Cerpen: Tentang Pelangi





Siapakah yang tak menyukai warna yang tersusun dengan warna-warna pilihan sehingga indah dipandang mata, lalu orang-orang menamainya pelangi, menunggunya di setiap gerimis mereda, dan bercerita panjang kepada keluarganya tentang keindahannya yang tak pernah membosankan? Sayangnya, mereka selalu menutup mata saat pelangi berubah warna. Mereka tak pernah menghargai kenangan, padahal kenangan adalah keindahan, bukan untuk dilupakan.
(Jeans Tollenar XII)

“Anakku, ini sudah malam, masuklah ke dalam kamar, berbaringlah di atas ranjang dan terlelaplah dengan tenang. Tak perlu kau duduk termangu sendiriaan di luar, karena ini sudah malam. Lihatlah di seberang jalan sana! Pintu-pintu rumah sudah tertutup rapat, lampu kamarnya telah padam, pastinya mereka sudah terlelap bersama mimpi atau sedang bercumbu mesra bersama keluarga. Anakku! Marilah masuk ke dalam kamar sambil menikmati hangat dalam jiwa.”


Suara itu terdengar begitu nyaring yang ditujukan kepada perempuan yang sedang duduk menyendiri di tengah gelapnya malam.

“Aku masih belum lelah dengan semua ini, Ibu. Sudahlah, biarkan aku di sini sendirian menanti harapan yang akan mendatankan kebahagiaan. Tak perlu kau menyuruhkku masuk ke dalam kamar, karena di dalam kamar takkan pernah ada perubahan, sama saja. Takkan pernah ada keindahan, mungkin saja berantakan.”

“Tidak, Anakku! Semuanya telah Ibu rapikan, yang kau pinta telah terkabulkan. Di sana juga Ibu sediakan air zam-zam agar pikiranmu kembali jernih. Masuklah, Anakku! Nanti kau hilang ditelan petang. Kalau kau tetap di sini kau pasti basah kuyup. Sebab hujan akan segera turun dengan deras, deras sekali.”

“Sungguh? Ibu yakin hujan akan segera turun? Syukurlah! Aku sedang menanti hujan.”

Perempuan itu memang sengaja menanti datangnya hujan.

“Sejak kapan kau suka pada hujan, Anakku? Bukankah kemarin kau bilang hujan seperti air mata, hanya menguras kenangan indah dan merampas ketenangan jiwa? Sudahlah, tak perlu kau bohongi dirimu sendiri. Jika hatimu sudah berkali-kali berkata tidak kenapa mulutmu kau paksakan berkata iya? Itu menyakitkan, Anakku!”

“Aku tak suka pada hujan, tapi aku suka pada gerimisnya! Seperti intan permata. Juga yang aku tunggu keindahan pelangi yang hadir setelah gerimis. Lalu, aku akan memungut sisa-sisa gerimis untuk membasuh warna pelangi yang hampir buram.”

“Warna takkan pernah buram dimakan musim juga takkan pernah hilang dihempas peradaban. Kau tak perlu memungut gerimis, juga kau tak perlu berlama-lama menanti pelangi. Sebab sekarang sudah petang, kau tak mungkin melihat pelangi di malam hari. Gunakan kepandaian akal pikirmu, jangan kedepankan emosimu. Ibu tak ingin kau gila, Anakku! Kaulah anakku satu-satunya, jangan berbuat yang aneh-aneh. Sudahlah, masuklah ke dalam. Nanti kau gigil gedinginan.”

“Ibu! Kau tak pernah tahu tentang pelangi yang aku tunggu. Jadi kau tak perlu ikut campur urusanku. Toh, tubuhku takkan pernah mengenal dingin.”

“Pelangi sebagian dari masa depan, Ibu! Aku duduk di sini sama halnya berproses untuk meraih masa depan,” lanjut perempuan itu lagi, tetap mempertahankan keyakinannya.

“Benarkah pelangi sebagian dari masa depan? Pelangi dengan warna apa yang kau tunggu, Anakku? Apakah dengan warna keemasaan atau pelangi tanpa warna? Sayangnya, kau berusaha melihat pelangi dengan cara yang salah. Kau tidak bertanya terlebih dahulu, kau tidak berguru, nyatanya kau hanya menunggu!”

“Bukankah sudah berkali-kali aku minta petunjuk pada guruku? Tapi dia selalu diam, tak mau menjawab pertanyaanku. Memilih pasrah pada kenyataan. Sehingga aku bosan untuk selalu bertanya. Apa gunanya bertanya jika tak menghasilkan jawaban? Sekarang pertanyaan tak bisa dibeli, kalau bisa, pastinya sangat mahal. Lantas, siapa yang paling bersalah, Ibu? Aku ataukah guruku?”

Perempuan itu menampakkan wajah putus asa.

“Kau terlalu bodoh menganggap pelangi sebagian dari masa depan. Kau harus berguru lagi agar tidak terperangkap dengan pemikiran orang lain. Seharusnya kau tidak hanya bertanya satu kali! Bukan hanya pertanyaan yang mahal tapi jawaban jauh lebih mahal. Maka, jangan sekali-kali bosan untuk bertanya!

“Sudahlah, Anakku. Tak perlu kau berharap yang buan-bukan, lebih baik kau tidur!”

“Tak perlu kau bersedih, Anakku. Nanti akan Ibu hadiahkan pelangi untukmu.”

Ibunya berkata sambil tersenyum.

“Benarkah, Ibu? Ibu berjanji akan menghadiahkanku pelangi? Pelangi dengan warna apa yang akan Ibu hadiahkan kepadaku? Apakah pelangi dengan warna emas ataukah pelangi dengan warna kebiru-biruan? Tapi, aku masih belum yakin dengan apa yang telah Ibu janjikan. Sebab, sepanjang sejarah tak seorang pun dapat mengambil pelangi. Bahkan sejarah telah mengabadikan bahwa ada dukun sakti dengan mantra guna tak sanggup menghadiahkan pelangi untuk pembantunya yang sangat menyukai pelangi. Maafkan aku, Ibu! Bukan maksud hati ingin menyakiti perasaanmu. Hanya saja, itu adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin.”

“Ada apa dengan dirimu, Anakku? Kau boleh tak percaya terhadap apa yang ibu katakan. Tapi, Ibu akan berusaha dengan cara apapun agar apa yang kau inginkan terpenuhi.”

“Masuklah ke dalam kamar, Anakku! Berbaringlah dengan tenang lalu terlelaplah bersama mimpi yang menjadi harapan dan bangunlah di saat pelangi datang memelukmu!”

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, tiba-tiba sebentang pelangi muncul di hadapan mereka. Pelangi yang indah dan menawan. Pelangi dengan warna-warna cemerlang, yang cahayanya mampu menembus malam. (*)

Cassino King B/26, Januari 2020

Moh. Jamalul Muttaqin, Menghirup udara pertama di Desa Longos Kecamatan Gapua dan merupakan alumni MTs. Nurul Anwar Andulang Gapura. Sekarang Nyantri di PP. Annuqayah Daerah Lubangsa dan Melanjutkan studinya di MA 1 Annuqayah kelas XII IPS 1. Aktif di organisasi IKSTIDA, PASRA, OSIS, DPS, Komunitas KOMPAS, sekaligus Pem-Red Mading Xty.
Cerpen: Tentang Pelangi Cerpen: Tentang Pelangi Reviewed by takanta on Februari 16, 2020 Rating: 5

Tidak ada komentar