanya menunduk. Menekur di sebuah lincak di tepi jalan yang sunyi. Di belakang kami, gulungan ombak terus mengejar. Menabrak karang hingga terdengar seperti getaran detak jantung.
Sutomo masih duduk di lincak bersamaku, ia berusaha menggandeng pergelangan tangan. Dalam hitungan detik kuempaskan tangan kekar hitam itu. “Satiya[1], pokok harus ditemukan gelang itu. Gelang turun-menurun dari Mbah Buyut, padahal kemarin kamu berjanji bisa mengatasi. Mengapa tidak kembali?” Satu tamparan kecil hinggap pada pipinya. Ia bergeming, tapi kulihat raut wajahnya menyesal.


Aku meninggalkannya yang tetap duduk membelakangi pantai. Kupanggil penjaga perahu apung yang sudah lama bersandar  di bibir pantai. Ia duduk tepat di kemudi perahu sesekali menyesap rokok yang tersisa sedikit. Sesaat aku memanggil dengan gerakan tangan ke atas, lelaki berambut sedikit ikal melepaskan rokoknya kemudian menginjak puntung rokok hingga tandas.

De’emmaa, lek?”[2] samar-samar kudengar suara Sutomo, aku tak menggubris lagi seraya mempercepat langkah kaki menuju kapal apung. Lelaki pemilik kapal sudah melepaskan jangkar langsung mendorong kapal apung. Suara mesin kapal sudah berdengung, gelembung-gelembung air berloncatan. Aku menatap lelaki kurus yang berambut klimis mengejar kapalku, ia terus berteriak memanggil, “Mia... Mia... jangan pergi!”

Aku tidak menangis kali ini, hanya saja dentuman detak jantung bergantian dengan suara mesin perahu. Kupandangi langit yang cerah dengan pemandangan gunung berbentuk sketsa perempuan cantik yang tertidur. Gunung Putri Tidur, orang Situbondo memanggilnya begitu. Karena dari jarak yang jauh terlihat seperti seorang putri yang tertidur, dengan lekuk hidung mata, bibir sampai dagu, dan juga rambut yang menjuntai.

Pantai ini sangat indah, saat dilihat dari tengah laut. Ada muara di sekitar jembatan, bergeser lagi ada bebatuan yang menumpuk ke arah laut, bebatuan itu mengingatkan pada gardu di pantai Sanur. Bergeser lagi terlihat daerah daratan dengan pasir hitam juga pohon-pohon rimbun hingga terlihat seperti hutan. Di sana juga ada sepasang cucu Adam dan Hawa yang sedang dimabuk cinta, bermain kejar-kejaran seperti di film India. Pekik tawanya terdengar bertabrakan dengan dengung mesin. Terkadang aku ingin seperti mereka, tetapi aku tidak suka dengan sifat lelakiku yang pelupa. Lupa tanggal lahirku, lupa menjemputku, lupa membawakan bunga, hingga lupa soal gelang giokku.

“Ahhh!” Tanganku menghantam angin, hanya suara mesin yang lagi-lagi membalas kekesalanku. Kulirik pemuda yang sedang mengemudikan kapal apung tidak menatapku sedikit pun. Pikiran maupun pandangannya fokus pada arah lain. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Mataku mengekor pada tatapan elang pemuda yang masih duduk dengan tenang, menggerakkan kemudi kapal. Suaranya bising melebihi suara knalpot Astrea tahun 70-an. Aku mulai mengambil ponsel, ingin bermain medsos tetapi jaringan tidak mendukung.

“Ahhh!” Kembali lagi aku mengeluh.

“Kenapa, Mbak?” pemuda itu bersuara. Tapi, aku pura-pura tidak mendengarkannya. Kualihkan pada deretan keramba yang mengapung di tengah laut. Terpaan sinar matahari siang memantul, terasa silau. Pandangan kini kembali pada arah kemudi, menantap pemuda yang berambut pirang. Ia mengulangi pertanyaan yang sama.

“Enggak papa,” sahutku. Tetapi ada perasaan yang sedikit menganggu fokusku. Mengapa pemuda ini tampak begitu tenang? Tidak seperti Sutomo. Ia terlihat tidak memiliki beban berat. Tapi, pertanyaan demi pertanyaan hanya tersimpan dalam pikiran. Aku tak sanggup melontarkan satu kata pun.

“Punya beban pikiran? Berbagilah dengan saya,” katanya dengan senyum sedikit mengembang. Darimana ia mengetahui perasaanku? Lagi-lagi aku hanya bisa tertunduk, menggigit bibir.

“Saya memang tidak tahu masalah sampeyan dengan lelaki tadi yang teriak-teriak, tapi apakah itu masalah serius? Sampai sampeyan tidak ingin menatap matanya.”
Aku kembali diam, hanya deru mesin yang terus bergerak maju. Ini sungguh membuatku bingung, aku bahkan tidak mengenalnya. Apakah aku harus bercerita?

“Ceritakan saja, Mbak! Saya tidak akan membocorkan cerita itu kepada siapa pun.”
Aku tidak menoleh, kali ini aku hanya duduk berusaha meluruskan kaki dan mulai menarik napas panjang. Tidak diduga aku sudah mulai bercerita, tentang pertemuan pertama dengan Sutomo di Utama Raya. Saat itu ia menggunakan cicin bermata giok. Kata Mbah buyutku kalau bertemu dengan lelaki yang menggunakan cincin bermata giok bisa dipastikan adalah jodohku. Aku hanya duduk di area istirahat yang bangku-bangkunya terbuat dari besi dilapisi cat kecoklatan yang mengilap. Utama Raya salah satu tempat yang nyaman untuk istirahat saat perjalanan jauh ke luar kota dan melintasi Situbondo, saat itu aku mengendarai motor sendiri. Butuh istirahat, ke arah timur masih berupa hutan bakau dan daerah pantai Pasir Putih.

Saat itu aku duduk dengan satu cup kopi hangat. Di sana aku mulai pindah ke tempat lelaki bercincin giok. Tanpa basa-basi aku langsung bertanya apakah benar itu cincin bermata giok atau bukan. Lelaki itu terlihat ramah dan menjawab: benar. Suaranya berat dan sangat tegas. Jantungku terus berdetak kencang. Melebihi kecepatan cheeta yang mengejar kijang. Kami berbicara tentang giok, dan aku pun menceritakan bagaimana Mbah Laki yang harus mendayung perahu di zaman sebelum merdeka menuju Batam, kurang lebih seminggu terombang-ambing di atas perahu demi menjual hasil pribumi. Daerah Batam merupakan arus pelayaran Internasional, hingga tidak perlu pakai paspor untuk berjalan-jalan menuju Singapura.

Mbah Laki pergi di sebuah pusat perbelanjaan, membeli sebuah gelang bermata hijau yang bernama giok. Lelaki itu langsung mengantongi dan membawa pulang ke tanah Madura. Konon orang-orang Situbondo asalnya dari daerah Madura, jadi meskipun kota tetangga menggunakan bahasa Jawa, Tengger maupun Osing, hanya Situbondo yang menggunakan bahasa Madura. Menjadi alasan Situbondo sering disebut sebagai Madura ‘swasta’, sampai sekarang pun rata-rata orang Situbondo tidak bisa menggunakan bahasa Jawa, selain para pendatang dari luar kota.

Aku kembali bercerita soal gelang giok itu yang diberikan secara turun-temurun, kurang lebih usianya melebihi satu abad. Lalu suatu ketika rantai gelang itu patah. Sutomo menawarkan kepadaku untuk membantu mereparasi kepada tukang emas yang ia kenal. Aku sudah sangat percaya, ia adalah tunanganku. Tunangan lebih baik menurut tradisi kami, daripada pacaran. Karena kalau tunangan setiap lebaran akan mendapatkan ampao.

Pemuda itu sangat antusias mendengarkan kisahku, hingga kami mengitari lautan jauh dari tempat berlabuh tadi. Ia bahkan menghidupkan kembali rokoknya, aku tidak menyukai rokok maka kugunakan masker, dan harus berbicara layaknya orang pedalaman—teriak-teriak menyaingi suara mesin kapal.

Aku katakan padanya, bahwa aku kesal dan tidak akan menikah dengan tunanganku kalau tidak menemukan batu giok itu. Pemuda itu nampak terbatuk-batuk karena menahan tawa. Aku semakin jengkel dengan sikapnya, kini aku hanya menatap keramba dari dekat. Melihat ikan-ikan yang berloncatan dan nelayan yang memberi pakan ikan. Pemuda itu membawa kapal apung menepi pada sebuah keramba, aku bengong dibuatnya. Ternyata ia pemuda pekerja keras, di usia semuda itu ia sudah terampil dengan mengikatkan tampar pada pasak keramba. Sedetik berikutnya, ia mengajakku untuk berkeliling melihat keramba, sedikit bergidik. Karena selama ini tidak pernah diajak tunangan ke tempat-tempat menyeramkan. Kami ke pantai Pathe’ cuma untuk berpacaran dan sembunyi-sembunyi, nama pantai Pathe’ pun diambil dari Pacaran Te’-ngite’ (Pacaran sembunyi-sembunyi).

Pemuda itu pergi ke sebuah gubuk tempat menyimpan kail dan pakan ikan, ia juga mengajakku melemparkan ikan teri yang masih hidup sebagai pakan ikan-ikan besar yang ada dalam penangkaran keramba. Aku terheran-heran dengan banyaknya ikan di laut ini, padahal di tepi pantai airnya sedikit keruh, karena banyak orang membuang sampah di sungai dan mendarat di laut.

“Kasihan deh, ikan-ikan kelaparan!”

“Iya, kasihan juga yang kasih makan juga lagi ngambekkan hingga tunangannya dibiarakan di tepi pantai.”

Sebuah jawaban yang membuatku cemberut, kalau aku sudah berkomitmen tidak akan menikah sampai bertemu dengan gelang giok itu. Baru satu langkah akan menuju sudut keramba, kakiku kehilangan keseimbangan. “Ahh....”

Dan Byuurr!!

***

Aku bertemu dengan Mbah Laki, ia tidak berbicara lagi denganku. Di sebuah ruangan gelap dengan satu sumber cahaya yang sangat silau. Aku mendengar suara itu lagi, “Mia... Mia...” Mbah Laki seakan membawa sekantong plastik berisi giok yang kini menjelma menjadi ular-ular. Aku mengejar, sedikit tertatih. Tetapi terlambat gerbang menuju arah Mbah Laki sangat cepat tertutup. Ruangan itu menjadi gelap dan sangat gelap.

“Mia... Mia...” Suaranya terus membuatku bingung, terasa sebuah magnet menarik tubuhku hingga aku merasakan percikan air membasahi wajah.

Napas tersengal, tidak tahan untuk batuk. Kulihat banyak orang yang mengelilingiku, orang-orang asing berpakaian hitam. Apakah ini? “Tidak!”
Orang-orang yang tadinya melihat dengan wajah-wajah sedih, kini berlarian meninggalkan aku sendiri.

“Hei! Ini Mia, bukan hantu!”

Sutomo muncul di balik kerumunan orang, matanya merah sepertinya ia habis menangis. “Mia... Mia... Jangan pergi, besok kita cari giok itu bersama di Singapura. Tapi kamu mau kan, menikah denganku?”

“Pokoknya aku tidak mau menikah, kalau gelang giok itu tidak kembali!” (*)

Baiq Cynthia, perempuan pecinta senja dan hujan, pegiat literasi di Situbondo. Sudah sold out.


[1] Sekarang
[2] “Mau ke mana, Dik?”
Cerpen : Giok Cerpen : Giok Reviewed by takanta on November 10, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar