Resensi: Kambing dan Hujan

 


Membangun Kesadaran Intelektual Dan Perdamaian Antar Ormas Islam

Oleh: Kholil Rohman

Novel “Kambing dan Hujan” karya Mahfud Ikhwan ini merupakan sebuah karya yang benar-benar berani menyentuh tataran lokalitas keagamaan. Hal ini terbukti dari struktur cerita yang secara menyeluruh membahas tentang bagaimana persinggungan antara Organisasi Masyarakat (Ormas) Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Beragam perbedaan dua golongan tersebut menjadi sumber pemicu konflik yang dikemas menjadi dialog-dialog tokoh, sudut pandang, dan peristiwa-peristiwa yang sangat dekat dengan realita sehari-hari.

Uniknya, novel yang diterbitkan Bentang Pustaka ini juga membawa misi asmara yang juga bersangkut-paut dengan masalah masa lalu keluarga. Masalah yang bermula dari perpisahan dua sahabat kecil karena kepentingan untuk menuntut ilmu. Dua sahabat itu adalah Moek (Pak Fauzan) dan Is (Pak Kandar) yang kemudian dari dua orang itulah, garis batas dan perbedaan amaliyah antara NU dan Muhammadiyah dimulai. Pastinya, perbedaan tersebut yang nantinya menimbulkan banyak konflik yang semakin merenggangkan hubungan keduanya.

Jauh sebelum kelahiran Mif dan Fauzia sebagai sepasang kekasih, kedua orang tua mereka adalah sahabat dekat yang dipertemukan melalui peristiwa lolosnya beberapa anak kecil dari wabah kolera pada tahun 50-an. Selain itu, sebagai anak desa yang jauh dari gedung bertingkat, dan zaman yang masih serba terbatas, keduanya menekuni pekerjaan mengembala kambing untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kehausan keduanya akan ilmu pengetahuan. Sungguh, di fase yang masih serba sulit di zaman dulu, dalam novel ini, Is (Pak Kandar masa kecil) dan Moek (Pak Fauzan) masa kecil sudah menunjukkan gairah semangat belajarnya. Sehingga, tak heran jika uang hasil penjualan kambing mereka digunakan untuk membeli banyak kitab.

Beranjak ke zaman serba modern seperti saat ini, tentu sikap Moek dan Is di masa lalu adalah tamparan keras bagi generasi teknologi yang sepatutnya dapat menjadi insan intelektual yang lebih keren dibanding generasi tua. Melalui gadget dalam satu genggaman, semua informasi bisa diakses dengan mudah dan cepat, belum lagi hadirnya banyak aplikasi dan media sosial yang mendukung tambahan khazanah bagi siapa saja. Tanpa perlu merepotkan waktu, tempat, dan keadaan.

Faktanya, penulis memandang keadaan yang terbalik dari narasi di atas. Anak muda zaman sekarang lebih banyak terdistrak oleh aplikasi atau akses yang mengarah pada nuansa hiburan. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain game online, scroll media sosial yang kurang bermanfaat, bahkkan yang lebih parah lagi adalah melakukan tindak kejahatan melalui majunya teknologi. Oleh sebab itu, perlu adanya kesadaran kolektif untuk memperbaiki dan membangun kembali semangat belajar dari generasi zaman sekarang.

Jauh beberapa tahun kemudian, Mif dilahirkan sebagai anak Pak Kandar yang berada di kubu utara (Muhammadiyah) dan Fauzia sebagai anak Pak Fauzan dari kubu selatan (NU). Melalui alur yang apik dan alasan yang logis, keduanya dipertemukan. Berlanjut pada komunikasi yang lebih serius, keduanya pun saling mencintai dan akhirnya mengetahui latar belakang dari pihak keluarga masing-masing. Apalagi kedua orang tua mereka adalah tokoh masyarakat di masing-masing kubu.

Tentunya, perkara di atas tidaklah mudah bagi “Mif” (tokoh romance) untuk mempertahankan dan memperjuangkan cintanya terhadap “Fauzia” yang secara jelas berada di kubu lain. Mif yang terlahir sebagai pemuda Muhammadiyah, harus bersabar menghadapi beragam tantangan yang tidak hanya datang dari pihak luar, tapi juga dari pihak internal keluarga yang menyimpan masa lalu yang cukup rumit. Bagaimana tidak rumit, jika perdebatan tentang banyak hal di masa kecil, saat masih dalam masa-masa bermain, terus berlanjut menjadi perdebatan tentang agama yang membuat Pak Kandar (orang tua Mif) dan Pak Fauzan (orang tua Fauzia) harus saling melawan. Belum lagi fakta tentang Ibu dari Fauzia yang dulunya ditaksir oleh Pak Kandar.

Sampai pada suatu ketika, Fauzia berada di titik lemah untuk menghadapi beragam rintangan yang ada. Ia pun mengajak Mif untuk kabur dan membangun kehidupan baru meski tanpa restu kedua orang tua. Hebatnya, Mif mampu menyadarkan dan kembali menguatkan Fauzia untuk berjuang bersama. Mif pun menolak tawaran kabur dari Fauzia dan mengajaknya kembali pulang ke rumah. Meski resiko buruk sudah jelas berada di depan mata. Dari sana, sikap yang ditunjukkan Mif mengajarkan pembaca untuk menjadi laki-laki yang kuat, tidak mudah menyerah, dan menghormati keluarga. Lebih-lebih Bapak-Ibu sebagai sebab lahirnya anak ke dunia. Tentunya, masih banyak tokoh dan peristiwa lain yang saling berkaitan dan mengokohkan keutuhan cerita.

Cerita yang kaya konflik, alur maju-mundur, dan keterkaitan antar banyak tokoh ini, akhirnya mampu menyatukan kisah cinta Mif dan Fauzia dalam mahligai pernikahan. Hal ini menjadi awal dari perdamaian dua golongan yang sempat saling membenarkan golongan sendiri dan menyalahkan pihak lain. Sungguh, kekuatan cinta telah berhasil merobohkan tembok keangkuhan yang ada di antara dua ormas islam tersebut. Bukankah akan sangat merugi bila sesama agama islam, yang hanya berbeda pendapat di masalah furu’iyah (cabang) malah saling menghancurkan satu sama lain?

Berdasarkan novel yang ditulis oleh Pememang Sayembara Novel DKJ tahun 2014 ini, seluruh masyarakat islam seyogyanya sadar untuk kembali menguatkan semangat belajar sebagaimana dicontohkan oleh Pak Kandar dan Pak Fauzan di masa kecil. Selain itu, menjaga kerukunan antar golongan juga sangat penting untuk menciptakan perdamaian islam di masa depan. Sebagaimana dicontohkan oleh Mif dan Fauzia melalui pernikahan keduanya.  

 

Judul: Kambing dan Hujan

Penulis: Mahfud Ikhwan

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal: 379 halaman

Terbit: Januari 2023

 

Tentang penulis

Kholil Rohman – Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep. Tulisannya dimuat di berbagai media. Saat ini bermukim di Kota Batu dan menjadi Murabbi di Ma’had Sunan Ampel al-Aly (MSAA) UIN Malang.

Akun media sosial: Kholil_rohmann

Resensi: Kambing dan Hujan Resensi: Kambing dan Hujan Reviewed by takanta on April 05, 2023 Rating: 5

Tidak ada komentar