KH. A. Wahid Hasyim; Perjuangan dan Pemikiran tentang Pendidikan, Politik dan Agama

Wahid Hasyim adalah salah satu tokoh yang berperan penting mengawal berdirinya Republik Indonesia. Ia telah ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia hingga masa revolusi, bahkan sampai pada setelahnya. Sosok Wahid yang sejatinya tumbuh dan dibesarkan di pesantren, telah mampu menunjukkan eksistensinya dalam panggug politik Nasional. Ini menunjukkan bahwa, secara keilmuan beliau yang lahir dari rahim pesantren tak kalah dengan tokoh lain yang belajar dari pendidikan barat seperti Soekarno, Muhammad Yamin, Muhammad Hatta, H. Agus Salim dan tokoh lainnya.
Oleh : Sutrisno
Memahami perjuangan dan pemikiran kyai Wahid, terasa tidak lengkap jika kita tidak tau seperti apa, bagaimana dan di mana ia dibesarkan? Wahid Hasyim termasauk salah satu tokoh besar di Indonesia yang lahir dan dididik dalam pesantren.
Dilihat dari akar kesejarahannya, keberadaan pesantren tidak dapat dipisahkan dengan masuknya Islam pertama kali di Indonesia yang dibawa oleh para mubalig-mubalig terutama Wali Songo. Meskipun pada awalnya, penyebaran agama Islam tidak melalui pidato dan ceramah di depan umum seperti yang berlaku sekarang ini. Besar kemungkinan penyebaran agama waktu itu ialah dengan perkumpulan-perkumpulan terbatas, bahkan dilakukan secara rahasia melalui empat mata, hingga menyebar dari satu orang kepada orang yang lainnya. Maka setelah itu, ketika pengikutnya mulai bertambah banyak, penyebaran mulai dilakukan secara terbuka. Yaitu dengan menjadikan rumah/kediaman mubalig sebagai tempat (pondok) dari para masyarakat/santri untuk belajar tentang agama dan berbagai persoalan kehidupan. Perkumpulan seperti ini, bagi masyarakat Jawa sebenarnya tidaklah asing, karena dalam tradisi Hindu-Jawa telah ada mandala-mandala (padepokan) sebagai tempat pembelajaran agama hindu, sama seperti pesantren yang mengajarkan tentang agama Islam. Salah satu dari mubalig yang merintis dan mendirikan pesantren pertama kali ialah Maulana Malik Ibrahim (Dewan wali sembilan yang paling tua).
Pesantren secara historis hingga hari ini, dapat berfungsi atas 3 hal. Pertama, sebagai pusat dakwah, yaitu penyebaran agama Islam (mengislamkan) seperti Wali Songo, kedua, pusat pendidikan dan pengajaran agama Islam, yaitu mengajarkan tentang berbagai disiplin ilmu yang ada dalam Islam seperti fiqh,tasawwuf, dan lain-lain, ketiga, pusat perjuangan, seperti di masa sunan Gunung Jati yang mampu membendung tentara Portugis hampir 1 abad, yang ingin memasuki (menjajah) wilayah Jawa dan perjuangan para kyai dan santri sebelum dan sesudah kemerdekaan.
Wahid Hasyim memang seorang yang lahir dan dibesarkan di pesantren,  beliau adalah putra dari hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari (pendiri pondok pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul ‘Ulama) dengan istrinya yang bernama Nyai Nafiqah, beliau lahir pada hari jum’at, 05 rabi’ul awal 1333 H/ 01 juni 1914 M di Jombang. Sosok dari seorang Wahid kecil mengenyam pendidikan pertama kali langsung dari ayahnya, hingga kemudian melanjutkan  pada beberapa pesantren tempat ayahnya dahulu nyantri (Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Lirboyo Kediri dll.) dan setelah itu beliau belajar ke Makkah. Sejak kecil, Wahid Hasyim dikenal sebagai sosok yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi  terhadap berbagai disiplin ilmu, pada usia 7 tahun beliau telah belajar beberapa kitab seperti fathul qarib, minhajul qawim, mutammimah. Dan ketika umur 15 tahun, ia mulai bersentuhan dengan berbagai majalah dan buku, seperti “penyebar semangat”,”daulat rakyat”, dan “panji pustaka”, sedangkan dari luar negeri ia berlangganan “ummul qura”,”shautul hijaz”,”al-latha’iful muswarah”,”kullusyai’in wad-dunya”, dan”al-itsnain”. Sejak itu pula, ia berlangganan majalah “sumber pengetahuan”, yang terdapat tiga bahasa di dalamnya, yaitu bahasa, Belanda, Inggris dan Arab. Bahkan dari kegandrungannya dalam  membaca, ia punya kesimpulan bahwa untuk menjadi seorang yang terpelajar harus membaca 5 jam sehari.
Setelah pulang dari Makkah, beliau membantu ayahnya di pesantren dengan mengajar dan mendirikan madrasah. Kyai Wahid menikah dengan putri KH. Bisri Sansuri yang bernama Nyai Solehah. Dengan istrinya ini, beliau dikaruniai 6 orang anak, Salah satunya adalah KH. Abdurrahman Wahid atau dikenal dengan Gus Dur. Beliau meninggal pada ahad, 19 april 1953 setelah satu hari sebelumnya megalami kecelakaan saat ingin menghadiri rapat NU dalam perjalanan antara Cimahi menuju Bandung.
Demikian kisah singkat tentang kehidupan Kyai Wahid semasa hidupnya. Untuk melengkapi pengetahuan kita dari pribadi beliau, tulisan ini sekedar ingin mengulas beberapa peran, perjuangan dan pemikiran beliau  tentang pendidikan,politik dan agama.
Pendidikan
Tidak sedikit yang menyebutkan, bahwa Wahid Hasyim adalah seorang pembaharu pendidikan pesantren pertama di Indonesia, karena banyak dari ide dan gagasannya dituangkan dalam membangun dasar-dasar atau pondasi pendidikan di negeri ini, terutama pendidikan yang berbasis pesantren (Pendidikan Islam).
Menurut Kyai Wahid, bangsa yang berhasil bukanlah bangsa yang dengan mentereng membangun jembatan, gedung dan lainnya, akan tetapi ialah dengan membangun manusianya (pendidikan). Membangun manusia sama seperti membangun peradaban, itulah maksud dari pendidikan. Tujuan dari pendidikan tiada lain ialah upaya untuk mencerdaskan (ilmu/otak) dan mengantarkan insan yang bertakwa (isi hati). Takwa yang dimaksudkan oleh kyai wahid adalah seperangkat nilai yang dapat mengangkat derajat kemanusiaan, seperti budi pekerti dan pandangan hidup/mental, jujur dan lain-lain. Dari dua entitas yang berbeda ini, (antara otak dan takwa) tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Karena   riwayat kemajuan otak manusia selama hampir dua ribu tahun ini menunjukkan naiknya kecerdasan, akan tetapi perkembangan ini justru menjadi instrumen untuk melakukan kejahatan dan kecurangan. Oleh sebab itu, dalam kondisi yang tak baik ini, dimana hanya kecerdasan yang dijunjung tinggi, maka takwa menjadi sebuah keharusan dalam pendidikan.
Dalam pelaksanaannya, upaya untuk tercapainya pendidikan yang ideal menurut kyai Wahid ialah, pertama, pada dasarnya, dalam lapangan pengetahuan tidak perlu ada perselisihan, perpecahan, diskriminasi  politik dan kungkungan keagamaan yang sempit. Dalam sejarah Islam sendiri, terdapat orang yang berbeda keyakinan dan agama yang mendapat posisi strategis dalam pemerintahan Islam. Semisal, dokter khalifah Harun al-Rasyid yang beragama Nasrani. Selain itu, kepala gedung perpustakaan khalifah Makmun juga beragama Nasrani, dan banyak lagi kedudukan terpenting diserahkan kepada orang-orang di kalangan muslim. Termasuk perkembangan dunia modern ini, banyak ahli matematika, otomotif, sosiologi dan lain-lain yang tidak beragama Islam, namun tidak ada salahnya jika kita belajar kepada mereka yang ahli di bidangnya, dengan catatan selagi tidak akan menimbulkan pengaruh terhadap keyakinan keagamaan umat Islam sendiri. Kedua, untuk memajukan pengajaran dan pendidikan, maka harus dilengkapi dengan semangat membaca dan berorganisasi. Ini pernah ia implementasikan ketika di madrasah Nizamiyah Tebuireng. Ketiga, dari tiap-tiap lapangan pendidikan, harus dapat melatih diri untuk menjadi manusia yang jujur, mandiri, dan berbudi pekerti yang luhur.
Di masa Nabi Muhammad, dalam mengapresiasi pendidikan telah ia praktekkan, seperti pengangkatan gubernur (pernah menjadi budak), hakim dan panglima tentara karena integritas dan pengetahuan atau keahliannya. Dari uraian di atas, tujuan pendidikan bagi kyai Wahid ialah menjadikan manusia yang berkepribadian, berilmu dan bertakwa. Mengutip pendapat Edinson, kyai Wahid mengatakan bahwa, untuk mencapai cita-cita ideal itu, hanya dapat diperoleh dengan keringat (usaha) 99 persen dan otak 1 persen.
Di bawah ini, beberapa peran langsung kyai Wahid semasa hidupnya, baik ketika sebelum dan sesudah kemerdekaan. Pertama, pada tahun 1935, ia mendirikan madrasah Nizamiyah di pesanten Tebuireng. Di masa ini, madrasah yang ia dirikan bercorak modern. Karena pembelajarannya juga memuat mata pelajaran pendidikan Eropa. seperti bahasa Inggris,Belanda,ilmu hitung dan lain-lain. Lebih dari itu, pendidikan harus dilengkapi dengan penanaman spirit nasionalisme. Meskipun pada prinsipnya, tradisi keilmuan salaf harus tetap dipertahankan untuk menjaga identitas pendidikan pesantren. Kedua, tahun 1938, ia ukut aktif di kepengurusan Ma’arif PBNU. Di tempat pengabdian yang baru ini, kyai Wahid banyak melakukan reorganisasi terhadap pendidikan madrasah di bawah naungan NU di seluruh Indonesia, dengan memberikan pelajaran-pelajaran seperti di madrasah nizamiyah yang ia dirikan sebelumnya. Ketiga, setelah menjadi menteri agama pada masa pemerimtahan RIS (Republik Indonesia Serikat), kyai Wahid mulai melakukan langkah positif, yaitu dengan memasukkan pelajaran agama di sekolah negeri, mengajarkan pelajaran umum di sekolah madrasah dan ia mendirikan perguruan tinggi Islam negeri di bawah kementrian agama.
Politik
Bagi seorang pejuang seperti kyai Wahid, politik bukanlah tujuan. Karena politik hanya sebagai jalan untuk tercapainya kemaslahatan bagi umat, agama, bangsa dan negara. Pemikirannya yang sangat mendasar tentang politik ialah, bahwa politik harus  tunduk kepada pengetahuan. Demikianlah, kyai Wahid menjelaskan politik di masa awal lahirnya Islam, yaitu dengan tidak menundukkan pengetahuan pada politik (menghalalkan segala cara supaya dapat dibenarkan), tetapi sebaliknya mendudukan politik dengan berpayungkan pengetahuan (berpolitik dengan ilmu). Misalnya, politik dimasa Nabi Muhammad SAW hingga para sahabat, dimana negara maupun komunitas masyarakatnya dapat menjunjung tinggi peradaban (keadilan, menghargai perbedaan, menolak penindasan dll) dikarenakan ilmu yang menjadi pedoman dalam berpolitik demi tercapainya kebaikan-kebaikan.
Begitu pula dalam konteks Indonesia setelah merdeka, pada tahun 1950an kyai Wahid meletakkan dasar politik dari Kementerian Agama RIS, antara lain ialah melaksanakan program yang bercorak politik keagamaan dari dasar kolonial (barat) kepada dasar nasional, serta mendorong berkembangnya paham Ketuhanan Yang Maha Esa di segala lapangan kehidupan masyarakat. Langkah kongkrit kyai Wahid ketika menjadi Menteri Agama ialah memperjelas fungsi Kementerian Agama dalam pemerintahan Republik Indonesia. Menurutnya, Kementerian yang ia pimpin merupakan pendukung dan pelaksana utama dari azaz Ketuhanan Yang Maha Esa, yang termasuk dalam falsafah negara “pancasila”. Misalnya, memberikan kemerdekaan kepada setiap warga negara untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya, pelayanan terhadap publik (haji,tempat ibadah, perwakafan dll), toleransi serta semangat gotong royang, seperti dalam  program kementrian agama RIS tanggal 16 januari 1950 dan peraturan pemerintah no. 33 tahun 1949 serta no. 08 tahun 1950. Kyai Wahid menambahkan tentang pedoman prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, bahwa sila pertama dalam Pancasila menjadi unsur utama. Artinya, sila kemanusiaan, persatuan (kebangsaan), permusyawaratan (kedaulatan rakyat) dan keadilan sosial tidak dapat dilepaskan pada unsur Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sumber etik-moral.
Sebenarnya sejak sebelum proklamasi kemerdekaan, kyai Wahid telah ikut ambil peran dalam perjuangan Indonesia bersama para tokoh-tokoh lain. Ia termasuk anggota BPUPKI, PPKI, hingga terbentuknya pemerintahan, yaitu menjadi meteri negara dan menteri Agama.
Agama
Sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan di dunia pesantren, sejak kecil kyai Wahid telah di didik dan dibekali pengetahuan agama Islam. Kekayaan ilmu dan kemuliaan akhlaknya inilah yang mengantarkan ia menjadi sosok yang disegani oleh lawan dan di hormati oleh kawannya. ia banyak memeberikan suntikan pemikiran yang mencerahkan umat, seperti memahami agama Islam secara mendasar, refleksi kenabian, dan lainnya.
Di bawah ini rangkuman dari pemikiran kyai Wahid tentang agama Islam. Pertama, Islam perlu dipahami sebagai agama yang membawa misi universal bagi kepentingan seluruh alam semesta dan bukti kebenaran juga ada pada Islam. Oleh karena itu, ia menganalogikan Islam sama seperti tanaman (bibit) yang kuat dan subur, karena ditempat  turun pertama (tempat gersang dari nilai spiritual dan moral di masa Jahiliyah) itulah Islam terus berkembang dan mampu membangun peradaban bagi komunitas masyarakat arab dan sekitarnya. Menurut kyai Wahid, Islam menjadi subur karena selaras dengan
obiyshinichiart
KH. A. Wahid Hasyim; Perjuangan dan Pemikiran tentang Pendidikan, Politik dan Agama KH. A. Wahid Hasyim; Perjuangan dan Pemikiran tentang Pendidikan, Politik dan Agama Reviewed by Redaksi on Oktober 21, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar