Cerpen: Perempuan Bayang




“Maaf, Pa. Lea nggak sengaja.” Lelaki bertubuh kekar itu tidak peduli. Disiramkannya kopi panas pada tubuhku yang hanya memakai kaos pendek. Aku berjengit menahan tangis. Bahkan luka bekas pukulan papa kemarin belum kering. Perih rasanya. Aku yakin besok kulitku akan melepuh.

Jangan menangis, Lea. Tangisanmu mengundang badai yang lebih besar.

***

Baiklah. Aku memang tidak suka pada cahaya. Membenci. Bahkan mengutuknya. Gelap adalah candu yang memabukkan. Hingga aku terbuai, terlena dan begitu memujanya. Gelap adalah kekuatan yang takkan pernah kau duga.

“Jangan hidupkan lampunya,” ucapku datar saat pintu ruangan berdecit.

“Sarapanmu.”

Aku hanya diam. Hingga ia meletakkan makanan di atas meja sebelah kasurku. Ingat, kasur. Tanpa ranjang.

Setelah ia pergi, aku menghela napas. Ah, sialnya harus kuakui ia mamaku. Lebih tepatnya mama tiri karena aku tak pernah tahu ke mana ibu kandungku sebenarnya. Memang sekaku itu percakapan di antara kami. Namun aku suka. Tanpa banyak kata. Tanpa banyak tingkah.

Aku, perempuan dalam kegelapan. Jangan pernah membicarakan cahaya padaku. Cahaya sudah tenggelam di sore itu.

***

“Ayahmu ingin bicara,” ucap Mama. Aku tetap diam berbaring membelakangi mereka. Persetan dengan tata krama.

“Saya akan mengumumkan kematianmu besok. Jadi, saya harap kamu jangan menunjukkan diri di depan khalayak umum.” Suara Ayah. Datar. Sedatar ekspresinya.

Tak ada air mata yang mengalir. Walaupun sesak, bulir-bulir itu tak mau untuk sekadar hinggap di mataku. Aku wanita. Dan aku tak pernah lagi menangis seperti mereka pada umumnya.

“Kau dengar perkataan Ayahmu, Nalea!” bentak mama melihatku masih saja diam.

“Iya.” Cukup satu kata. Ayah pasti tersenyum lebar di sana. Sedangkan mama berdesis marah. Biasalah, dia sang ratu drama. Mencari muka di hadapan ayah. Menurutnya, aku itu kurang ajar. Dan aku tak peduli. Toh ayah biasa-biasa saja. Aku hanya bersyukur saat ini masih diperlakukan seperti manusia.

Mereka bodoh. Untuk apa repot-repot membicarakan hal tak ada gunanya seperti itu. Walaupun rasanya menyakitkan, aku dengan sukarela menutup diri dari dunia. Ah, bahkan dunia pun tak ingin menampakkan diri padaku. Waktuku hanya diisi detik-detik menuju kematian. Mari tertawa. Tak usah pikirkan perihal luka. Dalam gelap, kau akan kuat dengan sendirinya.

Ini gila bukan? Ya, anggap saja aku gila. Dan nyatanya aku memang sudah gila. Ada saatnya mungkin mereka mempunyai rencana memasukkanku ke rumah sakit jiwa.

“Sabarlah, Nalea. Kau pasti akan abadi menyetubuhi gelap. Saat ini mari kita bermain-main dulu bersama dunia.”

***

Masih di ruangan yang sama, pembahasan yang sama. Jika kau muak membaca ini, sudahi saja. Aku tak ingin bertanggung jawab dengan kernyitan di dahimu. Pun sumpah serapah mengomentari ketidakjelasan ini dan itu.

Kau mungkin bertanya-tanya apa alasan di balik keobsesianku terhadap gelap. Yang pasti seiring berjalannya cerita kau akan paham. Luka apa yang kualami. Luka apa yang menjadikanku perempuan teguh hati. Karena sejatinya luka akan membuatmu lebih kuat, bukan? Dan gelap bisa mengajarkan bagaimana berjalan tanpa cahaya, ilmu yang tak ada teorinya.

“Sebenarnya kamu cantik, Nalea.” Entah kenapa perkataan Ari tiba-tiba hadir. Lelaki berkacamata yang mempunyai nama lengkap Matahari itu satu-satunya temanku pada masa-masa yang singkat di SMA. Ah, apa kabar dia sekarang. Semenjak kejadian itu aku pun sudah tak bisa menghubungi siapa-siapa. Benar-benar sendiri merawat luka.

“Siapa yang kau bilang cantik? Kau buta?” Aku tertawa. Hambar. Hampir tak percaya diri dengan diriku sendiri. Hitam. Bodoh. Pemarah. Kata mama yang selalu diulang-ulang; aku adalah kutukan di keluarga. Suka mengamuk dengan melempari segala sesuatu hingga pecah. Monster yang menakutkan.

Puncaknya aku berada di sini. Di ruang pengap tanpa jendela maupun celah masuk udara lainnya. Aku dituduh memukuli anak rekan bisnis papa di sekolah. Proyek kerja sama batal dan harus menanggung kerugian yang tak sedikit. Aku menjadi sasaran kemarahan. Walaupun sudah biasa mendapat kekerasan fisik dan mental dari kecil, masa itu adalah masa yang sangat membuatku terpuruk. Sedangkan aku tak mengingat apa-apa kecuali Matahari meminjamkan jaketnya untuk menutupi seragamku yang terdapat noda darah.

“Bukankah hidup seharusnya kita isi dengan hal-hal indah dan berguna?” Ah, suara itu lagi. Kenapa ia harus kembali datang? Kepalaku pening mendengar ocehannya.

“Pergilah, Dalea! Kau tak perlu ikut campur!”

Tanpa sadar aku melemparkan piring dan gelas bekas makan. Menjambak rambut kumal berharap suara itu hilang. Dia menyakitiku. Kupukuli kepala seiring denyutan yang semakin menusuk.

“Oh ayolah. Kau masih punya kesempatan untuk bahagia, Nalea. Biarkan aku yang melakukannya. Serahkan saja padaku.”

Bahagia? Aku ingin muntah mendengarnya.

“Nyamanlah bersama kepribadianmu yang ceria, Nalea. Jangan kau cumbui luka-luka itu.” Ari menatap mataku dalam. Kulihat di kedalaman matanya terdapat cahaya. Dialah Matahari. Satu-satunya cahaya yang melingkupi hari. Dialah Matahari. Dalam waktu yang tak lama namanya sudah punya ruang sendiri pada dimensi hati. Dialah Matahari. Dan sekarang sudah tak dapat kutemui lagi.
Bagaimana kembali menghadirkanmu, Dalea? Aku sudah putus asa.

***

“Apa kau tidak risih berteman denga nku, Ri?” tanyaku pada Ari saat istirahat pertama. Aku yang tak nyaman berada di tengah keramaian selalu membawa bekal daripada berdesakan di kantin. Lalu menyantapnya di belakang sekolah ditemani embusan angin dan Matahari.

“Why? Kenapa kamu bilang gitu, Nalea?” Gerakan Ari yang hendak menyuap nasi goreng buatanku tiba-tiba terhenti. Setiap hari aku memang memasak untuk diriku sendiri. Mereka tak pernah peduli.

“Aku ini termasuk orang yang aneh. Aku yakin kau paham dengan apa yang aku maksud. Malah terkadang aku tak bisa mengenali atau mengendalikan diriku sendiri. Ah, apa yang sudah aku lakukan tadi pada Aisyila?”

Ari menghela napas. Sudah kuduga sedari tadi dia hanya berusaha tenang setelah apa yang kulakukan. Apalagi dengan sesuatu yang bersembunyi di balik jaket kebesaran yang kugunakan.

“Ini bukan sepenuhnya salahmu, Lea. Lingkungan yang menjadikanmu seperti ini. Kau adalah akibat dari apa yang mereka perbuat.”

***

Kau masih tak mengerti alur hidupku ini? Jika sudah, selamat. Kau termasuk orang-orang yang suka membaca buku atau beruntung dapat mengetahuinya. Jika tidak, maka juga selamat. Cerita ini tambah tak mempunyai makna. Dan aku suka.
Akupun sebenarnya tak bisa menyimpulkan dengan akurat apa yang terjadi terhadap diriku. Nah, kau boleh menghujat pada bagian ini. Lantas bagaimana pembaca bisa paham jika aku juga tak terlalu paham saat menuliskannya? Atau begini saja, anggap ini adalah teka-teki agar kau sedikit mau membaca dan berpikir masalah psikologi mana yang aku alami.

Dan biarkan aku kembali memperkenalkan diri sebagai penutup cerita membosankan ini. Aku, perempuan dalam gelap. Benar-benar gelap. Tak ada yang memperkenalkan cahaya padaku semenjak Matahari sudah tak bisa kutatap. Tak ada yang bisa kulakukan selain berdiam di sini; ruangan pengap.

Semua yang menyangkut hidupku adalah gelap. Mungkin kau bosan dengan terlalu banyaknya kata itu pada cerita ini. Dan aku tak peduli. Aku hanya ingin menekankan bahwa diri ini benar-benar kesulitan bernapas setiap kali rapuhku bertandang.

“Dasar anak setan!” Masih bisa kurekam jelas perkataan papa. Setelahnya ia melemparkan gelas ke tembok samping kepalaku. Lalu semua gelap. Pecahan gelas itu mengenai kornea mata. Aku tak ingin menjelaskan detailnya di sini. Karena aku tak sedang menulis cerita jenis Creepypasta. Cukup kau bayangkan saja bagaimana kejadian dan banyaknya darah yang menetes.

Dua orang itu adalah psikopat gila. Menyakiti pelan-pelan dan tak membiarkanku mati sekalian. Jeritku adalah tawa mereka. Air mataku adalah semangat untuk semakin menyiksa. Dan aku sudah terbiasa. Sudah paham bagaimana teorinya agar mereka kesal dan bosan. Cukup diam. Mereka akan berhenti menghujam.

“Tanamkan sugesti bahwa setiap permasalahan pasti menemukan jalan keluar, Nalea. Tanamkan sugesti kalau kau mampu meraih cahaya-cahaya. Tanamkan sugesti kalau kau pasti bahagia. Dan jika aku boleh meminta, tanamkan kepercayaan dalam hati kalau Tuhan selalu bersama kita dan tak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambanya.” Suara ini...

“Matahari...,” lirihku. Apakah aku berhalusinasi?

“Iya, Nalea. Aku di sini menjemputmu. Mereka sudah di dalam kurungan besi.”

***

Tapi untuk kesekian kalinya, aku juga tak tahu pasti apa yang kualami ini benar-benar terjadi atau tidak. Banyak hal yang tak bisa diprediksi. Termasuk kenangan-kenangan dalam separuh jiwaku yang hilang.

“Biarkan aku juga mengambil peran, Nalea.”

Sepertinya, Dalea akan menulis kisah dari sudut pandangnya juga. Tunggu saja.

Ulfa Maulana, Kelahiran Situbondo 12 Juli 2002.
Cerpen: Perempuan Bayang Cerpen: Perempuan Bayang Reviewed by takanta on Agustus 25, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar