Kontraktor, ASN dari Luar dan GOR Bung Karna, Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kau dustakan?



Genderang Pilkada serentak 2024 sudah ditabuh. Sampai 27 November nanti, masyarakat Situbondo akan disibukkan dengan hiruk-pikuk calon Bupati Situbondo. Tim sukses akan berusaha semaksimal mungkin memoles masing-masing calonnya. Tidak hanya memoles saya rasa, lini masa media sosial akan dibanjiri dengan serang-serangan macam game FF atau Free Fire. Tulisan ini tidak dalam memoles salah satu calon pilkada Situbondo 2024. Selain karena belum ada keputusan resmi dari pihak KPU Situbondo Situbondo terkait para calon, penulis juga belum memutuskan akan berpihak kepada siapa pada pilkada serentak.

Mahbub Djunaidi, esais kondang yang pernah dimiliki bangsa Indonesia ini pernah mengatakan begini, tolong diingat baik-baik, “ibarat silat ada kembang ada jurus, begitu juga pemilu. Jika hari nyoblos itu jurusnya. Hari penyusunan daftar calon sementara adalah kembangnya pesta demokrasi.” Nah, hiruk pikuk dewasa yang selama ini sering diributkan oleh masyarakat Situbondo ini hanya kembangnya demokrasi. Banjirnya banner calon bupati muda, sembako ke desa-desa, serta rencana berdirinya Stadion Gelora Bung Karna ini masih dalam ruang lingkup kembangnya demokrasi. Karena kembang, ada baiknya masyarakat tidak perlu baper terhadap situasi dan kondisi terkini. Masyarakat cukup mengambil hikmahnya. Ya, ambil hikmanya saja.

Masifnya pembagian sembako ke desa-desa misalnya. Masyarakat harus mengambil hikmah, bahwa menjadi pimpinan nomor 1 di kabupaten itu tidaklah susah untuk menjalankan kepemerintahannya selama 5 tahun ke depan. Maaf, 3 tahun saja. Bagi-bagi sembako itu sudah lebih dari cukup. Tidak perlu lah seorang pemimpin berpikir kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Yang paling penting masyarakat miskin yang terdata di DTKS atau Dinas Sosial akan merata dapat sembako. Selesai. Masyarakat tidak perlu repot-repot melihat angka naiknya kemiskinan Situbondo dari 81,460 pada tahun 2022 menjadi 82,620. Sembako sama, sembako merata, masyarakat baik-baik saja. Kemisikinan masyarakat harus terus dipertahanakan bila perlu terus bertambah agar sembako terus mengalir sampai jauh. Itulah hikmah yang bisa diambil dari masifnya sembako. Bupati Situbondo benar-benar layak menjadi teladan kedermawanan kekinian. Lah, itu kan sembako hasil dari uang pajak kami? Loh, emang kenapa? Salah? Tidak dong!! Saya tegaskan kembali, Bupati Situbondo itu layak menjadi tokoh keteladanan dalam kedermewanan. Layak juga dibuatkan banner dan dipampang di masing-masing dinas-dinas se-Situbondo. Kurang dermawan bagaimana coba bupati Situbondo. Beliau tidak hanya memikirkan rakyat Situbondo, kabupaten tetangga pun beliau pikirkan kesejahteraannya. Proyek-proyek dialirkan ke kontraktor luar tenaga ASN pun banyak dari luar daerah yang beliau pekerjakan. Masih belum percaya kalau beliau dermawan? Kalau belum percaya saya tambah ini sembako. 

Ada banyak sekali hal-hal yang perlu dipetik dalam setiap momen pilkada. Tergantung dari sisi mana masyarakat menilainya. Cuma jangan pernah menggunakan kacamata kuda dalam menilai situasi dan kondisi. Carilah pesan yang tersirat dalam situasi keriuhan. Di saat semua orang menolak ide dan gagasan pendirian GOR Bung Karna, penulis tidak secara membabi buta menolaknya. Dalam alam bawah sadar penulis meyakini ide dan gagasan pembangunan kepemimpinan Bupati Situbondo selalu dimulai dari perenungan yang sangat dalam dan khusyuk. Rencana pendirian GOR Bung Karna itu bukanlah lahir dari ujug-ujug. Penamaan GOR Bung Karna itu memiliki nilai akar kota Situbondo sebagai Kota Santri Pancasila. Kalau pembaca menginginkan bukti mana nilai santri dan mana nilai pancasila baiklah. Penulis akan menjlentrehkan agar publik percaya bahwa itu benar-benar mengakar dari nilai-nilai kota santri pancasila. Tolong dibaca baik-baik.

Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW, pernah berkata, “bahwa saya adalah pintunya ilmu, dan Ali Bin Abi Thalib adalah kuncinya.” Dan mari kita simak ungkapan sahabat sekaligus menantu Rosulullah itu, “Sesungguhnya pemuda itu ialah yang berani berkata inilah diriku, dan bukanlah pemuda itu yang berkata inilah ayahku, ungkap Ali bin Abi Thalib. Dalam konteks Situbondo, Bupati Situbondo hendak memberikan pesan kepada para calon Bupati Situbondo nantinya, atau lebih tepatnya yang mulai menggaungkan tagline “Bupati Muda” bahwa yang dimaksud pemuda itu “Inilah Diriku.” Telak banget bukan? Penamaan Stadion Gelora Bung Karna yang diambil dari uang APBD itu haruslah bernama Bupati Situbondo. Karena itu bukan main-main. Itu serius. Jadi, praktisi hukum, masyarakat Situbondo, tokoh-tokoh Situbondo yang sudah berkontribusi secara tulus dalam pembangunan Situbondo bertahun-tahun tidak usah protes. Bupati Situbondo sedang menjalankan tugasnya  sebagai khalifah fil ardhi.  Jika masih protes berarti kalian, iri dengki dan hasut. Begitu.

Terakhir, cobalah diingat-ingat kembali ucapan proklamator bangsa Indonesia dan pencetus ideologi Pancasila, Ir. Soekarno. Gantungkan cita-citamu setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Kalian tentu ingat beberapa media sempat menulis bahwa Bupati Situbondo miskin literasi. Saya rasa tidak. Nilai falsafah pembangunan GOR Bung Karna ini buktinya. Memiliki akar yang sangat khas santri dan Pancasilais. Kegigihan Bupati Situbondo dalam mempertahankan gelombang protes masyarakat tidak membuatnya surut. Tidak ada dinding tebal untuk menghadangnya. Semua dihantam. Masa bodoh dengan yang menolak kebijakan pemerintah di bawahnya. Kalaupun gelombang protes semakin meluas karena penyematan nama yang tidak apple to apple dengan Bung Karno ya seperti ungkapan Bung Karno, “engkau akan jatuh diantara bintang-bintang” maka GOR Bung Karna akan berubah menjadi Gor Drs. H. Karna Suswandi, MM. begitu. 

 

Tentang Penulis

Muhammad Bayan, pegiat lterasi.


Kontraktor, ASN dari Luar dan GOR Bung Karna, Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kau dustakan? Kontraktor, ASN dari Luar dan GOR  Bung Karna, Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kau dustakan? Reviewed by Redaksi on Juni 28, 2024 Rating: 5

Tidak ada komentar